TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 20: Pukulan Berat


__ADS_3

Hasna membawa kepingan hatinya yang hancur, karena perlakuan kejam para tetangganya. Dia berharap air hujan dapat membasuh rasa dendam yang mulai tumbuh untuk mereka. Hasna terus berjalan gontai di bawah guyuran hujan.


Ketika sampai di depan rumah, Hasna melihat mobil Cio terparkir di sana. Gadis itu segera berlari dan mengetuk kaca jendela. Tuhan begitu baik, mendengarkan serta mengabulkan permohonan detik itu juga.


"Na, kamu ngapain ujan-ujanan?" tanya Cio panik.


"Tolong, aku! Bulik pingsan!" Hasna menggerakkan jemarinya yang gemetar karena kedinginan.


"Apa? Aku nggak ngerti, Na?" Cio mengerutkan dahi.


Hasna akhirnya membuka pintu mobil lalu menarik lengan Cio. Lelaki itu turun dari mobil dan mengekor di belakang Hasna. Ketika sampai di kamar Wahyu, dia terbelalak.


"Astaga! Kenapa Bulik Wahyu?" Cio mendekati perempuan yang kini tergolek lemas di atas lantai itu.


Hasna menggeleng lemah. Tangisnya kembali pecah. Cio memeriksa denyut nadi Wahyu. Masih terasa berdenyut. Tetapi suhu tubuh perempuan itu terasa begitu dingin.


"Ayo kita bawa ke Bulik Wahyu ke Rumah Sakit!"


Cio langsung membopong tubuh kurus Wahyu dan melangkah lebar menuju mobil. Air hujan yang semakin turun dengan deras membuat pandangan Cio terganggu. Lelaki itu terpaksa mengendarai mobil perlahan, agar keselamatan mereka terjaga.


Jika biasanya hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di rumah sakit, Kali ini Cio membutuhkan waktu lebih dari 30 menit. Setelah sampai Rumah Sakit, tim medis langsung menangani Wahyu. Mereka membawa perempuan paruh baya itu ke ruang IGD. Hasna dan Cio menunggu di luar ruangan sembari mengucapkan doa terbaik untuk kesehatan Wahyu.


"Sabar, ya, Na."


Hasna terus menangis sesenggukan. Dia memeluk tubuhnya sendiri agar lebih kuat. Di sisi lain, Cio sangat khawatir melihat kondisi Hasna saat ini. Lelaki itu melepaskan jaket, kemudian ia pakaikan ke tubuh Hasna.


"Pakailah dulu. Tunggu di sini sebentar, ya?"


Cio keluar dari rumah sakit dan berjalan kaki ke seberang jalan. Sebuah gedung mewah terlihat begitu gempita karena ramai oleh lampu hias dan juga lampu boks brand makanan, dan fashion terkenal. Cio segera menuju toko yang menjual pakaian.


Baru saja melangkah masuk, seorang Pramuniaga cantik menyapanya. Perempuan itu memakai kemeja salur yang dilapisi rompi di bagian luarnya.


"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pramuniaga tersebut.

__ADS_1


"Bisa carikan setelan baju panjang untuk gadis SMA? Jilbabnya sekalian!" seru Cio, lelaki itu melirik name tag yang tertempel di dada kanan Sang Pramuniaga. Perempuan cantik itu ternyata bernama Hilda.


"Ukurannya, Kak?" tanya Hilda ramah.


"Aduh, berapa, ya? Saya nggak tau, Kak?" Cio menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu.


"Kira-kira setinggi apa orangnya? Bisa tunjuk satu orang di sini?" Hilda mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko.


"Setinggi Kakak, tapi badannya lebih kurus."


"Baiklah, tunggu sebentar." Hilda menuju konter pakaian khusus perempuan.


Tak lama kemudian, pramuniaga cantik itu kembali sambil membawa setelan kemeja dan celana panjang berbahan katun rayon. Pakaian tersebut memiliki warna dasar Turkish (tosca/biru pirus) dengan motif bunga Daisy berwarna putih.


"Ini, Kak. Untuk jilbabnya, mau warna apa?" tanya Hilda ramah.


"Ah, terserah, Kak. Bisa minta tolong sedikit lebih cepat? Saya sedang buru-buru," pinta Cio sopan.


