TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 26: Day 1


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 04:00 pagi ketika rombongan sekolah Makutha sampai di Jembrana. Mereka semua mengantre mandi kemudian sarapan. Toilet umum begitu ramai, karena memang musim liburan. Hasna dan Praba terpaksa mandi bersamaan agar menyingkat waktu.


Setelah selesai mandi, mereka semua makan di sebuah restoran yang ada di sana. Matahari mulai terbit ketika mereka melanjutkan perjalanan. Suasana sepanjang jalan masih kental dengan budaya Bali.


Banyak pepohonan besar yang diberi kain hitam putih seperti papan catur. Masyarakat menyebutnya kain poleng. Kain tersebut merupakan simbol dari keseimbangan jagat raya. Ada baik ada buruk, ada siang ada juga malam. Selain pada pohon besar, kain poleng juga biasa diikatkan pada pura kecil, patung, umbul-umbul, dan masih banyak lagi.


"Selamat datang di Pulau Dewata Bali. Saya I Nyoman Abipraya Hans, akan menjadi pemandu adik-adik semua," ucap seorang pemuda berusia 20-an dengan logat Bali yang kental.


"Bagus ...." Praba menatap pemandu wisata yang ada di depan dengan tatapan kagum.


Hasna mengerutkan dahi, dia merogoh saku lalu menuliskan sesuatu pada buku kecilnya. Setelah selesai, dia menunjukkan buku tersebut kepada Praba.


Namanya I Nyoman Abipraya, Ba. Bukan Bagus.


"Yeee ... maksudku dia bagus! Tampan!" seru Praba.


Kini semua yang duduk di depan Praba serta Hasna menoleh ke arahnya. Hasna mati-matian menahan tawa. Praba meringis sambil memayungi wajahnya dengan satu telapak tangan, untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Ada masalah apa, Geg?"


Praba mendongak ketika mendengar suara berlogat Bali itu menyapanya. Gadis itu melongo. Di matanya, Hans terlihat seperti Dewa Yunani dengan cahaya yang berpendar di sekeliling wajahnya.


Geg? Bli Hans memanggilku, Geg? Jegeg? Cantik? Dia ... memujiku cantik dong berarti! batin Praba.


Hasna menyikut lengan Praba berulang kali. Namun, gadis itu seakan terhipnotis oleh ketampanan Hans. Sampai akhirnya Hans melambaikan tangan di depan wajah Praba.


"Halo ... apa kamu sakit, Geg?"


"Ah, i-iya! Mataku sakit melihat Bli Hans yang kelewat tampan!"


Hasna menepuk jidatnya melihat tingkah Praba yang blak-blakan. Seisi bus langsung tertawa terbahak-bahak sembari menyoraki Praba. Hans hanya tersenyum simpul, lalu kembali lagi ke bagian depan mobil.


"Nah, sebentar lagi kita sampai. Bersiap! Bawa barang seperlunya saja. Mengerti?"


"Mengerti, Bli ...," jawab para siswa serempak.

__ADS_1


Tak lama kemudian rombongan bus mereka sampai di area parkir Pura Tanah Lot. Jantung Hasna berdebar kencang saat menginjakkan kaki di tempat itu. Dia tak menyangka dapat melihat keindahan Pulau Dewata ini secara langsung. Bali adalah salah satu tempat impian yang ingin ia kunjungi.


Praba selalu bersama Hasna, karena Rachel tidak ikut liburan. Praba mendapatkan amanah dari Rachel untuk menemani Hasna selama berada di Bali. Gadis itu ikut terbang ke Milan bersama sang ayah setelah Ujian Kenaikan Kelas selesai.


Mereka semua melewati toko-toko yang berjajar menjual berbagai macan cenderamata. Seperti udeng (ikat kepala khas bali), gelang, kalung, topi, kain lilit, dan masih banyak lagi. Selain toko yang menjual cenderamata, terdapat restoran yang menjual berbagai macan makanan dan minuman.


Setelah melewati kios dan toko tersebut, sampailah mereka di sebuah tempat yang lumayan lapang dengan paving kotak. Di kanan dan kiri jalanan itu terdapat dua gapura besar. Setelah melewati gapura-gapura tersebut, mereka sampai di pantai dengan bebatuan karang yang cukup tajam. Hans memperingatkan untuk berhati-hati saat berjalan di atas bebatuan tersebut.


"Batunya licin karena lumut, jadi Bli harap kalian lebih hati-hati serta terus memerhatikan langkah. Kalian bisa berfoto di sekitar Pura. Oh ya, di sebelah sana ada ular. Bisa lihat dan bayar seikhlasnya. Masyarakat soni percaya jika kita menyentuh ular tersebut sambil berdoa. Maka doa tersebut akan dikabulkan oleh Sang Hyang Widi." Hans menunjuk sebuah gua yang ada di seberang Pura.


"Na, mau liat ular?" tawar Praba.


Hasna bergidik ngeri, dia sangat takut dengan hewan melata satu itu. Gadis itu langsung menggeleng cepat. Dia memilih untuk jalan-jalan di sekitar Pura, merekan semua memori tentang tempat itu dalam ingatannya.


