TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 51. Kedatangan Tuan Li


__ADS_3

"Untuk apa kamu ke sini!" teriak Risa.


"Risa, ayo kita mulai semuanya dari nol!" Lelaki itu melangkah maju, mencoba untuk mendekati Risa.


"Tetap berdiri di sana, Tuan Li yang terhormat!" Rahang Risa mengeras, jemarinya mengepal erat di samping badan.


"Kenapa baru sekarang menyusulku? Ke mana saja kamu selama ini?" Mata Risa mulai berkaca-kaca dan bahunya bergetar hebat karena menahan tangis.


"Maaf. Aku benar-benar serba salah saat itu ...."


Tuan Li yang biasanya berjalan dengan kepala mendongak, kini tertunduk lesu. Lelaki itu menatap ujung sepatunya pasrah.


"Sebenarnya setahun lalu aku meminta Reza menemuimu. Tapi, dia tidak mau. Kau tahu apa alasannya?"


Ayah kandung Reza itu, kini kembali mendongak dan menatap Risa yang mulai meneteskan air mata. Risa menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.


"Dia tidak pernah menganggap kamu ada! Dia bahkan tidak peduli kamu masih hidup atau tidak!" Suara Risa bergetar.


"Maaf ...."

__ADS_1


"Maaf? Hanya kata itu yang bisa kamu ucapkan? Kamu tidak pernah sekali pun mencoba untuk mencariku dan Reza! Ayah macam apa kamu!"


"Kamu yang tidak memberikanku kesempatan untuk membuktikan tuduhan Mulan, dan pergi begitu saja meninggalkanku!"


Risa seketika bungkam. Egonya terlalu besar untuk mengakui salah satu kesalahannya waktu itu. Dia terlalu mudah dihasut dan terbawa emosi. Tuan Li perlahan maju dan menyodorkan sebuah amplop coklat.


"Bacalah."


Risa meraih amplop itu, kemudian membaca perlahan isinya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang merupakan hasil tes DNA milik David. Risa terbelalak ketika membaca kesimpulan yang tercetak pada lembar terakhir.


"Hasilnya tidak cocok?"


"Ya, David bukanlah putraku. Kamu tahu bagaimana menderitanya aku selama ini? Aku harus menghidupi anak yang tak jelas asal usulnya, sedangkan putra kandungku pergi begitu saja dengan nasib yang tidak jelas?"


"Risa, maukah menghabiskan sisa umurmu bersamaku? Aku benar-benar merasa berdosa karena sudah mengabaikanmu selama ini."


"Steve, aku ...." Risa menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar.


"Aku harus membicarakan hal ini dengan Reza."

__ADS_1


"Membicarakan hal apa?"


Suara Reza menggema mengisi seluruh ruangan itu. Tuan Li kembali berdiri tegak, menatap luruh ke arah putranya sekarang berada. Anak laki-laki yang dulu sering ia gendong di pundak ketika jalan-jalan itu, kini sudah tumbuh dewasa.


Reza melangkah semakin masuk ke dalam rumah, kemudian berhenti tepat di depan sang ayah. Tatapannya datar seakan tanpa ekspresi. Hambar, itulah perasaannya saat bertemu dengan sang ayah setelah puluhan tahun tidak bertemu. Tidak banyak kenangan yang tertanam di benak lelaki itu, karena memang sangat sedikit waktu yang Tuan Li habiskan untuknya.


"Reza, apa kabar?"


"Baik. Untuk apa Anda kemari?"


Hati Tuan Li seakan dihantam godam besar ketika mendengar ucapan putra semata wayangnya itu. Bibirnya bungkam seketika, lidah lelaki itu kelu tak bisa berkata-kata lagi.


"Oh, ya, Ma. Apa yang ingin Mama bicarakan denganku?"


"Ah, em ... ki-kita duduk dulu."


Ketiganya berjalan menuju sofa dan mulai mendaratkan bokong ke atasnya. Risa memanggil Yanti untuk membuatkan minuman.


"Jadi ... sebenarnya, Papamu ...." Ucapan Risa terbata-bata.

__ADS_1


"Aku ingin kembali bersama Mamamu. Aku ingin menikah lagi dengannya, menghabiskan sisa umurku yang ada bersamanya juga. Apa kamu mengijinkannya?" Tuan Li menatap Reza serius, jantung lelaki itu berdetak cepat menanti jawaban sang anak.


"Setelah apa yang Anda perbuat ... masih ada muka, ya, untuk mendatangi kami? Bahkan meminta Ratuku ini untuk kembali bersama?" Reza tersenyum miring sambil menatap tajam ke arah Tuan Li.


__ADS_2