
"Cio ... kok kamu cedih, kenapa?" tanya Makutha ketika melihat temannya termangu sambil meneteskan air mata.
"Aku nggak cedih! Sana kamu!" seru Abercio sambil mendorong lengan Makutha.
"Ih, kacal! Bunda bilang ... kita nggak boleh ...." Ucapan Makutha menggantung di udara karena Abercio tiba-tiba memukulnya.
Tangis anak yang sebulan lagi berumur lima tahun itu pecah. Bu Sari, guru mereka akhirnya mendatangi dua bocah laki-laki itu dan melerainya.
"Makutha, kenapa nangis?"
"Cio nakal, Bunda Cali!" seru Makutha terus menangis sambil menunjuk wajah Abercio.
"Benar begitu, Cio?" tanya Sari dengan nada lembut.
Bukannya menjawab, bocah laki-laki itu justru ikut menangis kencang. Di tengah isak tangis, dia menjelaskan alasannya kenapa mendorong Makutha.
"Makutha aku curuh dia pelgi tapi nggak mau, Bunda. Cio lagi pengen cendili. Cio cedih."
"Eh, sedih kenapa, Sayang?" Sari merangkum wajah tampan Abercio kemudian menghapus air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Mama nggak cayang lagi cama Cio, gara-gara adik Cio baru lahil. Mama nggak mau main lagi cama Cio."
Mendengar penjelasan Abercio, ingin sekali Sari tertawa. Namun, dia berusaha untuk mengulum kembali tawanya. Perempuan itu memberi Abercio pelukan kemudian mengusap punggungnya perlahan.
"Cio, dengar Bunda Sari ... mama Cio bukannya nggak sayang lagi sama kamu. Tapi, adik bayi butuh perhatian lebih karena masih sangat bergantung sama mama." Sari melepaskan pelukannya, kemudian menatap lembut Abercio.
"Oya, adik Cio laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki," jawabnya singkat.
"Wah, berarti Cio nanti ada temennya main sepak bola! Seru, 'kan?"
Mata Abercio berbinar. Senyuman kini mengembang di bibir mungilnya. "Benal juga, ya! Nanti sampai lumah, Cio mau ajak Andra main bola!"
Diam-diam Makutha mendengar percakapan antara Abercio dan Sari. Dia mengerutkan dahi karena belum paham betul dengan apa yang dikatakan sang guru. Abercio mengulurkan tangan untuk meminta maaf kepada Makutha.
"Utha, aku minta maaf, ya. Udah dolong-dolong kamu."
"Iya, Cio. Nggak apa-apa, kita kan teman? Kalau Cio cedih bilang aja cama aku. Nanti kita main cama-cama. Kata Bundaku, cedih bisa hilang kalo kita main sama teman-teman."
__ADS_1
Dua bocah laki-laki itu akhirnya berpelukan dan tersenyum lebar. Dari kejauhan, tampak seorang laki-laki tampan mendekat. Dia adalah Gala, ayah Abercio.
"Cio, kita pulang, yuk!"
"Papa!" Abercio melepaskan pelukannya kemudian berlari ke arah sang ayah.
"Utha! Aku pulang dulu, ya? Campai ketemu hali cenin!" Abercio melambaikan tangan, kemudian menggandeng jemari sang ayah, dan masuk ke dalam mobil.
Makutha membalas lambaian tangan Abercio sambil tersenyum lebar. Sari memutuskan untuk menemani Makutha sampai ia dijemput. Keduanya bersenda gurau sambil sesekali mendengarkan cerita yang Makutha sampaikan.
Tak lama kemudian, Reza keluar dari mobil diikuti oleh Liontin. Mereka berjalan ke arah Makutha dengan senyum merekah.
"Bunda, Ayah! Bunda Cali, Utha pulang dulu, ya? Dadah!"
"Iya, hati-hati di jalan." Sari melambaikan tangan kemudian membalas ucapan terima kasih Liontin dengan anggukan.
Sepanjang perjalanan pulang, Makutha mengoceh bercerita tentang pertengkarannya dengan Abercio. Liontin terkekeh sepanjang perjalanan karena mendengar cerita sang putra. Sedangkan Reza berulang kali melemparkan tatapan tajam agar istrinya itu berhenti menertawakan Makutha.
"Makutha nggak mau punya adik!" ujar Makutha.
__ADS_1
"Eh?" Liontin dan Reza sama-sama terbelalak ketika mendengar ucapan Makutha.
"Makutha takut, nanti kalau adik lahir kayak Cio. Mamanya nggak cayang lagi! Semua olang di lumahnya cuma ngajak Diandla main! Nggak mau main cama Cio. Utha nggak mau nanti begitu juga kalau punya adik!"