TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 21: Ujian


__ADS_3

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Hasna kembali menemui Cio. Gadis otu mencoba untuk menghapus air mata yang sekaan tidak mau berhenti mengalir. Cio menanyakan keadaan Wahyu kepada Hasna.


"Apa kata dokter?"


Hasna meminta Cio balik badan. Gadis itu mulai menggerakkan jari telunjuknya di atas punggung Cio. Setiap Hasna selesai menuliskan satu huruf, Cio menyebutkannya. Sampai akhirnya tiga buah kata berhasip ia tebak. Cio terbelalak.


"Kanker paru-paru!" seru Cio dan kini lelaki itu membalik badan serta menatap wajah Hasna.


Hasna mengangguk dan tangisnya semakin pecah. Hati Cio seakan teriris melihat tangis gadis yang begitu ia sayangi itu. Akhirnya Cio menarik perlahan lengan Hasna dan memberikannya pelukan. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Cio.


"Menangislah, berbagilah kesedihan denganku agar aku juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Agar aku paham apa yang menjadi beban hatimu," ucap Cio lembut.


Setelah menenangkan Hasna dan mencoba mencari tahu mengenai penyakit Wahyu, Cio dibuat terkejut oleh kenyataan itu. Kanker paru-paru merupakan salah satu penyakit mematikan di dunia. Cio mengusap wajah kasar. Dia mendekati Hasna kemudian menggenggam jemari perempuan itu.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23:00. Cio berpamitan untuk pulang. Hasna harus merelakan temannya itu pulang. Sebenarnya dia ingin sekali Cio ada di sana. Entah mengapa keberadaan Cio membuat hatinya sedikit lebih tenang. Namun, dia tidak boleh egois. Cio juga memiliki kehidupannya sendiri.


"Hati-hati di jalan!" Hasna menggerakkan jemarinya kemudian melambaikan tangan.


Cio pun akhirnya melangkah pergi meninggalkan Hasna. Sebenarnya dia ingin tetap ada di sana. Lelaki itu tidak mau meninggalkan hadis kesayangannya dalam keadaan sedih. Namun, pasti sang ibu akan khawatir. Cio berpamitan untuk pergi mengantar buku pelajaran milik Hasna yang tadi tertinggal di mobil. Sialnya, ponsel milik lelaki itu tertinggal di kamar. Jadi ia tidak bisa menghubungi sang ibu.


Setelah Cio pulang, Hasna kembali masuk ke ruang ICU. Dia menatap sedih sang tante yang terkulai lemah serta kehilangan kesadarannya itu. Wahyu terlihat begitu pucat dan kurus.


Ada sebuah penyesalan tersendiri yang bergelayut di hati perempuan itu. Dia tidak pernah tahu beban dan rasa sakit yang dirasakan sang tante. Air mata kembali menetes. Seandainya waktu bisa diulang, Hasna ingin menghapus kebencian yang pernah ia rasakan terhadap Wahyu.


Namun, tentu saja hal itu tidak bisa ia lakukan. Sekarang dia hanya bisa berpasrah kepada keadaan dan mengharapkan keajaiban dari Sang Pencipta. Hasna terus berdoa dalam hati untuk kesembuhan Wahyu. Dia tidak sanggup hidup tanpa Wahyu. Perempuan itu adalah satu-satunya yang ia miliki saat ini.


Malam itu Hasna tertidur di samping ranjang tempat Wahyu berbaring sembari menggenggam jemari sang tante. Berharap bisa memberikan sedikit kekuatan untuk perempuan itu.


...****************...

__ADS_1


"Tolong, ya, Tante ...." Hasna menggerakkan jemarinya di depan dada.


Bintang hari itu bersedia menjaga Wahyu. Tak terasa sudah hampir enam bulan tantenya itu tak sadarkan diri. Bahkan tim medis menyarankan Hasna untuk mengikhlaskan Wahyu. Akan tetapi, Hasna belum mau. Dia masih ingin sang tante kembali sadar dan sembuh.


"Hasna berangkat sekolah dulu, ya, Tante. Assalamualaikum," pamit Hasna sembari mencium punggung tangan Bintang.


Dia keluar ruang ICU dan menghampiri Cio yang sedang memainkan ponsel. Cio menghentikan aktivitasnya ketika menyadari Hasna keluar dari ruangan tersebut.


Sebenarnya Hasna ingin sekali absen dan mengikuti Ujian Susulan saja hari itu. Perasaannya sedikit tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang akan ia lewatkan. Namun, Bintang dan Cio meyakinkan gadis tersebut untuk tetap berangkat ke sekolah.


