TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 17: Tega!


__ADS_3

Bu Desi dan Bu Winda kini menatap keempat muridnya yang duduk di sofa. Bu Winda mendekati Makutha sambil melemparkan tatapan intens.


"Tha, Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?"


"Yakin, Bu. Saya melihatnya sendiri ketika kemarin memanjat dinding sekolah buat bolos."


"Baiklah, kita tunggu mereka bertiga." Bu Desi tersenyum tipis kemudian mendekati Hasna.


"Sabar, ya, Na. Kita cari kebenarannya bersama," ucap Bu Desi sembari mengusap lembut jemari Hasna.


Hasna mengangguk pelan. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Seorang murid laki-laki dan dua murid perempuan masuk ke Ruang BP. Mereka adalah Lula, Abel, dan juga Krisna.


"Ada apa, ya, Bu?" tanya Lula.


Bu Winda dan Bu Desi saling menatap. Bu Desi mengangguk pelan lalu meminta Cio untuk menutup pintu ruangan tersebut.


"Kami hanya ingin mendengar di mana kalian saat ponsel Rachel hilang." Bu Desi tersenyum lembut kemudian menatap wajah Lula, Abel, dan Krisna bergantian.


"Aku dan Lula jajan di kantin, Bu."


"Jam berapa kalian ke kantin?" Bu Winda kini yang mengajukan pertanyaan.


"Setengah satu siang, Bu," jawab Abel.


"Berarti sekitar 30 menit sebelum kejadian, ya?" Bu Desi mengangguk-angguk sambil mengusap dagu.


"Kalau kamu, kemana, Kris?" Bu Desi menatap intens lelaki di depannya itu.


Krisna menunduk, jemarinya meremas celana putih yang ia pakai. Sesaat kemudian dia mendongak lalu melirik Makutha. Teman bolosnya kemarin itu mengangguk mantab.


"Sa-saya dan Makutha bolos, Bu." Krisna mengusap tengkuknya. Lelaki itu menelan ludah berkali-kali karena mendapat firasat buruk.


"Kalau kamu, Chel?" Kini tatapan Bu Winda mengarah pada Rachel.


"Saya sebenarnya tidur dari jam pelajaran Pak Sayuti dimulai. Hari itu saya sedang tidak enak badan. Dan kebetulan beliau tidak hadir. Jadi, saya memutuskan untuk tidur sampai jam pelajaran selesai, Bu."


"Berarti 45 menit sebelum kejadian, ya?" tanya Bu Desi.


Rachel mengangguk. Bu Desi kini menatap Cio yang terlihat tenang. Guru BP tersebut tersenyum simpul saat menangkap basah Cio yang mencuri pandang ke arah Hasna.


"Cio ...," panggil Bu Desi.


Cio terperanjat, kemudian menoleh kepada Bu Desi. Pipinya merona manakala sang guru tersenyum penuh arti. Cio mengulum senyum lalu mengusap tengkuknya.

__ADS_1


"Apa yang menjadikanmu sangsi atas tindakan Hasna yang mencuri ponsel Rachel?"


"Saat menemukan ponsel itu di tasnya, Hasna terlihat begitu terkejut, Bu. Bahkan tangannya gemetar."


Bu Winda dan Bu Desi saling tatap. Sedetik kemudian, Bu Winda mengangguk. Perempuan itu ikut mendekat ke arah Hasna, menghampiri Bu Desi yang masih berdiri tenang di samping gadis itu.


"Iya, dia benar. Jemari Hasna gemetar saat menunjuk ke arah bangkunya sendiri," bisik Bu Winda.


"Terlebih lagi, bisa saja Hasna langsung mengantongi ponsel itu dan mengatakan tidak menemukan apapun di tasnya. Bukankah dia terlalu jujur untuk standar seorang pencuri?" Cio tersenyum tipis sembari melirik Hasna.


"Masuk akal, sih, Bu." Bu Desi setengah berbisik kepada Bu Winda.


Kini tatapan keduanya tertuju kepada Makutha. Mereka menantikan kesaksian dari lelaki itu. Makutha tersenyum sekilas, lalu mulai berbicara saat Bu Winda menyuruhnya.


"Jadi, sesaat sebelum saya bolos sekolah bersama Krisna, saya melihat ...."


...****************...


"Bro, bosen banget! Kita ke bolos aja yuk! Lagipula ini jam pelajaran terakhir!" seru Makutha kepada Krisna.


"Cocoklah! Kuy!" Krisna langsung meraih tasnya dan disambar oleh Makutha.


"Eh, bolos juga pakai otak!" seru Makutha.


"Aku bawa tasnya, kamu keluar duluan. Kutunggu di samping jendela sana." Makutha menunjuk jendela yang ada di samping bangku Hasna.


