
Berlian kembali dipertemukan kenyataan pahit. Dia harus kembali melihat Liontin dengan tatapan iri. Entah apa rencana Tuhan sehingga terus mempertemukannya dengan Liontin dan mantan kekasihnya itu.
Beberapa minggu lalu, bahkan dalam sehari ia bertemu Liontin tiga kali dalam sehari. Seperti minum obat, bukan? Dan pada pemeriksaan kali ini, dia juga dipertemukan kembali oleh pasangan bahagia itu.
"Lian! Apa kabar?" sapa Liontin di depan poli kandungan.
Lian bergeming, enggan menjawab sapaan Liontin. Perempuan itu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
"Kamu sendiri lagi? Suamimu masih belum pulang?"
Pertanyaan Liontin kali ini terdengar seperti ejekan baginya. Berlian tersenyum kecut, lalu menggeleng pelan. Melihat ekspresi Berlian yang tidak bersemangat, membuat Liontin merasa bersalah. Beruntungnya, Makutha mendekati perempuan itu dan menyapanya.
"Tante, lagi cedih?" Liontin menatap intens Berlian sambil menarik lengan perempuan itu.
Berlian masih belum menjawab. Dia malah mengalihkan pandangan ke arah Liontin. Seakan mempertanyakan siapa bocah laki-laki yang sedang menyapanya itu.
"Kenalkan, dia Makutha anak pertamaku," kata Liontin sambil memegang kedua bahu Makutha.
__ADS_1
"Tante, lagi cedih?" Makutha kembali mengulang pertanyaan karena Berlian tidak menjawabnya.
Berlian berdeham, kemudian menggeser tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Makutha. Dia merangkum wajah bocah laki-laki itu dan tersenyum.
"Sedikit cedih. Karena nggak ada yang mau anter Tante liat dedek bayi, seperti Mama dan Ayahmu."
"Kalau begitu, bial Utha yang temenin Tante masuk, ya? Bial Tante nggak cedih lagi." Makutha tersenyum lebar dengan mata berbinar penuh semangat.
"Makutha, bukannya mau lihat adik bayinya sendiri?" Suara Reza terdengar begitu dingin. Tak lama kemudian, ia menjerit kesakitan.
Jemari lentik Liontin mencubit pinggang sang suami. Ketika menoleh ke arahnya, Liontin sudah melemparkan tatapan tajam.
Liontin terkekeh seketika saat melihat perseteruan dua laki-laki yang sangat ia sayangi itu. Tak lama kemudian, seprang perawat memanggil nama Berlian. Perempuan itu beranjak perlahan, kemudian mulai melangkah menuju ruang pemeriksaan. Seperti janji Makutha, bocah laki-laki itu mendahului Berlian dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Eh, ada Pak Makutha!" goda Dokter Santi.
Makutha mengerutkan dahi, sambil menyipitkan matanya. "Ih, Doktel. Aku masih kecil, bukan bapak-bapak kayak ayah!"
__ADS_1
Dokter Santi dan dua perawat lainnya terkekeh melihat Makutha yang sedang merajuk. Dokter Santi akhirnya meminta maaf, dan kembali fokus dengan calon ibu di depannya ini.
"Ada keluhan apa, Bu Berlian?"
"Nggak ada, Dok. Hanya perasaan yang sering memburuk secara tiba-tiba."
"Jangan terlalu stres, ya, Bu. Kasihan putrinya. Nanti jadi ikutan sedih dan stres. Oh, ya, vitaminnya masih?"
"Tinggal sedikit, Dok."
"Baiklah, saya berikan resep lagi, ya?"
Dokter Santi mulai menulis di atas kertas dengan tulisan yang begitu indah. Hanya beberapa orang tertentu yang bisa membaca tulisan itu karena terlalu indah. Makutha melirik ke arah kertas yang sedang dicoret-coret Dokter Santi.
"Tulisan Doktel, jelek cekali!" celetuk bocah tampan itu.
Celetukan Makutha membuat seisi ruangan tertawa termasuk Berlian. Dia benar-benar terhibur karena kehadiran Makutha. Perasaan membaik sekarang. Makutha yang tidak menyadari ucapannya barusan sudah membuat mereka geli, hanya mengerutkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Dokter Santi melanjutkan kembali pemeriksaan dengan meminta Berlian berbaring di atas ranjang. Dia menggerakkan transduser ke atas perut perempuan itu, sambil menjelaskan kondisi janinnya yang sehat dan sempurna. Detik itu juga, Makutha kembali membuat seisi ruangan tertawa.
"Adik bayinya kok gocong, ya? Kacihan cekali! Di dalam pelut matahalinya panas banget, ya? Adik cih bandel! Kalo ciang itu bobok! Jangan main-main di lual! Cekalang gocong, 'kan?"