
"Sayang, kaos kakiku di mana?" teriak Reza sibuk mengobrak-abrik laci yang ada di dalam lemarinya.
"Di laci lemari sebelah kiri paling bawah, Sayang!" teriak Liontin.
Reza masih terus berusaha mencari. Akan tetapi, dia tidak berhasil menemukan apa yang ia cari. Reza mendengus kesal kemudian mengacak rambutnya frustrasi.
"Sayaaang! Nggak ketemu, nih! Tolong carikan, dong!" Reza kembali berteriak dengan nada manja.
Di dapur, Liontin yang sedang sibuk menyiapkan sarapan langsung mematikan kompor, melepas celemek, dan setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Setelah sampai kamar, perempuan itu dibuat hampir meledak karena melohat kekacauan yang dibuat Reza.
Hampir seluruh isi lemari keluar dari tempatnya. Handuk basah yang tergeletak begitu saja di atas kasur, lipatan tumpukan baju yang sudah acak-acakan, dan satu hal lagi yang paling ia benci. Ya, pakaian kotor yang dibuang asal ke sudut kamar.
"Astaga, Kak! Kenapa bisa jadi sekacau ini?" Liontin mengusap wajahnya secara kasar.
Reza tersenyum konyol kemudian berkata, "Maaf, Sayang. Habisnya kamu terlalu rapi menyimpan semuanya, jadi ...."
"Jadi, aku yang salah?" Liontin mencembikkan bibir dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mati, aku! Salah ngomong!
__ADS_1
Reza menepuk jidat kemudian menepuk pelan bibirnya berulang kali. Lelaki itu langsung menghampiri sang istri kemudian memeluk tubuh rampingnya.
"Cup ... cup ... nakal, ya, bibirku! Maaf, ya. Nih, kukunci biar nggak asal ngomong lagi! Kamu yang bawa kuncinya, ya?"
Reza melepaskan pelukannya, membuat gerakan memutar di depan bibir dengan jari-jarinya layaknya memutar kunci. Kemudian, dia menyodorkan tangan kosongnya kepada Liontin.
Tawa Liontin pecah melihat sikap konyol Reza. Ya, selama empat tahun menikah, Reza selalu berupaya untuk membuat ia selalu tersenyum. Reza juga teramat sabar menghadapi sikap Liontin yang kadang meledak-ledak. Liontin menghambur ke pelukan Reza. Dihirupnya aroma musk dan mint yang menguar dari tubuh lelaki itu.
"Sayang, terima kasih, karena sudah berusaha membuatku bahagia. Maaf jika belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
"Sssttt ... ngomong apa, sih, kamu? Sudah menjadi kewajibanku untuk membuatmu selalu tersenyum. Aku akan menjadi orang paling berdosa jika membuatmu mengeluarkan air mata barang setetes. Kecuali ...." Reza merangkum wajah cantik sang istri kemudian tersenyum lebar.
...****************...
Suara deru mesin kendaraan menambah lalu lintas pagi yang padat menjadi semakin kacau. Liontin berulang kali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 07:22, sebentar lagi jam masuk Makutha.
"Pak, bisa lebih cepat? Kita motong jalan aja, bisa?" tanya Liontin kepada Pak Rudi.
"Nggak bisa, Bu."
__ADS_1
"Bunda, Utha mau pipis!" seru Makutha sambil merapatkan kaki untuk menahan panggilan alam yang ia rasakan.
"Utha sayang, sebentar, ya? Lima menit lagi, kita sampai!"
"Tapi Utha udah nggak tahan, Bun," rengek Makutha dengan mata mulai berkaca-kaca.
Liontin menoleh ke kanan dan kiri jalan. Beruntungnya, dia mendapati sebuah pom bensin tak jauh dari sana.
"Pak, aku anter Makutha ke pom bensin seberang, ya? Pak Rudi nanti susul kami di sana bisa?"
"Baik, Bu."
Liontin bergegas keluar dari mobil, kemudian menyeberang sambil menggendong Makutha. Saat tinggal selangkah sampai pom bensin, ia dikejutkan dengan suara klakson mobil yang begitu keras. Sebuah truk bermuatan sepeda motor melaju begitu kencang ke arahnya.
Sang kondektur melambaikan tangannya sambil berteriak, "Minggir! truk ini remnya blong!"
Liontin terbelalak. Kakinya seakan terpaku di atas aspal. Semakin lama, truk itu semakin dekat. Liontin memejamkan mata erat-erat tidak ingin melihat nasib buruk yanh sebentar lagi akan menghampirinya.
Tuhan, aku pasrah dengan garis takdirmu ....
__ADS_1