
Tangis Makutha semakin pecah. Liontin juga terus meronta berharap orang yang kini mendekapnya erat melepaskan pelukan.
"Kamu mau ke mana?"
Mendengar suara yang begitu akrab di telinga itu, Liontin mendongak. Rasa aman dan nyaman seketika memenuhi hatinya. Reza menatapnya khawatir. Lelaki itu mengusap punggunh Liontin sambil mengecup puncak kepalanya perlahan.
"A-aku hampir saja diculik, Kak. Aku takut!"
"Diculik?" Reza melonggarkan pelukannya, kemudian merangkum wajah cantik pujaan hatinya itu.
Liontin mengangguk cepat dengan bibir melengkung ke bawah. Makutha masih terus menangis, Reza meraih tubuh mungilnya, kemudian menimang bayi laki-laki itu.
Tak lama kemudian, Pak Rudi tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Liontin kembali memeluk tubuh Reza kemudian menunjuk wajah Pak Rudi.
"Dia yang mau menculikku!" seru Liontin.
"Menculikmu?" Reza mengerutkan dahi diikuti anggukan Liontin.
Tawa Reza seketika pecah. Ujung matanya mulai berair dan lengan yang awalnya memeluk tubuh ramping Liontin, kini memegangi perut yang hampir kram.
"Kok malah ketawa, sih, Kak?" tanya Liontin sambil bersungut-sungut.
"Beliau ini Pak Rudi, sopir pribadi yang baru saja mama pekerjakan."
__ADS_1
Pak Rudi mengangguk pelan sambil menutup rapat bibirnya untuk menahan tawa. Liontin tersenyum canggung. Pipinya merah padam karena malu.
"Maaf, Pak. Aku pikir ada seseorang yang menyuruh Bapak untuk menculikku. Jadi ...."
"Tidak apa-apa, Kok, Mbak."
"Sudah, sebentar lagi penghulu datang. Kamu harus bersiap-siap!"
"Pe-penghulu?" Liontin terbelalak dengan bibir menganga lebar.
"Kita menikah hari ini, di sini!"
Reza menarik lengan Liontin dan menuntunnya untuk masuk ke dalam vila. Bangunan bernuansa vintage itu sudah didekorasi dengan kain dan bunga berwarna putih. Enam buah kursi ditata mengelilingi sebuah meja persegi panjang.
"Tante ...."
"Biar Makutha sama aku! Ayo, masuk!" Risa menarik lengan Liontin dan menuntunnya ke dalam kamar Vila.
Di dalam kamar itu, sudah ada seorang MUA yang menunggu. Liontin didudukkan di atas kursi dan mulai dirias. Risa mengganti pakaian Makutha dengan setelan pakaian adat khas Jawa Tengah, kemudian mengajaknya keluar.
...****************...
"Saya terima nikah dan kawinnya Liontin Yunita binti Joko Widodo dengan emas kawin tersebut dibayar TUNAI!"
__ADS_1
Reza berhasil mengucapkan ijab qabul dalam sekali tarikan napas tanpa kesalahan. Seluruh saksi dan tamu undangan, serempak menjawab pertanyaan penghulu.
"Sah!"
Perasaan lega, bahagia, dan haru memenuhi dada Liontin saat ini. Air mata bahagia menetes membasahi pipi perempuan itu. Puluhan ucapan syukur ia ucapkan dalam hati. Dia tak menyangka ada sebuah kejutan manis yang sudah disiapkan Reza untuknya.
Dia menatap satu per satu orang yang hadir untuk menyaksikan acara sakral itu. Cincin yang sedang memangku Nana berulang kali mengusap matanya yang basah. Risa dan Tuan Li saling bergandengan tangan sambil tersenyum lembut ke arahnya. Semua orang yang ada di sana mengukirkan sebuah senyum bahagia.
Tatapan Liontin berhenti di barisan paling belakang dari tamu yang datang. David mematung di bangku paling belakang. Lelaki itu berdiri dengan bahu merosot. Tatapannya terlihat sendu seakan penuh penyesalan. Ketika pandangan keduanya bersiborok, David tersenyum tipis, mengangguk, kemudian pergi begitu saja dari vila.
Usai acara resepsi sederhana, Liontin dan Cincin duduk bersebelahan. Cincin menceritakan semua kejadian sebelum pernikahan itu berlangsung.
"Kemarin Reza menemuiku bersama Pak Steven dan Bu Risa. Mereka ingin menikahkanmu dan Reza hari ini juga, karena besok orang tua Reza akan kembali ke Taiwan untuk melangsungkan pernikahan."
"Aku kira Kak Reza hanya ingin mempertemukanku dengan Tuan Li dalam acara santai. Aku benar-benar tidak menyangka dia merencanakan ini semua." Liontin tersenyum tipis sambil mengabsen satu per satu dekorasi yang tertata cantik dalam kamar pengantinnya.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu kali ini, ya! Mbak ikut senang kalau benar ini adalah keputusanmu." Cincin menggenggam jemari sang adik kemudian membelai lembut rambut panjangnya.
"Terima kasih, Mbak."
"Aku dengar, kali ini kamu yang melamar Reza?" Cincin menyenggol lengan atas sang adik sambil tersenyum jahil.
"Akkk! Mbak, jangan bahas itu!aku jadi malu!" Liontin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Cincin terkekeh melihat sikap sang adik yang sedang malu bukan main.
__ADS_1