
Tuan Li tertunduk lesu. Dia memang salah karena mudah sekali tergoda dengan Mulan, ibu David. Kepala Tuan Li kembali mendongak dan menatap nanar ke arah Reza dan Risa secara bergantian.
"Selama puluhan tahun, aku berkubang dalam rasa bersalah yang tak pernah ada habisnya. Aku menyalahkan diri sendiri kenapa waktu itu mudah sekali tergoda dengan perempuan itu. Dan aku juga menyesal karena tidak mempertahankan kalian lebih kuat." Lelaki itu beranjak dari sofa kemudian berpamitan.
"Aku akan kembali lagi ke Taiwan sekarang. Semoga kalian mau memaafkan kesalahanku di masa lalu." Lelaki itu berjalan gontai, kemudian mulai memutar tuas pintu.
Reza melirik ibunya yang masih menatap ke arah sang ayah. Dia melihat raut sedih tergurat di wajah perempuan yang masih terlihat begitu menawan itu. Reza berdeham diikuti tatapan sang ibu yang kini beralih padanya.
"Kejar! Kejarlah kalau mau mengejarnya!" Reza menggerakkan jemarinya untuk mengisyaratkan sang ibu agar menyusul Tuan Li.
"Reza ...." Risa tersenyum tipis dengan air mata bahagia yang mulai menetes.
Perempuan itu mulai melangkah cepat menyusul Tuan Li. Ketika dia keluar sampai ambang pintu, lelaki yang sebenarnya masih sangat ia cintai itu baru saja membuka pintu mobil.
"Steven Li!" teriak Risa kemudian berlari secepat yang ia bisa.
Tuan Li mematung, sebuah senyum lebar kini menghiasi bibir lelaki itu. Dia merentangkan kedua tangan untuk menyambut Risa yang hendak menghambur ke pelukannya. Lelaki itu mengecup puncak kepala Risa berulang kali.
__ADS_1
"Ayo, kita mulai semuanya dari awal," bisik Tuan Li diikuti anggukan mantab dari Risa.
Risa memeluk erat ayah dari putranya itu. Reza tersenyum tipis melihat kedua orangtuanya yang kini bersatu kembali. Menjadi kebahagiaan tersendiri baginya bisa melihat senyum merekah sang ibu. Dia berharap setelah ini, dendam lama yang menggerogoti hati sang ibu lenyap dan menguap ke udara.
...****************...
Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar di meja makan rumah Risa. Meja makan yang biasanya hanya berisi dua orang, hari ini bertambah satu lagi anggotanya. Suasana nyaman dan hangat begitu terasa di dalam rumah itu.
"Reza, terima kasih sudah mengijinkan kami kembali bersama." Tuan Li menatap putra semata wayangnya sambil tersenyum tipis.
"Aku rela melakukan apapun demi Mama. Asalkan beliau bahagia, pasti akan kulakukan segalanya." Reza menatap sang ibu yang terlihat lebih segar dari biasanya.
"Papa dengar, kamu juga memiliki wanita yang sangat kamu cintai. Siapa dia?"
Pertanyaan Tuan Li yang begitu tiba-tiba membuat Reza tersedak. Risa segera menyodorkan segelas air putih kepadanya, kemudian menepuk lembut punggung Reza.
"Sudah baikan?" tanya Risa setelah Reza berhenti terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Terima kasih." Reza kembali meminum air putih dan mulai menarik napas panjang.
"Namanya Liontin. Dulu ... dia bekerja di Taiwan seperti Mama."
"Bagaimana bisa kebetulan terjadi seperti ini?" Tuan Li tersenyum tipis.
"Tapi ...." Ucapan Reza menggantung di udara. Dia ragu-ragu untuk membongkar masa lalu Liontin kepada sang ayah. Perasaan takut tidak direstui tiba-tiba memenuhi hati dan pikirannya.
"Kenapa?"
"Dia sudah memiliki seorang putra."
"Dia janda?" Tuan Li terbelalak dengan alis yang saling beratutan.
"Dan anaknya adalah hasil kecelakaan dengan majikannya."
"Kasihan sekali perempuan itu. Siapa majikan yang tega melakukan hal seperti itu kepada orang yang setiap hari membantu meringankan pekerjaan rumahnya?" Tuan Li menggeleng heran kemudian meraih gelas berisi air putih dan menenguknya perlahan.
__ADS_1
"David! Majikan Liontin adalah David!" seru Risa dengan mata penuh amarah.
"Apa!"