
Semilir angin pegunungan membelai lembut rambut Liontin siang itu. Suara gelak tawa Makutha yang sedang berlari mengejar Nana membuat hatinya ikut merasa senang. Tiga hari sudah dia menginap di rumah sang kakak.
"Kamu kapan balik ke Solo?" tanya Cincin sambil membawa teh dan camilan di atas sebuah nampan.
"Nggak tahu, Mbak," jawab Liontin sambil tersenyum miris.
"Ontin, nggak baik pergi lama-lama meninggalkan rumah. Sebaiknya kamu segera pulang. Kasihan suamimu."
"Kalau aku kasihan sama Reza, terus yang mengasihaniku siapa lagi, Mbak?" Mata Liontin mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar karena menahan tangis.
"Kamu sama Reza ada masalah apa? Coba cerita sama Mbak." Cincin meraih jemari lentik sang adik sambil tersenyum lembut.
"Mas Reza selingkuh, Mbak!" Akhirnya pertahanan Liontin runtuh, banjir sudah pipi perempuan itu karena air mata.
"Selingkuh?" Cincin terbelalak. Perempuan itu langsung meraih tubuh sang adik dan membawanya ke dalam pelukan.
"Kamu yakin, kalau Reza benar-benar selingkuh?"
__ADS_1
"Yakin, Mbak! Yakin! Aku bahkan sudah mendatangi langsung selingkuhannya itu!" teriak Liontin di tengah tangisnya.
Mendengar teriakan Liontin, membuat Makutha dan Nana menoleh ke arahnya. "Bunda, kenapa?" tanya Makutha setengah berteriak.
"Bundamu lagi sakit perut, Utha! Sana lanjut main sama Mbak Nana!" Cincin menjawab asal keponakan kesayangannya itu.
Setelah memastikan Makutha kembali bermain bersama Nana, Cincin mengajak sang adik untuk mengobrol ke dalam rumah.
"Coba ceritakan masalahnya secara detail. Supaya aku bisa memberimu masukan."
"Jadi begini, Mbak ...."
"Begini, terkadang kita nggak bisa menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Apa yang kamu lihat, belum tentu kenyataan yang sebenarnya."
"Tapi aku sudah melihat juga semuanya. Mereka berselingkuh dan tertangkap kamera. Aku melihat keduanya berpelukan, Mbak!" tangis Liontin kembali pecah.
"Sekarang masalahnya, kamu tahu siapa orang yang mengirimkan pesan itu? Apa orang itu bisa dipercaya?" tanya Cincin dengan nada kesal.
__ADS_1
Liontin menggeleng lemah. Dia menghapus bulir air mata yang masih tersisa. Pertanyaan Cincin baru membuatnya sadar bahwa ada yang janggal dengan pesan dari nomor asing itu.
"Liontin, sebuah hubungan itu layaknya sebuah bangunan dengan kepercayaan sebagai pondasinya. Jika pondasinya tidak kuat, kamu tahu apa yang akan terjadi?" Cincin menatap serius ke arah sang kakak.
"Bangunan itu akan mudah runtuh karena terlalu lemah untuk menahan beban di atasnya yang masih menjadi bagian darinya. Belum lagi jika faktor eksternal dari angin, gempa, dan yang lain." Cincin menghela napas kasar.
"Jadi, apa kabarnya jika kepercayaanmu selemah itu terhadap Reza?"
Liontin terdiam sejenak. Ia termenung mendengar nasehat dari sang kakak. Cincin benar, kepercayaannya kepada Reza terlalu lemah. Sebuah senyum lembut kini terukir di bibir tipisnya.
"Aku akan pulang ke rumah besok. Mbak Cincin mau 'kan anter aku pulang? Aku mau ngasih kejutan ke Kak Reza."
"Boleh. Besok hari minggu juga. Biar sekalian ajak Nana jalan-jalan. Lama banget dia nggak liburan!" jawab Cincin bersemangat.
Hati Liontin terasa ringan setelah percakapan itu. Dia baru menyadari kesalahannya. Dia menyesal sudah tidak mempercayai ucapan suaminya sendiri. Perempuan itu berharap tiupan kecil dari badai pernikahan kali ini, bisa membuat hubungannya dengan Reza semakin kuat.
...****************...
__ADS_1
Halooo semua, mampir juga Yuk, ke karya salah satu teman author Chika.