TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 31: Kesialan


__ADS_3

Enam bulan kemudian ....


Pagi itu Hasna menggeliat di atas kasur. Tak terasa dia sudah melalui masa pemulihan pasca operasi pita suara. Hasna tidak menjalani prosedur operasi telinga. Dokter mengatakan jika masih bisa mendengar dengan alat bantu biasa, maka dia tidak perlu menjalani operasi implan koklea.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk. Hasna turun dari ranjang, menuju pintu kamarnya, dan membukakan pintu tersebut. Makutha kini bersandar pada dinding sambil tersenyum miring.


"Kebiasaan! Pakai jilbabmu sebelum buka pintu. Ini bukan rumahmu!" seru Makutha tanpa mau menatap Hasna.


"I-iya ba-bawel." Hasna masih terbata-bata. Akan tetapi, suaranya sudah lebih baik daripada sebelum operasi.


"Cepat mandi! Nanti terlambat!" ketus Makutha tanpa mau menatap Hasna yanh masih berdiri di ambang pintu.


"I-iya." Hasna langsung menutup pintu dan mulai membersihkan diri.


Sementara itu, Makutha berusaha menenangkan diri. Jantungnya selalu berdetak kencang setiap melihat Hasna yang polos tanpa jilbab. Lelaki itu mengelus dada sembari mengatur napas.


"Haduh, tolong jangan seperti ini! Dia kekasih sahabatmu, Utha! Ayolah, jantung! Tahu diri!"


Makutha beranjak dari depan kamar Hasna lalu turun, ikut bergabung dengan sang ibu dan Tiara yang sedang bercengkerama di dapur. Makutha menapaki satu per satu anak tangga sembari tersenyum tipis.


Sesampainya di dapur, dia duduk di kursi bar sambil bertopang dagu. "Asyik sekali! Aku nggak diajak, nih?"


"Mas Utha! Sini deh! Ara mau bisikin sesuatu!"


"Nggak, ah! Ara yang ke sini!" seru Makutha sembari menegakkan tubuh.


Tiara berdecak kesal kemudian melangkah ke arah Makutha. Gadis itu meminta sang kakak untuk sedikit menunduk. Dia mulai membisikkan sesuatu kepada Makutha dan berhasil membuat lelaki tampan itu terbelalak.


"Wah, boleh juga!" seru Makutha dengan wajah berbinar.


Keduanya saling tatap ketika Hasna mulai turun dan menyusul mereka. Tiara menempelkan jari telunjuknya pada bibir sambil berdesis. Hasna memautkan alis karena melihat tingkah aneh dua manusia beda usia di hadapannya itu.


"Tiara, ayo, bantu Bunda siapin makanan!" ajak Liontin.


Tiara kembali ke dapur kotor lalu membantu sang ibu menyajikan makanan ke atas meja makan. Setelah selesai, mereka makan dalam diam. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Diam-diam Makutha mengirimkan sebuah pesan kepada Cio.

__ADS_1


Tak lama kemudian ponsel Hasna berdering. Perempuan itu pamit sebentar untuk mengangkat telepon. Dia beranjak dari kursi dan mulai menempelkan benda pipih itu ke telinga.


"Halo, a-ada apa, Cio?"


"Maaf, hari ini aku nggak bisa jemput kamu. Maaf, ya?"


"Oh, i-iya. Nggak pa-pa, kok."


Bibir Hasna bisa saja mengatakan tak masalah, tetapi hatinya tak bisa berbohong. Gadis itu merasa kecewa. Sudah menjadi rutinitasnya untuk berangkat dan pulang bersama sang kekasih ketika bersekolah. Bahkan Cio tetap mengantarnya ke sekolah sesibuk apa pun dia. Lelaki itu mulai menggeluti dunia model, karena memang menuruni bakat dari sang ayah. Ini adalah pertama kalinya Cio tidak mengantarnya setelah keduanya menjalin hubungan.


Hubungan keduanya murni, Cio selalu menjaga Hasna semampunya. Dia memperlakukan gadis itu begitu lembut. Dia selalu ijin ketika hendak melakukan kontak fisik seperti menggandeng tangan Hasna. Berciuman pun mereka tidak pernah. Cio benar-benar memperlakukan Hasna layaknya porselin yang sangat berharga.


"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf, ya." Suara Cio terdengar lesu dan penuh penyesalan.


Hasna mematikan sambungan telepon, lalu kembali ke meja makan. Liontin dan Makutha saling bertatapan. Makutha mengangguk lalu berdeham sekali.


"A-aku harus berangkat sekarang. Pacarku sudah menunggu untuk di jemput." Makutha beranjak dari kursi kemudian meraih ranselnya.


