TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 7: Keputusan Bintang


__ADS_3

"Cio, kamu di mana? Mama tunggu di dalem kok nggak masuk?" Bintang menempelkan ponsel ke telinganya.


"Cio di kafe seberang butik, Ma. Bareng Utha ini."


"Lho? Ada Utha?" Bintang memutar tuas pintu kemudian keluar dari ruangannya.


"Iya, Ma. Biasa ... dia berantem lagi sama Om Reza. Nanti malem mau nginep di rumah. Boleh?"


"Astaga, kenapa lagi?" Bintang menggeleng keheranan.


Tak jarang Bintang mendengar kabar bahwa Makutha bertengkar dengan ayah sambungnya itu. Jika sudah menginap di tempatnya, pasti terjadi pertengkaran besar. Bintang mengembuskan napas kasar.


"Gara-gara Om Reza mendapatkan laporan dari sekolah."


"Laporan apa?" Bintang menautkan alisnya.


"Ntar Cio ceritain di rumah, Ma."


"Ya sudah, biar Mama susul ke sana." Bintang mematikan sambungan telepon. Saat hendak melangkah tiba-tiba tubuh kurus salah satu karyawan mendarat tepat di kaki Bintang.


"Ada apa ini?" tanya Bintang dengan nada tinggi.


"I-itu, Bu. Ta-tadi Hasna sepertinya sengaja menabrak Tami," gagap Mita.


Bintang meraih lengan atas Hasna untuk membantunnya berdiri. "Hasna, kamu nggak apa-apa?"


Hasna mengangguk sambil tersenyum tipis. Bintang kembali menatap tajam Mita yang kini terlihat santai. Darahnya seakan mendidih melihat gadis tersebut tak memiliki rasa bersalah sedikit pun terhadap Hasna. Dia melipat lengan di depan dada sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Mita.


"Kamu nggak ada niatan buat minta maaf sama Hasna?" tanya Bintang kesal.


"Saya nggak salah, Bu. Jelas-jelas tadi Hasna yang menabrak Tami dengan sengaja!" Nada bicara Mita sedikit tinggi sambil mendongan dengan sombongnya.


"Benar begitu Hasna?" tanya Bintang sambil memiringkan kepala agar dapat melihat wajah salah satu pegawai paruh waktunya itu.

__ADS_1


Hasna tertunduk dalam. Dia memang sengaja menabrak Tami. Namun, ada maksud di balik sikapnya itu. Hasna terpaksa berkilah untuk menunjukkan kepada sang majikan kebenaran lain. Hasna menelan ludah kasar, mendongak, kemudian menggeleng pelan.


"Eh, Hasna! Bisa-bisanya kamu berbohong! Jelas-jelas tadi kamu melakukannya dengan sengaja!" teriak Mita sembari menunjuk-nunjuk wajah Hasna.


Mita membuang muka karena kesal, tetapi sesaat kemudian dia teringat akan CCTV yang terpasang di butik tersebut. Perempuan itu mendongak kemudian tersenyum miring. Jemarinya menunjuk kamera CCTV yang menggantung tepat di depan pintu kantor, dan mengarah ke meja kasir.


"Kita buktikan kalau saya yang benar, Bu!" seru Mita penuh keyakinan.


Bintang mendongak, mengikuti arah jemari Mita. Sang pemilik butik tersebut mengangguk.


"Kunci pintu butik sebentar! Kalian bertiga ikut ke ruangan saya!" Bintang melangkah masuk ke ruangannya.


Hasna mengunci pintu, sedangkan Mita dan Tami langsung mengekor di belakang Bintang. Setelah selesai mengunci pintu utama butik, barulah Hasna mengikuti ketiganya.


"Baiklah, kita mulai." Bintang mulai menggerakkan tetikus dan menekan tombol berbentuk segitiga untuk melihat rekaman CCTV yang baru saja ia unduh.


Bintang memutar rekaman tersebut dari 20 menit sebelum kejadian. Di sana terlihat Mita yang hanya sibuk mengecat kukunya, sesekali dia memainkan gawai sambil tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Tami dan Hasna membereskan gantungan baju dan melayani pelanggan.


"Oh, jadi kerjaan kamu selama ini cuma begini, Mit?" Bintang menatap tajam Mita yang kini wajahnya berubah pucat pasi.


