TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 97. Kepanikan Reza


__ADS_3

"Liontin, aku benar-benar tidak mengenalnya!" Reza terus menepis perempuan di asing di sampingnya yang menempel layaknya lintah.


"Benarkah?" Liontin melipat lengan di depan dada sambil tersenyum miring.


"Tolong, percaya padaku!"


"Iya ... aku percaya sama Kak Reza, tenang saja!" Rahang Liontin mengeras, dan matanya mulai memerah serta basah.


Reza mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar tidak menyangka ada perempuan asing yang datang tiba-tiba dan mengaku sudah tidur dengannya. Memang benar dua bulan lalu dia ke Bali untuk bertemu teman kuliahnya. Namun, dia tidak pernah melihat perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Mbak, mungkin Anda salah orang!" seru Reza sambil terus menepis jemari perempuan asing tersebut.


"Aku butuh waktu sendiri, Kak!" Liontin beranjak dari kursi kemudian melangkah mendekati mama mertuanya.


Reza tentu saja ikut beranjak dari kursi dan mulai mengejar Liontin. Perempuan genit itu bukannya pergi setelah ditepis Reza berkali-kali, malah kali ini bergelayut manja pada lengan lelaki tampan itu.


"Lepaskan! Atau kupotong jari-jarimu itu!" teriak Reza.


"Ih, galak banget, sih! Tapi aku suka yang galak begini, karena selalu liar di atas ranjang." Perempuan menggigit bibir bawahnya kemudian mengedipkan mata kanannya.

__ADS_1


"Dasar gila!"


Reza kini berlari dan menyusul Liontin. Tatapan tajam dari sang ibu berhasil membuat ayah dari Tiara menelan ludah berulang kali. Lelaki itu menunduk menghindari tatapan Risa. Sesaat kemudian sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Reza.


"Kamu gila, ya!" teriak Risa sambil menunjuk-nunjuk wajah Reza.


"Ma, aku nggak kenal dengan perempuan ini!"


"Siapa namamu?" tanya Risa dengan nada bicara dingin.


"Nama saya Audy, Tante."


"Bagian tubuh mana yang digunakan Reza untuk menyentuhmu?"


"Sungguh sulit, padahal aku berniat memotong bagian tubuhnya yang telah menjamahmu. Apa itu artinya aku harus memutilasinya hidup-hidup?"


Mendengar kalimat yang diucapkan Risa membuat Reza bergidik ngeri. Dia tidak bisa membayangkan kalau hal itu benar-benar dilakukan oleh sang ibu.


"Besok aku akan bawa istri dan anakmu ke Taipei! Selesaikan dulu urusanmu dengan perempuan ini!" Risa menatap tajam Audy sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ma, apa yang harus aku selesaikan? Padahal aku tidak pernah memulai apapun dengannya!"


"Cukup, Kak!" Liontin mulai melangkah keluar dari ruangan itu sambil berderai air mata.


Reza yang ingin mengejar sang istri dicegah oleh Risa. Kini mereka menjadi pusat perhatian semua tamu undangan. Wajah Reza seakan terbakar karenanya. Seumur-umur, baru kali ini dia dipermalukan di depan umum.


"Biarkan Liontin sendiri dulu! Aku bisa memahami bagaimana perasaannya sekarang!"


"Ma, aku ingin menjelaskan semuanya pada Liontin! Aku benar-benar tidak mengenal perempuan sialan ini!" Reza mulai memukul kepalanya sendiri karena emosi yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


"Sekarang, kalian berdua ikut aku! Kita bicarakan di luar!" Risa menggandeng lengan sang suami dan mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Akan tetapi, ketika baru berjalan beberapa langkah, lampu gedung itu padam. Suasana berubah menjadi gelap. Tak lama kemudian, terdengar teriakan Makutha.


"Ayah! Tolong!"


"Utha! Kamu di mana?" Jantung Reza seakan melompat karena mendengar teriakan Makutha yang terdengar ketakutan.


Reza terus membelah kerumunan para tamu undangan yang hanya berdiam di tengah ruangan. Berulang kali Reza meneriakkan nama sang putra, tetapi tidak ada sahutan lagi dari bocah tampan itu. Bayangan percobaan penculikan beberapa bulan lalu kembali terlintas di benaknya. Dia takut kalau kali ini Makutha Benar diculik dan tidak bisa lolos.

__ADS_1


Reza merasa hari ini adalah hari terburuknya. Kekacauan yang di mulai ketika masih ada di rumah, berlanjut hingga detik ini. Lelaki itu menyipitkan mata untuk mencari keberadaan Makutha. Tak lama kemudian lampu kembali menyala.


"Makutha!"


__ADS_2