Keduanya berjalan beriringan menuju tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, mereka langsung masuk mobil dan Cio melajukan mobilnya menuju sekolahan. Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke tempat mereka menuntut ilmu tersebut.


"Nanti, sepulang sekolah aku tunggu di parkiran, ya?" Cio tersenyum lebar diikuti anggukan Hasna.


Hubungan keduanya kini semakin bertambah dekat. Bunga-bunga cinta mulai bermekaran di hati kedua insan tersebut. Cio selalu ada untuk Hasna. Begitu juga dengan Hasna. Dia mulai bergantung pada Cio.


Sebenarnya gadis itu tidak ingin bergantung kepada siapa pun. Selama ini Wahyu selalu mengajarkan demikian. Bahkan, Hasna dilarang untuk bergantung kepada dirinya yang notabene adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Ketika sedang sibuk mengerjakan soal, tiba-tiba Lula mendorong kursinya menggunakan kaki. Kelas yang awalnya sunyi dan tenang kini sedikit terganggu karena suara kursi yang beradu dengan lantai. Sontak semua siswa serta guru pengawas menoleh ke arah mereka berdua.


"Ada apa, Na?" tanya Bu Dewi.


Hasna menggeleng. Kemudian kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan. Tak lama kemudian ketika Bu Dewi keluar dari kelas, Lula kembali mengganggunya. Kali ini temannya itu menarik ujung jilbab yang ia pakai. Hasna menoleh ke arah Lula yang kini menatapnya tajam.


"Tunjukkan lembar jawabanmu!" seru Lula dengan suara lirih.


Lula mengedarkan pandangan untuk memastikan keberadaan Bu Dewi. Dia bernapas lega karena sosok Bu Dewi yang belum kembali ke dalam kelas. Kali ini Lula kembali meminta lembar jawaban Hasna.


"Na, mana lembar jawabanmu?"

__ADS_1


Hasna tidak menggubris Lula yang semakin kasar. Hasna tetap fokus dengan soal di depannya. Lima soal lagi, dia dapat pulang lebih awal. Namun, kesabarannya habis ketika Lula kembali menarik kasar jilbab coklat yang ia pakai.


Kepala Hasna sampai mendongak, dan lehernya tercekik jilbab karena ulah Lula. Hasna memekik tapi tertahan di tenggorokan. Seisi kelas kini menatap keduanya heran.


"Apa kalian lihat-lihat!" seru Lula.


Beberapa dari mereka sampai menggelengkan kepala melihat sikap kasar Lula. Gadis itu tidak memiliki rasa jera, walaupun sudah dihukum beberapa waktu lalu karena masalah ponsel Rachel. Dia terus mengganggu Hasna tanpa bersalah.


Maaf, Lula. Jangan ganggu aku. Aku ingin cepat pulang.


Hasna memberikan selembar kertas kepada Lula yang sudah berisi kalimat tersebut. Lalu Lula menuliskan sesuatu ke kertas yang sama dan mengembalikannya pada Hasna.


Berikan dulu lembar jawabanmu. Nanti aku akan berhenti mengganggumu!


Hasna mendengus kesal, lalu menoleh. Dia tersenyum miring kemudian beranjak dari kursi. Gadis itu balik badan, kemudian menatap sinis Lula sembari melipat lengan di depan dada.


"Maaf, aku buru-buru. Minta saja lembar jawaban teman yang lain!" Hasna menggerakkan jemarinya. Dia sudah tidak peduli lagi, Lula mengerti ucapannya atau tidak.


Ternyata diam-diam Bu Dewi yang berada di luar kelas, tetap mengawasi murid-muridnya dari balik jendela. Sebuah senyum tipis terukir di bibir guru cantik tersebut. Setelah dipantau, hanya Lula yang bersikap tidak jujur saat ujian berlangsung.


Hasna melangkah keluar kelas, lalu memberikan lembar jawabannya kepada Bu Dewi yang kini ada di depan pintu. Perempuan itu tersenyum lembut. Lalu mengabarkan bahwa pihak Rumah Sakit menghubungi sekolah terkait kondisi Wahyu.


"Tadi, pihak Rumah Sakit menelepon. Mereka mengatakan bahwa ...."


Hasna mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir Bu Dewi. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Hasna meraih tangan Bu Dewi yang mencium punggung tangannya. Gadis itu setengah berlari menuju halte bus.


Ternyata benar firasatnya. Dia melewatkan satu hal penting mengenai sang tante. Air mata Hasna tak mau berhenti mengalir. Isak tangis juga mulai lolos dari bibirnya.


...****************...

__ADS_1


Semiga air mata bahagia yaa yang menetes dari mata Hasna 😢😢😢


__ADS_2