Hasna menunduk karena sudah berbohong. Dia menelan ludah kasar bersiap menerima segala konsekuensi atas kebohongan yang telah ia katakan. Sedangkan Mita semakin pucat ketika Bintang mengetahui apa yang ia ucapkan beberapa menit yang lalu.


"Maaf, Bu. Karena saya sudah ikut bergunjing mengenai Mas Cio." Tami tertunduk lesu, dan bahunya merosot. Berbagai pikiran buruk mulai bermunculan di otaknya. Surat peringatan, pemotongan gaji, hingga surat pemecatan menjadi isi otaknya saat ini.


Bintang mengembuskan napas kasar kemudian menatap intens wajah Tami. "Tami, lain kali jangan mudah percaya dengan omongan orang lain sebelum kamu mengetahui fakta yang sebenarnya. Hal itu bisa merugikan dirimu sendiri."


"Kembali bekerja. Untuk masalah obrolanmu dengan Mita saya maafkan."


"I-ibu, serius?" Tami terbelalak mendengar pengampunan dari sang majikan.


"Serius, dong! Sana buka lagi pintu butik. Sebentar lagi ada calon klien datang."


"Terima kasih, Bu!" Tami membungkukkan badan kemudian tersenyum lebar, dan langsung keluar dari kantor tersebut.

__ADS_1


Melihat bahwa Tami mendapat pengampunan tanpa sanksi. Mita mengembuskan napas lega. Perempuan itu mengusap dadanya karena berpikir bahwa pasti hal yang sama akan ia dapatkan.


"Untuk kamu, Mita. Saya juga memaafkanmu atas omong kosongmu mengenai putraku!" Bintang tersenyum tipis ketika melihat Mita tersenyum lebar setelah mendengar ucapannya. Namun, seketika wajahnya berubah serius.


"Tapi, saya tidak bisa mempekerjakan karyawan yang kerjanya hanya melamun saja. Saya butuh karyawan yang produktif, karena aku sudah mengeluarkan uang yang pantas untuk itu! Jadi, mulai besok kamu tidak perlu datang ke sini!"


"Apa! Bu! Jangan seperti ini! Saya yang paling lama kerja di sini. Ikut berkontribusi sejak awal butik ini dirintis!" Mita mulai berkaca-kaca. Dia teringat amukan sang ayah yang pasti akan didapatkannya jika benar-benar dipecat.


"Maaf, pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


Mita tertunduk lesu, semuanya sudah terlanjur. Dia tidak bisa mengelak lagi. Perempuan itu meninggalkan kantor dengan berat hati. Setelah pintu kembali tertutup, Bintang menatap Hasna lembut. Sebuah senyum tipis terukir di bibir perempuan itu.


"Terima kasih, ya?"


Hasna mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti kenapa justru mendapatkan ucapan terima kasih dari Bintang. Gadis berjilbab itu mulai menorehkan tinta ke atas buku catatannya.


Kenapa ibu berterima kasih kepada saya?


Hasna menyodorkan buku tersebut lalu dibaca oleh Bintang. Ibu dari Cio itu tersenyum lembut, lalu mengembalikan buku itu kepada Hasna.


"Sebenarnya aku sudah lama tahu mengenai sikap Mita yang pemalas dan tidak sungguh-sungguh ketika bekerja. Aku mencoba memberinya kesempatan untuk memperbaiki sikap. Namun, dia tetap memperlakukan karyawan baru seperti bawahannya." Bintang tersenyum kecut kemudian berdiri dan melangkah mendekati Hasna.


"Aku bingung harus memecatnya dengan cara seperti apa. Karena sejujurnya aku berprinsip untuk tidak memecat karyawan. Tapi, kali ini anggap saja aku memecat Mita karena sakit hati dengan ucapannya yang sedang bergosip mengenai Cio."


"Terima kasih sudah membantuku menemukan alasan untuk memecat Mita. Sekarang kembalilah bekerja."


Hasna mengangguk, kemudian berjalan ke arah pintu keluar.. Tak lama kemudian perempuan itu menghentikan langkah, karena namanya kembali dipanggil oleh Bintang.


"Jangan lupa untuk meminta maaf kepada Tami. Bagaimanapun juga kamu sengaja menabraknya," ucap Bintang sembari terkekeh.


...****************...


Hai hai ....

__ADS_1


Chika punya rekomendasi novel keren buat temen-temen semuaaa... Jangan lupa mampir yaa...



__ADS_2