
Terik matahari pagi itu membuat Makutha dan teman sekelasnya berkeringat. Jam menunjukkan pukul 9 tapi matahari bulan Mei terasa begitu menyengat. Mereka semua sedang duduk di lapangan basket karena jmsaat itu jam pelajaran Olah Raga.
Pak Haris, sang guru olah raga sedang memberi penjelasan tentang senam aerobic. Ketika yang lain sedang fokus mendengarkan penjelasan guru olah raga mereka itu, Makutha dan Cio asyik mengobrol dengan saling berbisik.
"Duh, bisa gosong aku kalau begini!" gumam Cio sambil mengusap keringat yang membasahi dahi.
"Hilih, biasanya juga panas-panasan main bola! Ini sinar matahari pagi di jam terbaik, Bro." Makutha sengaja melakukan hal itu untuk menjahili sang sahabat.
"Apaan! Gosonglah kalau lama-lama!" gerutu Cio.
"Gosong pun nggak apa-apa, biar kelihatan LAKIK!" seru Makutha sembari terkekeh.
"Semprul!" Cio mendorong pelipis Makutha dengan telunjuknya, dan tawa keduanya pun pecah.
Pak Haris mengerutkan dahi ketika telinganya menangkap tawa dari beberapa muridnm. Lelaki itu mengedarkan pandangan untuk mengetahui siapa biang kerok yang telah memecah fokusnya serta murid yang lain. Kini tatapannya berhenti pada sosok dua laki-laki yang duduk di barisan paling belakang.
"Kalian yang di belakang!" teriak Pak Haris sembari menunjuk ke arah Makutha dan Cio.
Makutha dan Cio mengerutkan dahi lalu seling senggol. Mereka saling tunjuk dengan dagu. Tak lama kemudian Pak Haris kembali menegur keduanya.
"Iya, kalian berdua yang duduk paling belakang!"
Cio dan makutha saling menatap, kemudian menoleh ke belakang secara bersamaan. Tentu saja di belakang mereka sudah tidak ada murid lain, karena memang keduanya duduk di deretan paling belakang.
"Kita yang dimaksud ternyata, Bro!" Abercio tersenyum kecut sambil menggaruk kepala.
"Saya ... maksud, Bapak?" tanya Cio dan Makutha bersamaan.
"Iya! Kalian berdua! Siapa lagi! Ke depan sini!" Wajah Pak Haris terlihat merah padam. Tampaknya guru olah raga tersebut sedang naik pitam.
Makutha dan Cio saling dorong ketika berjalan ke depan. Keduanya juga terus menyalahkan satu sama lain. Sesampainya di hadapan Pak Haris, keduanya tertunduk.
"Kalian berdua sudah paham apa yang tadi saya jelaskan?" Pak Haris melipat lengan sambil melemparkan tatapan tajam.
"Ngerti, kok, Pak," jawab keduanya serentak dengan nada malas.
"Coba kalian jelaskan arti dari senam aerobic!" seru Pak Haris.
__ADS_1
Cio dan Makutha kembali saling sikut dan saling tunjuk satu sama lain menggunakan dagu mereka. Makutha berdecak kesal kemudian menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Ck kamu, sih! Ngajakin ngobrol terus!" gerutu Makutha lirih.
"Mbahmu! Aku loo daritadi diam!"
"Heh! Malah ngobrol!" seru Pak Haris.
Akhirnya Makutha balik badan dan menelan ludah kasar. Makutha menyapukan pandangannya kepada teman-teman yang kini menjadikannya pusat perhatian. Walaupun dia terkenal tengil, tetapi ketika menjadi pusat perhatian penyakitnya kambuh. Demam panggung. Makutha berdeham dua kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Pak Haris.
"Jadi, senam aerobik itu ... senam yang biasa dilakukan ibu-ibu kompleks agar memiliki tubuh semlohai!" (Seksi, berisi, montok).
Cio mendadak tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban sahabatnya itu. Bukan hanya Cio, tetapi seluruh teman-temannya kini menertawakan Makutha. Pak Haris juga ikut tertawa. Kekesalan lelaki itu seketika menguap ke udara karena jawaban konyol dari Makutha.
Walaupun sikap Makutha menjengkelkan, dia tetaplah Makutha Si Happy Virus. Setiap ada Makutha, maka keceriaan akan mengikuti orang yang ada di sekitarnya. Begitu juga yang terjadi hari ini.
