
Suara deru mesin mobil menyelimuti Reza dan Berlian yang saling berdiam diri. Tak ada satu patah pun terucap. Sisa isak tangis Berlian sesekali terdengar begitu menyesakkan.
Reza ingin sekali mengabaikan perempuan di sampingnya itu. Namun, tetap tidak bisa. Dia menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar.
"Rumahmu sebelah mana?" tanya Reza.
"Di depan situ ada perumahan. Turunkan saja di depan gerbang, biar aku masuk dengan jalan kaki." Berlian menatap lurus jalanan sunyi di depannya.
"Suamimu ke mana? Kok ke mana-mana sendirian?" tanya Reza.
"Aku dan Adam sudah berpisah."
Mendengar nama sahabatnya di sebut, sontak membuat Reza mengerem mobilnya secara mendadak. Dia terbelalak, kemudian melirik Berlian yang kini meringis kesakitan karena perutnya yang terguncang.
__ADS_1
"Ma-maaf. Aku kaget soalnya. Terakhir kali aku menelepon Adam, dia bilang sedang sendiri tanpa pendamping."
"Kapan terakhir kali kamu bertemu dengannya? Kami menikah dua tahun lalu." Berlian tersenyum kecut mengingat bagaimana sebelum menikah, Adam gencar mendekatinya.
"Bagaimana bisa kalian menikah?"
"Ceritanya panjang. Terlalu menyesakkan jika aku harus menceritakan ulang semuanya. Ayo, jalan lagi. Apa kamu berniat hanya mengantarkan aku sampai sini saja?" Berlian menatap Reza sembari tersenyum miring.
"Baiklah, kamu masih punya Liontin jika ingin bercerita. Kamu bisa hubungi dia sewaktu-waktu untuk sekedar berbagi kisah. Kau tahu bukan, bahwa istriku itu pendengar yang baik?" Reza kembali melajukan mobilnya dan tetap diam tak bersuara.
"Nggak ikhlas sekali mengucapkan terima kasih," gerutu Reza kemudian mengemudikan mobilnya kembali untuk pulang ke rumah.
Di kediaman Reza, Liontin yang tiba-tiba terbangun merasa ada yang kurang. Dia turun dari ranjang Makutha kemudian keluar menuju kamarnya. Diputarnya tuas pintu kamar, dan kepalanya sedikit melongok untuk mencari keberadaan sang suami. Namun, kamarnya masih kosong.
__ADS_1
"Mungkin ada di ruang kerja?" Liontin mulai melangkah menuju ruang kerja sang suami.
Ketika membuka pintu ruangan yang biasa dipakai Reza untuk bekerja itu, hanya kegelapan yang menyapanya. Lampu ruang kerja mati, menandakan bahwa Reza tidak ada di dalamnya.
"Ke mana sih, Kak? Padahal hampir tengah malam. Nggak biasanya kamu begini." Liontin kembali ke kamar, kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas.
Liontin mulai menggulir layar benda pipih itu untuk menghubungi sang suami. Akan tetapi, ketika dia hendak memencet nomor Reza, sebuah pesan masuk. Sebuah nomor asing mengirimnya sebuah foto yang menampilkan Reza sedang memeluk seorang wanita.
"Kak Reza?" Liontin memperbesar foto itu untuk mengetahui bahwa dugaannya benar.
Liontin terbelalak. Kakinya seakan tak bertulang kali ini. Tubuhnya merosot ke lantai dan !kini punggungnya bersandar pada ranjang. Dia terus menatap foto dalam benda pipih itu. Liontin tidak tahu bahwa perempuan itu adalah Berlian.
"Kak Reza tega sekali sama Ontin ...." Air mata perempuan itu mulai bercucuran. Dadanya terasa begitu sesak seakan terisi air hingga tenggorokan. Hatinya nyeri bagaikan ditikam berulang kali. Sakit, tapi tak berdarah.
__ADS_1
Selama empat tahun pernikahannya, baru kali ini Liontin melihat sang suami memeluk wanita lain. Setahu ibu dari Makutha itu, Reza begitu mencintainya sampai-sampai mengalami Sindrom Couvade. Setelah memasuki trimester kedua kehamilan, Reza memang tidak mengalami gejala dari sindrom tersebut. Namun, apakah itu berarti kadar cinta sang suami juga ikut melemah?
Liontin menangis sejadi-jadinya. Tangisan perempuan itu terdengar memilukan. Dia berulang kali memukul dada yang terasa begitu sesak. Tubuhnya sampai bergetar hebat karena tangis yang semakin kencang.