"Oke!"


Krisna keluar kelas, sedangkan Makutha mulai mendekat ke jendela untuk melemparkan tasnya keluar. Ketika sedang menunggu Krisna sampai, dia melihat Lula dan Abel mendekati Hasna. Lelaki itu mau tidak mau mendengar obrolan keduanya. Hasna diajak oleh mereka pergi ke kantin.


Awalnya Hasna menolak, tetapi akhirnya dia ikut karena Abel terus memaksa. Melihat tingkah dua orang itu membuat Makutha menggeleng. Namun, dia tidak begitu memedulikannya. Baginya yang penting saat ini bisa keluar dari sekolah dengan aman.


"Ssst! Utha!" panggil Krisna setengah berbisik.


Makutha melongok ke luar jendela, lalu melemparkan tasnya dan tas Krisna asal. Setelah itu, Makutha setengah berlari keluar kelas menyusul temannya itu. Sesampainya di luar kelas, dia memanjat tembok terlebih dahulu. Namun, dia mengurungkan niat ketika Krisna menarik kemejanya.


"Apa, sih!" gerutu Makutha.


"Lihat!" Krisna menunjuk ke dalam kelas.


Di dalam kelas terlihat Fiska sedang menggenggam ponsel berwarna keemasan sambil memerhatikan kanan kiri. Makutha mengabaikan gadis itu lalu mengajak Krisna untuk segera memanjat tembok, karena melihat Pak Qosim --satpam sekolah-- mulai berlari ke arah mereka.


...****************...

__ADS_1


"Jadi begitu, Bu ...."


Bu Winda kini menatap tajam ke arah Lula dan Abel yang tertunduk lesu. Bu Desi mendekati keduanya sambil tersenyum tipis.


"Lula, Abel ... apa kalian juga terlibat dengan insiden ini?" tanya Bu Winda.


"Nggak, Bu! Aku hanya berniat baik untuk mentraktir Hasna makan di kantin!" sanggah Lula.


"Tapi, kenapa kalian semua tidak kembali bersamaan?" Cio mengerutkan dahi sembari mengusap dagu.


"Ah, i-itu ...."


"Dan lagi ... kalian melaporkan lebih dulu kepada Ibu, lima menit sebelum kelas gaduh karena Rachel kehilangan ponselnya. Ibu melewatkan hal ini kemarin." Bu Winda tersenyum miring sambil menatap kedua siswinya itu.


"Krisna, bisa minta tolong panggilkan Fiska?" ucap Bu Dewi.


"Baik, Bu." Krisna langsung keluar dari ruangan itu, selang beberapa menit Fiska masuk.


"Ada apa, ya, Bu?" tanya Fiska keheranan.


"Kamu di mana saat Rachel kehilangan ponselnya?" tanya Bu Winda tanpa basa-basi.


Fiska terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Gadis itu tertunduk lesu. Entah mengapa dia tak sanggup berkilah mengenai kejadian tersebut. Perbuatan buruknya sudah terbongkar.


"Makutha dan Krisna melihatmu berdiri di samping bangku Hasna ketika dia pergi ke kantin bersama Abel dan juga Lula. Apa benar, kamu yang menaruh ponsel Rachel ke dalam tas Hasna?"


"Maaf, Bu," ucap Fiska lirih hampir tak terdengar.


"Fis, kita udah lama temenan. Maksudmu apa melakukan hal ini?" tanya Rachel sembari menatap sedih ke arah teman sebangkunya itu.


"Aku merasa kamu mengabaikanku sejak kita akrab dengan Hasna!" teriak Fiska.


Bibir Fiska gemetar. Dadanya kembang kempis karena menahan sesak. Mata gadis itu mulai berair dan jemarinya mengepal erat di samping badan.


"Aku tidak suka ada teman lain yang lebih dekat denganmu, Chel! Aku benci!"


Rachel bergidik ngeri mendengar ucapan temannya itu. Dia berpikir negatif karenanya. Ingatannya mengenai beberapa momen kebersamaannya dengan Fiska juga memperkuat dugaannya.


"Fis-Fiska ... a-apa kamu ...?"


"Iya, aku suka kamu, Chel."


Seisi ruangan itu terbelalak mendengar pernyataan Fiska. Mereka tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata penyuka sesama jenis. Namun, mereka semua memilih untuk diam dan tidak berkomentar. Abel, Fiska, dan Lula akhirnya diberi hukuman untuk membersihkan toilet selama satu bulan penuh. Sedangkan hari itu Krisna dan Makutha diberi hukuman membantu petugas perpustakaan selama dua hari, karena membolos kemarin.

__ADS_1


__ADS_2