
Hasna mengemasi barang yang akan ia bawa untuk study tour ke Bali. Kelas XI yang naik ke kelas XII akan liburan ke Pulau Dewata pada awal masa liburan. Sebenarnya Hasna enggan mengikuti kegiatan itu. Namun, Bintang dan juga Liontin mendesaknya.
Keduanya sanggup menjaga Wahyu selama mereka liburan. Toh, hanya 3 hari dua malam. Mereka bisa bergantian menjaga Wahyu yang hingga saat ini tidak mengalami progres lebih baik. Justru beberapa kali kondisinya kembali menurun.
Gedung Rumah Sakit itu seperti rumah baginya. Para staf bahkan begitu baik kepada Hasna. Mereka peduli terhadap nasib gadis itu. Hasna tersenyum simpul ketika kembali mengingat bahwa banyak sekali orang yang sangat baik terhadapnya.
Ponsel yang ia letakkan di atas meja bergetar, tanda ada pesan masuk. Hasna menghentikan aktifitas, lalu meraih benda pipih tersebut, dan menggulir layarnya. Sebuah pesan dari Cio membuat gadis itu tersipu.
[Sudah selesai berkemas? Segera tidur. Besok akan menjadi perjalanan panjang untuk kita.]
Hati Hasna menghangat. Secuil saja perhatian yang diberikan oleh Cio untuknya, mampu membuat hati gadis itu meleleh. Hasna menggerakkan kedua jempolnya di atas layar ponsel untuk membalas pesan Cio. Gadis itu kembali mengemasi barang sembari menunggu balasan dari Cio.
[Besok aku jemput, ya?]
Walaupun sudah terbiasa diantar jemput oleh Cio, tetap saja Hasna salah tingkah. Gadis itu tersenyum senang sembari membalas pesan teks tersebut. Dia mengiyakan niat baik Cio. Kegiatan berbalas pesan itu berlangsung hingga pukul 01:00.
[Tidurlah! Besok harus segera bangun. Have a nice dream.]
...****************...
Deringan ponsel terus berbunyi pagi itu. Hasna masih terlelap di balik selimutnya. Dia terlalu pulas sampai tidak menyadari bahwa bus yang akan mengantarnya liburan akan segera berangkat.
Di sisi lain, Cio yang sudah ada di depan rumah Hasna begitu panik. Dia sendiri juga kesiangan karena semalaman asyik saling berkirim pesan dengan Hasna. Setelahnya dia tidak langsung tidur. Lelaki itu justru memainkan game sampai adzan subuh.
Saat itu matanya terasa begitu berat, Cio memutuskan untuk tidur sebentar sebelum mandi. Namun, dia justru ketiduran hingga sang ibu membangunkannya.
"Jangan-jangan Hasna sudah berangkat duluan karena nungguin aku kelamaan!" seru Cio.
Akhirnya Cio mematikan mesin motornya, turun dari Si Cabe. Lelaki itu melangkah mendekati pintu dan mengetuknya. Berulang kali dia memanggil Hasna. Namun, tidak ada jawaban. Lelaki itu yakin bahwa Hasna masih ada di dalam rumah, karena lampu bagian depan masih menyala.
"Duh, jangan-jangan Hasna juga belum bangun!" Cio kembali menggedor pintu kasar, berharap Hasna mendengar keributan yang ia buat.
Di dalam kamar, Hasna mulai menggeliat karena sinar matahari yang mulai mengintip di balik tirai jendela. Gadis itu terduduk, kemudian mengucek mata. Hasna menguap untuk mengeluarkan sisa kantuknya.
__ADS_1
Seketika gadis itu terbelalak. Dia meraih ponsel yang ada di atas meja belajar. Jam sudah menunjukkan pukul 08:30. Hasna terperanjat dan segera turun dari ranjang.
Hasna hanya cuci muka dan sikat gigi pagi itu, agar tidak terlambat datang ke sekolah. Setelah selesai, dia langsung meraih tas ranselnya dan berlari ke arah pintu. Di depan pintu, Cio sudah menunggunya sambil menempelkan ponsel pada telinga.
"Sudah?"
Hasna mengangguk cepat. Keduanya langsung menuju motor. Cio segera melakukan motor secepat yang ia bisa. Sebelumnya dia menelepon Bu Winda untuk menunggunya. Dia hanya diberi waktu sampai pukul 09:15.
