TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 45. Kesempatan Kedua


__ADS_3

Liontin menyapukan pandangan ke seluruh sudut kamar yang sekarang ia tempati. Perempuan itu, kini menyewa sebuah kamar kos untuk memulai kehidupan barunya tanpa Reza. Makutha sedang terbaring sambil mengigit teether berbentuk kumbang sembari menendang udara berulang kali.


Dua bulan sudah Liontin menghindar dari Reza dan ibunya, bahkan sengaja menghilang tanpa kabar. Setiap Cincin menanyakan kabar pernikahan, Liontin berdalih bahwa Reza sedang berada di luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Utha ... apa yang harus Ibu lakukan?" Liontin menghela napas kasar sambil menatap sendu Makutha.


Di tengah kegalauan hatinya, Liontin teringat akan pesan Cincin. Dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi sang kakak. Dia menelan ludah berulang kali sembari menunggu panggilannya diangkat.


"Halo ...."


"Mbak, bisa bicara sebentar?"


"Bicara saja, ada apa?" Suara ribut Nana membuat konsentrasi Cincin terbelah.


"Nana, bisa minta tolong tenang sebentar? Bulik Ontin lagi telepon!"


Sebuah senyum tipis terukir di bibir Liontin. Dia sadar bahwa kakaknya memiliki masalah tersendiri. Itulah sebabnya Liontin enggan membagi kepedihannya kepada sang kakak.


"Kita ketemuan aja di rumahmu, ya?"

__ADS_1


"Iya, Mbak. Liontin kirim alamat baruku ya?"


"Loh, kamu pindah rumah? Kok nggak ngabarin Mbak?"


"Ceritanya panjang, Mbak. Nanti Ontin ceritain semuanya kalau sudah di sini." Liontin mengakhiri sambungan telepon. Lalu jemarinya bergerak di atas layar ponsel untuk mengetikkan alamat kos yang ia tinggali sekarang.


Beberapa jam kemudian ....


Terdengar ketukan pintu dari luar. Liontin bergegas menghampiri seseorang yang ia pikir adalah Cincin. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat tubuh tegap laki-laki sedang memunggungi pintu.


"Kak Reza ...," lirih Liontin. Matanya terbelalak sambil menutup bibir dengan telapak tangan.


Rindu, satu kata yang ingin sekali Liontin ucapkan jika saja semuanya masih sama. Dia tidak dapat membohongi hatinya. Rasa rindu kepada sosok Reza yang selalu hadir menemaninya di kala susah dan senang menjadi candu tersendiri.


"Dari mana Kakak tahu kalau aku pindah ke sini?" Liontin berbicara tanpa menatap mata lelaki itu.


"Sebenarnya aku sudah lama mengetahuinya. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menemuimu, Liontin." Reza tersenyum kecut kemudian menyugar rambutnya yang mulai menutup tengkuk.


"Apa aku perlu pindah tempat lagi dan bersembunyi ke tempat lain setelah ini?" Liontin mendongakkan kepala dan menatap Reza dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku sudah tahu semuanya dari mama. Maaf." Ucapan Reza lirih hampir tidak terdengar.


"Maaf? Jadi Kakak juga tahu maksud Tante Risa mengijinkan kita menikah?" Air mata Liontin mulai bercucuran. Hatinya nyeri seakan diremas. Dada perempuan itu teras~a sesak karena tangis yabg tertahan.


"Itu ...."


"Pergi," ucap Liontin datar sambil melipat lengan di depan dada.


"Liontin, dengar dulu penjelasanku!" Reza memaksa untuk masuk ke kamar kosnya. Namun, Liontin terus berteriak histeris sambil menunjuk pintu keluar.


Makutha terbangun kemudian menangis karena keributan yang ditimbulkan dua orang dewasa itu. Liontin meraih tubuh sang putra dan mulai menenangkannya.


"Aku benar-benar minta maaf mengenai niat ibu yang memanfaatkan hubungan kita untuk balas dendam. Tapi, percayalah padaku! Perasaanku padamu tulus! Aku benar-benar mencintaimu Liontin!"


"Bohong! Kak Reza sebenarnya juga sama saja seperti Tante!" teriak Liontin.


"Aku benar-benar tidak peduli dengan dendam Mama! Aku ke Taiwan waktu itu diminta untuk menemui ayah kandungku! Tapi aku tidak pernah mau menemuinya!" Reza hampir putus asa ketika meyakinkan perempuan di hadapannya itu.


"Sebenarnya aku datang ke sana untuk menemuimu, karena mendapat kabar bahwa kamu bekerja di Taiwan. Tolong, beri aku kesempatan kedua. Kita lanjutkan lagi rencana pernikahan yang tertunda."

__ADS_1


"Aku tidak setuju!"


__ADS_2