"Baiklah, saya buatkan notanya dulu." Gadis itu mulai menuliskan sesuatu di atas buku nota, kemudian menyerahkannya kepada Cio.


"Cio!" teriak seseorang.


Ketika menoleh Cio melihat seorang perempuan muda, setengah berlari menghampirinya. Gadis itu memakai setelan blazer hitam dengan rambut yang ditata layaknya Pramugari.


"Mbak Nana!"


Masih ingat Nana? Ya, Nana adalah kakak sepupu Makutha. Perempuan itu bekerja di toko tersebut tanpa sepengetahuannya. Dia dan Nana juga akrab layaknya kakak beradik. Sejak kecil memang keduanya sering bermain bersama.


"Kamu, beli apa?" Nana melirik jemari Cio yanh sedang menenteng kantong plastik berlogo toko tempat ia bekerja.


"Ini, baju buat teman. Dia kehujanan. Mbak, maaf ya? Aku buru-buru. Kasihan temenku sudah kedinginan."


"Oh, oke! Hati-hati di jalan, ya?"

__ADS_1


...****************...


Di rumah sakit, Hasna tertegun ketika mendengar penjelasan dari sang dokter. Sebuah kenyataan pahit harus ia terima. Kanker paru-paru.


"Stadium 4b. Sel kanker sudah menyebar keluar dari paru-paru, dan kini mulai menyerang fungsi otak."


Hasna hanya bisa terdiam. Dia menangis tanpa suara. Dokter laki-laki di hadapannya itu terus menyampaikan apa yang harus diketahui oleh Hasna. Sebenarnya dia juga tidak tega mengungkapkan semuanya. Namun, mau bagaimana lagi? Sudah tugasnya untuk menyampaikan hasil pemeriksaan kepada keluarga pasien.


Hasna merogoh saku kemeja untuk mengambil buku catatan kecil miliknya. Dia hendak menulis beberapa pertanyaan terkait kondisi Wahyu. Namun, buku tersebut basah dan kertasnya menempel satu sama lain. Keadaan buku itu sama seperti hatinya saat ini, hancur tak berbentuk.


Sang dokter menyadari bahwa Hasna membutuhkan alat tulis, dia pun menyodorkan selembar kertas kosong dan sebuah pena. Hasna menarik lesu dia benda tersebut, lalu mulai menorehkan tinta ke atas kertas.


Apa Bulik bisa sembuh?


"Maaf, kemungkinannya sangat kecil. Terlebih lagi, sel kanker sudah menjalar ke otak. Pasien sekarang dalam kondisi koma," terang sang dokter setelah membaca tulisan Hasna.


Apa tidak bisa melakukan tindakan operasi atau yang lain? Kalau bisa ambil saja paru-paruku untuk Bulik!


Pandangan Hasna semakin kabur karena air mata. Dokter tersebut menghela napas kasar. Dia menggeleng kemudian membetulkan letak kacamata yang menggantung pada batang hidungnya.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tetap sabar dan terus berdoa, ya? Jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin!"


Hasna berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Gadis itu berniat untuk pulang terlebih dulu. Dia ingin mengambil beberapa pakaian ganti. Namun, ketika sampai di depan IGD Cio memanggilnya.


"Hasna! Kamu ke mana saja?" Cio setengah berlari menghampiri Hasna.


Hasna tak mampu lagi menjawab. Tangisnya pecah. Air mata gadis itu bercucuran tanpa henti. Melihat kondisi Hasna yang kacau tentu saja membuat hati Cio ikut terasa nyeri. Dia ingin sekali membawanya ke dalam pelukan, agar hati Hasna sedikit lebih tenang. Akan tetapi, dia mengurungkan niat. Cio tidak mau dituding mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Ba-baiklah, ganti dulu pakaianmu." Cio menyodorkan kantong plastik berisi pakaian yang tadi sengaja ia beli untuk Hasna.


Hasna meraih kantong plastik tersebut, kemudian mencari toilet untuk ganti baju. Setelah selesai, Hasna kembali menemui Cio.


...****************...

__ADS_1


Ehem, novel yang bakal rilis bulan depan, ada hubungannya sama episode ini loh. Kira-kira ... siapa ya tokoh utamanya?


__ADS_2