Sebenarnya Hasna ingin sekali mengabadikan tempat itu ke dalam ponselnya. Namun, ponsel Hasna tertinggal di rumah karena terburu-buru kemarin. Saat sedang asyik menatap deburan ombak yang menghantam batu karang, Cio mendekatinya.


"Mau kufotoin?" Cio menunjukkan kamera yang sengaja ia bawa dari rumah.


Hasna tersenyum lebar sembari mengangguk. Cio menggandeng jemari Hasna, lalu memintanya berdiri di depan Pura.


Cio justru fokus pada wajah cantik Hasna. Lelaki itu tidak segera memotret Hasna, tetapi malah memperbesar gambar dan mengamati setiap detai wajag gadis tersebut.


Kulit bersih, hidung mungil, bibir sedikit tebal, dan Cio baru menyadari kalau ada tahi lalat kecil di atas bibir Hasna. Lelaki itu tersenyum. Jantungnya berdetak lebih cepat. Geleyar aneh merasuki hatinya.


"Cantik," gumam Cio kemudian baru mengambil gambar perempuan itu.


Setelah beberapa kali memotret Hasna, Cio meminta Makutha untuk mengambil gambarnya bersama gadis pujaannya itu.


"Tolong, ya, Bro!" Cio menyodorkan kameranya kepada Makutha.


Sebenarnya Makutha ingin sekali menolak. Bahkan beberapa kali dia meminta teman lain untuk menggantikannya memotret Hasan dan Cio. Namun, semua yang dimintai tolong tidak mau. Mereka sibuk menikmati keindahan Tanah Lot dan sekitarnya.


"Cih, memangnya mereka pikir aku nggak sibuk menikmati kejombloanku?" gerutu Makutha.


"Sudah belum!" teriak Cio.

__ADS_1


"Yok! Pose yang bagus!"


Cio memberanikan diri meraih jemari Hasna, hingga gadis itu menoleh ke arahnya. Hasna terbelalak, dan pipinya terasa panas. Cio tersenyum lembut kemudian meminta Hasna untuk fokus ke kamera.


"Sialan! Sempat-sempatnya mereka seperti itu!" umpat Makutha.


Setelah beberapa kali Makutha mengambil gambar Cio dan Hasna. Dia gantian meminta tolong kepada Cio untuk memotretnya bersama Hasna.


"Nggak! Nggak boleh!" tolak Cio tegas.


"Ya elah, Bro. Cuma foto doang!"


"Ngak, nggak, nggak! Nggak ada foto-fotoan sama Hasna!" Cio menarik lengan Hasna dan mengajaknya pergi dari sana.


"Pelit kali, sih!" Makutha berdecih kemudian mengekor di belakang mereka sambil memainkan ponsel.


Ketika hendak kembali ke pelataran, tiba-tiba Hasna tergelincir. Sontak dua lelaki yang ada di dekatnya berteriak. Keduanya langsung menghampiri Hasna. Makutha berhasil menangkap tubuh Hasna. Namun, dia tidak menyadari kalau tadi sudah melempar ponselnya ke sembarang tempat.


Hasna kembali berdiri tegap berkat bantuan Makutha. Gadis itu menatap nanar ponsel Makutha yang sudah tercelup oleh air laut. Kondisi layarnya pun retak. Makutha mengikuti arah pandang Hasna. Dia terbelalak melihat kondisi mengenaskan benda pipih tersebut.


"Maaf," ucap Hasna menggunakan bahasa isyarat.


Makutha menatap Hasna sekilas. Kemudian memungut ponselnya yang sudah tak berbentuk itu. Benda pipih tersebut tidak bisa menyala. Hasna meraih lengan Makutha lalu memasang wajah sedih penuh penyesalan.


"Maaf, ya, Utha. Gara-gara aku, ponselmu malah rusak." Mata Hasna berkaca-kaca, dan tangannya sedikit gemetar.


"Nggak apa-apa. Nanti tinggal minta Ayah buat dibelikan yang baru!" Makutha memaksakan senyum.


Lelaki itu berbohong. Dia harus siap kena marah sang ayah. Tidak mungkin lelaki itu meminta ponsel baru dengan kondisi ekonomi keluarga yang sedang carut marut.


"Ayo, kita kembali ke bus. Sebentar lagi kita akan berangkat ke tempat wisata selanjutnya." Hans mencari rombongan siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Praba tampak terus mengekor di belakang lelaki blasteran Bali-Spanyol itu.


Hasna menggeleng karena heran dengan sikap Praba yang terlalu mencolok. Dia menarik lengan Praba kemudian menunjukkan buku kecilnya kepada gadis cantik itu.


Kamu seperti anak anjing bersama tuannya. Berhenti mengekor pada Bli Hans.

__ADS_1


"Hasna!" Praba menautkan alis sambil mengerucutkan bibirnya, dan disambut oleh ledakan tawa Hasna.


__ADS_2