Setelah mengendarai motor layaknya orang kesetanan, akhirnya Cio berhasil sampai di sekolah. Begitu keduanya sampai, bus pun langsung berangkat. Sepanjang perjalanan suasana penuh suka cita begitu terasa.
Beberapa dari murid ada yang maju ke bagian depan bus secara bergantian untuk karaoke. Sebagian lagi duduk di kursi dengan tenang, dan yang lainnya berjoget mengikuti alunan musik. Hari itu Hasna sejenak melupakan beban hidupnya.
Gadis itu ikut larut dalam suka cita bersama teman-temannya. Ketika adzan Dzuhur, rombongan bus berhenti di rest area. Makutha melihat Cio yang terlihat kebingunan di depan toilet. Dia pun menghampiri sahabatnya itu.
"Bro, kenapa?" tanya Makutha.
"Ponselku nggak ada di saku jaket!"
"Nggak lah! Aku yakin kok tadi ku taruh di saku jaket!" Cio bersikukuh kalau dia tidak lupa menaruh ponselnya tersebut.
"Di bus ada nggak? Udah ke mana aja? Terakhir kamu pakai di mana?" Makutha mencoba membantu Cio mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menggunakan benda pipih tersebut.
"Tadi di rumah Hasna, pas buat telepon Bu Winda."
"Jangan-jangan jatuh!" Makutha melebarkan pupil mata.
"Mampus! Bisa kena amuk mama!" Cio menepuk jidatnya.
"Nih, kabarin dulu Tante Bintang!" Makutha menyodorkan ponselnya kepada Cio.
"Oke, matur suwun, Den." Cio menangkupkan kedua telapak tangan dan menempelkannya pada dahi, layaknya seorang abdi yang memberi hormat kepada seorang raja.
Cio meraih ponsel Makutha. Menggulir layarnya untuk mencari nama sang ibu. Setelah ketemu, lelaki itu menelan ludah kasar sebelum memencet tombol hijau untuk menelepon sang ibu. Baru sekali nada sambung berbunyi, panggilannya langsung diangkat.
__ADS_1
"Cio! Ke mana saja kamu! Ponselmu nggak aktif!"
Suara Bintang hampir saja membuatnya tuli. Cio sampai menjauhkan ponselnya karena telinganya mendengung. Makutha terkekeh melihat adegan lucu di hadapannya tersebut.
"Ma, pelan-pelan, dong ngomongnya. Bisa tuli aku nanti."
"Oh, jadi kamu mau bilang kalo suara Mama itu cempreng, gitu?"
"Ya, iya, sih. Syukur deh, kalau Mama tahu diri." Cio tersenyum geli membayangkan ekspresi sang ibu saat ini.
Kalau ada di dekat Bintang mana berani Cio mengatakan hal itu. Bisa kena amuk dia. Bintang terus mengoceh mengungkapkan rasa khawatirnya karena tidak bisa menghubungi Cio sejak pagi.
"Kenapa? Kok diam? Kamu sengaja, ya matiin ponselmu?"
"Gimana mau jawab, orang Mama nyerocos terus?" Cio terkekeh lagi.
"Ayo, nyalakan ponselmu! Jangan bikin Mama khawatir. Hasna juga dihubungi nggak bisa. Kalian benar-benar, ya?"
"Ma, sebenarnya HP Cio hilang."
"Apa! Kok bisa!"
"Seperti jatuh di jalan waktu mau berangkat ke sekolahan dari rumah Hasna."
"Ya sudah, nanti beli HP lagi kalau sudah sampai Bali! Nanti Mama transfer uangnya!"
Sambungan telepon terputus. Cio terbelalak, begitu juga dengan Makutha. Dugaannya meleset. Dia pikir sang ibu akan memarahinya kalau mengetahui ponselnya hilang. Namun, ternyata sang ibu memarahi Cio karena khawatir tidak bisa dihubungi.
"Anak orang kaya memang beda sih, ya?" Makutha tersenyum miring kemudian menengadahkan tangannya untuk meminta ponsel.
"Eh, Om Reza lebih kaya. Dia duduk santai di rumah, uang ngalir deras!"
Makutha hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sahabatnya itu. Dia enggan berkomentar lebih banyak lagi mengenai ucapan Cio. Sebenarnya keadaan ekonomi keluarga Makutha sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia enggan berbagi kesulitannya pada orang lain, termasuk Cio.
__ADS_1