
Liontin dan Berlian sontak keluar dari kamar. Keduanya menuju anak tangga, dan melongok ke dasar lantai. Jantung Liontin seakan berhenti berdetak ketika melihat Makutha sudah terpejam dengan kepala yang mengeluarkan darah.
"Makutha!" teriak Liontin histeris.
Pak Rudi yang awalnya ada di depan rumah, ikut berlari karena mendengar teriakan sang majikan. Laki-laki itu langsung berlari menghampiri Makutha, kemudian menggendongnya untuk dibawa ke Rumah Sakit.
"Mbak, tolong jaga Nyonya sebentar, ya? Saya bawa Makutha ke Rumah Sakit!"
"Iya, cepat, Pak!" Berlian ikut menangis melihat Makutha yang sudah lemas tak berdaya.
Tubuh Liontin merosot ke atas lantai, kemudian menangis sejadi-jadinya. Berlian merengkuh tubuh perempuan itu dan mengajaknya untuk masuk ke kamar.
"Ayo, kita masuk. Kita hubungi Reza dulu, dan baru menyusul. Tenangkan dirimu. Makutha pasti selamat."
"Bagaimana bisa aku tenang! Coba bayangkan jika kamu ada di posisiku saat ini!" seru Liontin di tengah isak tangisnya.
Berlian memutuskan untuk menyusul bersama Reza. Jika mereka ikut bersama Pak Rudi, takut akan mengganggu konsentrasi sang sopir ketika mengendarai mobil.
Berlian mengambil ponsel Liontin, dan mencoba untuk menghubungi Reza. Baru nada sambung pertama, panggilannya langsunh diangkat.
"Za, bisa pulang sekarang? Penting!"
"Kenapa? Ada apa?" Suara Reza terdengar panik.
"Makutha terjatuh dari tangga, dan sekarang sedang dibawa ke Rumah Sakit! Tolong jemput kami di rumah. Liontin ingin segera menyusul Makutha."
"Tolong tenangkan istriku! Aku akan segera pulang!"
__ADS_1
...****************...
Di Rumah Sakit, tim medis sedang merawat Makutha. Beruntungnya bocah laki-laki itu tidak mengalami luka serius. Dia hanya mengalami kepala bocor, sehingga harus mendapatkan beberapa jahitan pada kepalanya.
"Halo, Pak. Iya, Makutha hanya mengalami bocor, tidak ada yang serius. Dokter sedang menjahit kulit kepalanya yang sobek."
"Apa mereka sudah melakukan pemeriksaan MRI?"
"Sudah, Pak. Mereka bilang semua baik-baik saja."
"Baiklah, aku sebentar lagi sampai."
Sepuluh menit kemudian, Reza dan Liontin sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menyusul Pak Rudi yang sedang berada di depan IGD.
"Makutha bagaimana, Pak?" tanya Liontin panik. Air matanya masih bercucuran membasahi pipi.
Liontin tetap saja khawatir, walaupun Pak Rudi mengatakan bahwa Makutha baik-baik saja. Perempuan itu masih terus menangis, sedangkan Reza terus menenangkannya dan memberi pelukan.
"Sayang, tenang, ya? Makutha pasti baik-baik saja."
Di tengah kekacauan itu, Liontin merasa perutnya kram,, dana seperti ditusuk-tusuk jarum. Dia memegangi perut sambil terus mendesis karena menahan sakit.
"Kamu, kenapa, Yang?"
Kini giliran Reza yang panik. Lelaki itu terus memerhatikan wajah sang istri yang sedang menahan sakit. Pak Rudi yang sudah berpengalaman, langsung meminta Reza untuk membawa sang istri ke poli kandungan.
"Pak, sepertinya Bu Liontin akan melahirkan!" seru Pak Rudi.
__ADS_1
Kini Reza menggendong tubuh Liontin dan langsung membawanya ke poli kandungan. Setelah dokter memeriksa, Liontin baru pembukaan tiga.
"Harusnya, sih, lebih cepat daripada proses kelahiran anak pertama. Kalau masih kuat jalan, bisa dipakai jalan-jalan, Bu."
Liontin mengangguk sambil meringis menahan sakit. Walaupun ini adalah kehamilan kedua, tetap saja rasa sakit yang dirasakan Liontin tetaplah sama. Melihat Liontin kesakitan, membuat Reza ikut merasa mulas.
"Aduh, perutku rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum, Yang!" Reza memegangi perutnya, keringat dingin mulai mengucur, dan membasahi dahinya.
"Yang, kenapa ikut-ikutan sakit, sih? Aduh, Kamu yang kuat, ya!" Liontin menggenggam jemari sang suami sembari menahan sakit.
Pasangan suami istri itu saling bergenggaman tangan. Keduanya saling menguatkan satu sama lain. Baru kali ini Reza merasakan sakit yang luar biasa. Perutnya seakan diremas-remas.
Pak Rudi yang hendak mengabari bahwa Makutha sidah dipindahkan ke ruang inap pun dibuat kebingungan. Lelaki paruh baya itu menggaruk kepala saat melihat tingkat dua orang majikannya itu sama-sama meringis menahan sakit.
"Pak, Bu, kalian nggak apa-apa, 'kan?"
"Ora opo-opo, Mbahmu!" seru keduanya kompak.
Para perawat yang melihat sikap pasutri itu pun merapatkan bibir agar tawa mereka tidak pecah. Beberapa lagi memilih untuk menutupi senyuman mereka dengan telapak tangan. Ada juga yang berlari keluar dari ruang bersalin hanya untuk melepaskan tawa.
...****************...
Eh, nggak berasa Liontin udah mau lahiran ajaaa...
Sambil nunggu putri Liontin dan Reza lahir, baca dulu yaaa novel karya temen Chika yang satu ini ❤
__ADS_1