Makutha tersenyum konyol sambil mengusap tengkuknya. Rona semu kemerahan kini menghiasi pipi lelaki berkulit kuning langsat itu. Setelah tawa mereka reda, Pak Haris mengijinkan keduanya kembali duduk. Beliau langsung membagi kelompok sesuai nomor absen. Setiap kelompok terdiri dari enam sampai delapan siswa.
Namun, tiba-tiba seorang siswi mengangkat lengannya. Raut wajahnya terlihat begitu sebal. Selain itu, gadis itu menatap tajam ke arah Hasna yang duduk di sampingnya.
"Kenapa?" Pak Haris mengerutkan dahi ketika menatap gadis berambut pendek itu.
"Ya ... pokoknya nggak mau! Takut saja kalau dia menjadi penghalang bagi kelompok kami karena keterbatasannya dalam berkomunikasi." Abel melirik Hasna yang kini tertunduk.
Hasna memang sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu sejak dulu. Dia selalu dianggap tidak kompeten dan seorang yang hanya 'titip nilai' jika bekerja dalam kelompok. Hasna meremas celana olah raganya. Entah mengapa hatinya hari itu terasa begitu sedih. Padahal biasanya dia tidak pernah memikirkan setiap ucapan miring dari teman-temannya.
"Kamu keterlaluan, Bel!" seru Cio.
Semua orang kini menatap ke arah pria jangkung tersebut. Mereka saling bisik dan tersenyum miring. Cio akhirnya mengambil sebuah keputusan yang membuat semua orang di kelas itu, memiliki sebuah spekulasi tersendiri.
"Biar Hasna masuk ke dalam kelompok saya!"
Sontak semua teman sekelas Cio bergumam, sehingga lebih terdengar seperti dengungan lebah. Tatapan sinis dan senyum miring menghiasi wajah sebagian besar dari mereka.
"Dia suka sama si bisu kayaknya!"
"Dih, cari penyakit!"
__ADS_1
"Memangnya dia bisa apa kalau masuk kelompok senam?"
"Haha, mungkin mau dijadikan bahan *****-***** Cio!"
Kalimat miring itu terlontar dari beberapa teman sekelas Cio. Dia tidak peduli, karena tidak sanggup melihat Hasna yang selalu dikucilkan. Walau gadis itu memiliki kekurangan, Hasna juga memiliki hak yang sama dengan murid lain. Rasanya tidak adil jika dia diperlakukan berbeda dari kebanyakan murid lainnya. Justru bagi Cio, Hasna memiliki banyak kelebihan yang tidak banyak orang tahu.
Beberapa hari belakanhan, Cio mengobrol dengan sang ibu mengenai kinerja Hasna. Bintang mengatakan bahwa Hasna gadis yang lembut, pintar, tekun, dan rajin. Hanya dengan mendengar pujian mengenai gadis itu saja, hati Cio bergetar hebat.
"Hasna, kemarilah!" Cio melambaikan tangan sambil tersenyum tipis.
Hasna beranjak dan mulai melangkah mendekati Cio serta teman lain yang akan menjadi tim senamnya. Cio menepuk paving di sampingnya, Hasna pun duduk di sana. Tatapan tidak suka jelas terpancar dari semua anggota tim itu, kecuali Makutha. Dia menatap datar gadis tunarungu dan
tunawicara tersebut.
Maaf sudah merepotkan kalian.
Hasna menulis kalimat itu pada buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana, lalu menunjukkannya pada Cio dan teman-teman yang lain.
"Tidak merepotkan. Tenang saja! Oh ya, bagaimana kalau kita menyewa seorang instrukstur senam?" Cio mencoba mengusulkan sebuah pendapat.
"Lalu, siapa yang mau bayar? Kamu?" Makutha tersenyum miring dan melemparkan tatapan penuh ejekan.
"Ya, kita patungan ...." Cio menggaruk telinga sembari tersenyum konyol.
"Mommy-ku sebenarnya instruktur senam!" seru Rachel.
"Wah, kebetulan! Gimana kalau hari pertama kita latihan di rumahmu, Chel!" seru Cio.
"Boleh, nanti aku bilang sama mommy!"
...****************...
Terima kasih, ya, sudah setia baca karya author.
Btw Chika ada rekomendasi novel juga nih, punya salah satu sahabat. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak yaa😍😍😍
__ADS_1