Lelaki itu mencium punggung tangan sang ibu lalu berlalu begitu saja. Liontin mulai menyiapkan tas sekolah Tiara, dan mengajak gadis kecil itu untuk bergegas. Hasna mengikuti arah gerak Makutha. Dia keheranan.


"Ah, se-sepertinya baru-baru ini." Liontin terlihat gugup, kemudian perempuan itu menatap Tiara sambil memberi kode dengan mengerjapkan mata berulang kali.


"Ayo, Ara. Cepat! Nanti terlambat."


"Iya, Bunda." Tiara mulai menggendong ranselnya, kemudian melangkah keluar rumah terlebih dahulu.


"Na, maaf, ya? Bunda cuma bisa antar sampai depan. Takut Tiara terlambat ke sekolah. Nanti bisa kan naik bus?" Liontin memaksakan senyum.


"I-iya, Bunda. Bi-bisa," jawab Hasna.


Akhirnya ketiganya keluar rumah. Liontin mengeluarkan mobil dari garasi dan meminta Hasna serta Tiara masuk ke kendaraan tersebut.


"Bunda ... ayah kapan pulang?" tanya Tiara setengah merengek.


"Harusnya hari ini, tapi kata Ayah ... beliau masih punya sedikit hal yang harus diselesaikan."

__ADS_1


"Yah, padahal Ara besok pengen jalan sama Ayah."


"Sabar, ya, Cantik." Liontin mencubit gemas pipi Tiara.


Liontin melirik Hasna yang sedang duduk termenung di jok belakang. Dia sebenarnya ingin sekali mengantar Hasna ke sekolahan. Namun, waktu terlalu sedikit, sedangkan sekolah Hasna dan Tiara berlawanan arah.


"Na, sekali lagi Bunda minta maaf, ya?"


Hasna mengangguk sembari tersenyum tipis. Tak lama kemudian Liontin menghentikan laju mobilnya. Hasna turun dari kendaraan tersebut, lalu duduk di bangku halte. Liontin melambaikan tangannya sekilas dan kembali melajukan mobilnya.


"A-aku me-memang bu-bukan prioritas me-mereka."


Hasna mengembuskan napas kasar. Dia mengayunkan kaki untuk menghalau kegalauannya hari ini. Gadis itu benar-benar merasa kesepian hari itu. Dia menyadari bahwa hanya dia seorang yang tak memiliki siapa-siapa. Cio dan yang lain memiliko hal lain yang lebih penting. Gadis itu sadar bahwa dirinya memang bukanlah siapa-siapa bagi mereka.


Saat asyik dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah bus melaju kencang seakan tak melihat Hasna yang ada di halte tersebut. Hasna turun dari halte, kemudian lari sekencang yang dia bisa sambil terus berteriak. Namun, bus itu terus melaju kencang tak memedulikan teriakan Hasna yang penuh keputusasaan.


Peluh kini bercucuran membasahi dahi Hasna, dan juga punggungnya. Gadis itu terduduk lesu sambil menenggelamkan wajah dalam telapak tangannya. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya saat ini. Hasna yang kesal dengan keadaan menangis sesenggukan.


"Sial se-sekali hari ini!"


Tiba-tiba ada sebuah mobil pick-up berhenti di depan Hasna. Sopir dari mobil tersebut menekan klakson beberapa kali hingga Hasna mendongak. Hasna menghapus air matanya kemudian kembali berdiri tegak.


"A-ada apa, Mas?"


"Apa kamu yang bernama Hasna?" tanya lelaki muda yang duduk di samping sopir.


"I-iya, Mas. A-ada apa, ya?" Hasna mengerutkan dahi.


Dua orang yang ada di dalam mobil tersebut saling pandang. Sang sopir mengangguk. Lalu lelaki yang lebih muda turun dan menghampiri Hasna. Gadis itu memiliki firasat buruk. Dia mundur selangkah ketika sang lelaki itu mendekatinya.


"Saya Roni, bisa bicara sebentar?" Lelaki itu mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah.


"Ng-nggak!" teriak Hasna kemudian berlari lagi.


Hasna terus berlari sembari sesekali menengok ke belakang. Lelaki itu mengejar Hasna sesaat. Lalu sang sopir pick-up melajukan mobil dan meminta Roni kembali naik. Hasna terus berlari sekuat tenaga. Walaupun dia tahu pasti akan tertangkap.

__ADS_1


Hasna menyerah. Dia menghentikan langkah kemudian membungkuk. Wajahnya terasa panas dengan napas yang hampir habis. Gadis itu hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. Semoga kali ini Sang Maha Pencipta melindunginya.


__ADS_2