
Semilir angin di sepanjang Jalan Legian malam itu sedikit mengurangi rasa gerah yang menyelubungi tubuh. Gemerlap lampu kafe dan beberapa tempat hiburan malam membuat jalanan itu semakin meriah. Hasna berjalan beriringan bersama Cio. Mereka hanya terdiam dan bergelut dengan pikiran masing-masing.
Dua sejoli itu menatap langit gelap berhiaskan kerlip bintang. Hasna dan Cio memutuskan menghentikan langkah saat melihat bangku kosong di tepi jalan.
"Duduk di sana, yuk!" ajak Cio sembari menunjuk bangku kosong di depannya.
Hasna pun mengikuti langkah kaki Cio. Suasana canggung kini jelas terasa. Ini adalah momen jalan-jalan berdua mereka untuk pertama kali. Biasanya mereka akan jalan bersama teman yang lain. Namun, kali ini berbeda. Cio mengajak jalan hanya berdua, sehingga terasa seperti orang yang sedang berkencan.
Cio ingin berdua saja dengan Hasna menikmati malam terakhir di Pulau Bali. Cuaca panas membuat Cio berinisiatif untuk membelikan es krim buat Hasna. Lelaki itu melihat sebuah kedai yang menjual makanan penutup masih buka ada di seberang jalan.
"Na, tunggu di sini sebentar, ya? Aku mau beli gelato buat kamu!" Cio setengah berlari menyeberangi lautan kendaraan yang melintas.
Sesampainya di dalam kedai bernuansa putih itu, Cio langsung menuju etalase berisi gelato berbagai macam rasa. Seorang pelayan perempuan tersenyum ramah dan menyapa lelaki itu.
"Malam, Kak. Silahkan pilih menunya. Ada beberapa ukuran, mulai dari small cup hingga large, atau mau pakai crispy cone?" tawar si pelayan ramah.
"Medium cup ya, Kak!"
"Mau rasa apa?"
"Matca sama Tiramisu. Ah, yang matca boleh minta toping?"
"Bisa, mau toping apa?"
"Choco chips!" seru Cio sembari tersenyum lebar.
Tak lama kemudian, si pelayan menyerahkan pesanan. Cio keluar dari kedai tersebut dan menemui Hasna yang masih duduk di tempatnya.
"Ini." Cio menyodorkan cup berisi Matcha dengan Choco Chips kepada Hasna.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Hasna dengan menggerakkan lengannya di udara, lalu menerima gelato tersebut.
Keduanya menikmati es krim lembut itu sembari bergurau. Sesekali Hasna tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi putihnya.
"Na, ada es krim menempel di bibirmu." Cio menunjuk bagian atas bibirnya.
Sontak Hasna langsung mengusapnya dengan tisu. Cio terkekeh karena melihat beberapa es krim malah menempel di hidung gadis itu.
"Sini aku bantu bersihkan." Cio mengambil tisu dalam genggaman Hasna, kemudian mengusap es krim yang menempel pada hidung perempuan itu.
Jarak mereka kini hanya sekitar lima sentimeter. Jantung Cio berdebar begitu kencang. Dia sampai khawatir kalau suara degub jantungnya terdengar oleh Hasna. Cio membuang muka, kemudian menyugar rambutnya.
Cio berdeham. "A-ayo, kita kembali ke hotel!"
Hasna yang juga gugup setengah mati pun langsung berdiri dan berjalan lebih dulu. Cio mengusap tengkuknya lalu mengekor di belakang Hasna yang melangkah lebih cepat. Keduanya berjalan dengan menjaga jarak layaknya truk gandeng. Cio yang merasa sedikit kesal, akhirnya menyusul Hasna dan meraih jemarinya.
"Ish, jangan berjalan di depanku. Aku jadi terlihat seperti pengawalmu!" gerutu Cio.
"Astaga! Kalau kamu di belakangku dan diculik, aku yang repot! Sini!" Cio menautkan jemarinya pada jari Hasna, hingga kini mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
Wajah Hasna kini terasa panas karena malu. Dia terus menunduk memperhatikan ujung kaki untuk menyembunyikan wajah. Cio sesekali melirik Hasna yang sedang tersipu malu. Lelaki itu akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
"Na, kamu tahu nggak? Mataku selalu mencarimu setiap kamu tidak tampak di sekitarku." Cio melirik Hasna. Dia dapat melihat dari ujung mata, kalau gadis itu masih menunduk.
