
Jalanan Kota Solo sore itu dipadati oleh kendaraan bermotor. Risa mengendarai mobil sedannya sambil terus menggerutu. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan di benak perempuan itu. Terutama mengenai sumber pendapatan keluarga calon suaminya itu.
Uang untuk membeli rumah yang sekarang Liontin tinggali, menyewa ruang ICU untuk drama lamaran beberapa hari lalu, hingga mobil sedan yang sekarang ia naiki. Belum lagi uang yang dibayarkan Reza kepada agensi untuk membawanya pulang ke Indonesia. Semua itu butuh uang yang tidak sedikit.
"Tante ...."
"Hm? Kenapa?" Risa terus fokus dengan jalanan di depannya, menoleh sekilas, dan kembali menatap lurus kedepan.
"Sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku." Liontin memainkan ujung topi pom-pom (bola wol) yang menghiasi topi Makutha.
"Apa? Katakan saja."
"Sebenarnya ... apa pekerjaan Reza?"
Mendengar pertanyaan Liontin membuat Risa mengerem mobilnya secara mendadak. Tubuh kedua terbanting ke depan. Untung saja mereka memakain sabuk pengaman, hingga kondisi mereka aman.
"Ah, i-itu .... Nanti coba tanya ke Reza, ya? Oke?" ucap Risa ragu sambil mengulaskan senyum canggung.
Rasa kecewa berkecamuk di dada Liontin. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarga mereka. Akhirnya, Liontin memutuskan untuk diam.
Tak lama kemudian, mobil Risa memasuki kawasan perumahan elit. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka. Ketika memasuki halaman rumah, Liontin menganga. Rumah itu terlohat begitu mewah.
__ADS_1
Pilar rumah Risa terbuat dari batu marmer berwarna putih. Pekarangan rumah mereka ditanami beraneka macam bunga yang mengelilingi air mancur. Liontin keluar dari mobil dan mengikuti Risa yang melangkah memasuki rumah.
"Ayo, masuk!" Risa menggandeng lengan Liontin dan mulai berjalan beriringan menuju dapur.
"Kata Reza, hari ini Makutha berumur 4 bulan, ya?"
"Iya, Tante." Liontin tersenyum tipis. Dia tak menyangka calon suaminya itu begitu perhatian terhadap Makutha. Dia mengingat tanggal lahir putranya, walaupun bukan darah daging lelaki itu.
"Mau bantuin Tante masak? Makutha biar sama Mbok Darmi."
Tak lama kemudian perempuan berusia enam puluh tahunan menghampiri mereka. Mbok Darmi meraih tubuh mungil Makutha kemudian menimang bayi yang masih terjaga itu.
"Gudeg Solo. Bantu siapin bahan, ya?"
Liontin mengangguk setuju dan mulai menyiapkan bahan untuk membuat makanan khas Solo itu. Setelah semua selesai, keduanya menghidangkan masakan di atas meja makan.
"Kamu mandi dulu, kamar tamu ada di sana. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Tadi Makutha sudah dimandikan juga sama Mbok Darmi."
"Iya, Tante."
Liontin melangkah menuju kamar yang tadi ditunjuk Risa. Perempuan itu berdecak kagum saat memasuki kamar berukuran sembilan meter persegi itu.
__ADS_1
"Kamar tamu, semewah ini?"
Ruangan itu diisi dengan furnitur kayu berbahan kayu jati dengan ukiran khas Jepara. Selain itu terdapat pendingin ruangan, lemari pendingin, dan juga televisi yang lumayan besar.
Saat memasuki kamar mandi, Liontin dibuat kembali berdecak kagum. Tidak ada bak mandi seperti di rumah yang ia tinggali. Di ruangan kecil itu terdapat bathub dan juga shower untuk mandi ataupun berendam.
"Rumah orang kaya memang beda!"
Liontin mengisi bathub dengan air hangat dan memasukkan cairan bubble bath dan minyak beraroma lavender ke dalamnya. Setelah selesai, Liontin menanggalkan pakaiannya satu per satu dan mulai berendam. Dia sampai tertidur di dalam bathub. Dia terbangun saat pintu kamar mandi diketuk.
"Liontin! Kamu nggak ketiduran, kan di dalam!"
Suara Reza terdengar begitu panik, Liontin segera keluar dari bathup dan melilitkan handuk di dadanya. Dia langsung membuka pintu kamar mandi. Di luar kamar mandi, Reza sudah menunggunya sambil menggendong Makutha yabg sedang menangis.
"Makutha kenapa?"
Reza memberikan bayi mungil itu kemudian mengalihkan pandangannya dari tubuh Liontin yang setengah polos.
"Ah, itu sepertinya dia kehausan. A-aku keluar dulu!" Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan segera beringsut dari hadapan Liontin.
"Kak Reza kenapa?" Liontin mengerutkan dahi kemudian menggeleng perlahan. Perempuan itu mulai melangkah ke arah ranjang dan duduk di atasnya untuk menyusui Makutha.
__ADS_1