"Rasanya sakit sekali, Na. Jika saat aku ingin melihatmu, tetapi tidak menemukan sosok yang begitu ingin kutemui."
Hasna menghentikan langkah. Kini dia menoleh ke arah lelaki yang akhir-akhir ini selalu membuatnya nyaman. Cio mengulaskan senyum di bibir tipisnya kemudian meraih jemari Hasna yang lain.
"Na, aku selalu ikut terluka saat kamu menangis. Dan sebisa mungkin aku ingin memberikan tawaku untukmu, agar tidak ada lagi kesedihan di hatimu."
__ADS_1
Hasna menatap lekat mata Cio. Dia mencari-cari kejujuran pada netra lelaki itu. Namun, Hasna bukan hanya menemukan kejujuran di sana. Gadis itu juga menemukan ketulusan serta cinta yang melimpah dari Cio untuknya.
"Na, maukah berbagi rasa denganku? Berbagi rasa senang, susah, rindu, cinta, semuanya. Semua rasa yang ada di hatimu. Maukah berbagi semua itu denganku? Sampai suatu hari nanti kita diikat dalam satu komitmen yang disebut pernikahan." Cio tersenyum lembu. Tak ada keraguan sedikit pun dalam setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Aku tahu kita terlalu muda untuk membicarakan tentang pernikahan. Tapi, aku sangat serius tentang ini. Aku ingin nantinya kamu menjadi ibu dari anak-anakku. Sampai saat itu tiba, maukah kamu hanya memandangku sebagai orang yang paling bisa diandalkan?"
Cio menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Na, maukah kamu jadi pacarku?"
Hasna terbelalak. Dia tak menyangka apa yang ia rasakan selama ini, juga dirasakan oleh Cio. Air mata bahagia menetes di pipi gadis cantik itu. Hasna mengangguk cepat, kemudian tersenyum lebar.
Spontan Cio merengkuh tubuh Hasna ke dalam pelukannya. Lelaki itu berulang kali mencium puncak kepala gadis itu. Rasa senang kini mendominasi hatinya. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Na. Sudah mau menjadikanku tempat bersandar. Aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum, serta menghalau kesedihan agar tidak sampai hinggap dalam kesedihanmu."
Hati Hasna terasa begitu sejuk mendengar apa yang diucapkan kekasih barunya itu. Air mata kebahagiaan tak henti-hentinya menetes. Gadis itu memeluk erat tubuh Cio dan menghirup dalam aroma tubuhnya.
Ketika keduanya saling berpelukan, Makutha tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Napasnya seperti hampir putus. Makutha membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut. Melihat sang sahabat terlihat panik, tentu saja Cio melepaskan pelukannya dari Hasna.
"Ada apa, Tha?" tanya Cio sembari menautkan kedua alisnya.
"Ki-kita harus segera pulang," kata Makutha di antara napas yang masih tersengal-sengal.
"Kenapa?"
Makutha menarik lengan Cio kemudian membisikkan sesuatu di telinga lelaki itu. Cio terbelalak, dan Makutha menempelkan telunjuknya pada bibir sembari melirik Hasna. Cio akhirnya menggandeng jemari Hasna dan mengajak gadis itu kembali ke hotel.
"Na, kita pulang sekarang, ya? Temani aku dan Makutha. Ada hal mendesak yang tidak bisa diceritakan di sini."
Hasna mengerutkan dahi. Gadis itu sebenarnya ingin sekali bertanya. Namun, karena Cio sudah mengatakan kalau tidak bisa menceritakan semuanya di sini, gadis itu memilih diam. Ketiganya kembali ke hotel, kemudian berkemas.
__ADS_1
Bu Winda memesankan taksi online, dan mengantar mereka menuju bandara. Semua bungkam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun sepanjang perjalanan. Hasna pun enggan bertanya. Namun, hatinya merasa benar-benar tidak tenang. Dia hanya bisa berdoa, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi di Solo.
...****************...