TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 70. Dikunjungi David


__ADS_3

Liontin menatap secarik kertas yang berisi foto hasil USG yang ia terima. Senyum merekah menghiasi bibir perempuan itu. Dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Kesehatan Liontin pun baik.


Hanya saja, keadaan Reza masih belum normal. Lelaki itu masih sering mual dan muntah di pagi hari. Reza juga suka melakukan sesuatu yang biasanya benar-benar tak disukainya. Reza sering minta dibuatkan jus alpukat, dibaluri minyak angin, benci makanan Jepang, dan jarang mandi.


"Bunda, itu foto dedek?" tanya Makutha.


"Iya, lucu, 'kan?" Liontin tersenyum lebar kemudian menunjukkan foto itu kepada Makutha.


Makutha mengerutkan dahi bersiap untuk berkomentar. "Kok kecil? Nggak ada lambutnya? Adik nggak punya lambut, Bun?"


"Punya, dong. Tapi, belum tumbuh panjang."


Liontin memutar otak untuk menjelaskan hal itu kepada sang putra, dengan bahasa yang bisa ia mengerti. Di usia kandungan 12 minggu, baru terbentuk folikel sehingga rambut belum tumbuh sempurna. Sebuah ide muncul di benaknya. Perempuan itu tersenyum konyol ke arah Reza, kemudian mencabut paksa rambut lelaki itu.

__ADS_1


"Maaf, ya, Ayah. Nanti malam hukum aja istrimu ini!" Liontin mengedipkan mata berulang kali untuk menggoda sang suami.


Mendengar kode dari Liontin, rasa kesal yang menyelinap di hati Reza seketika balik kanan, dan menguap ke udara. Dia mengacungkan jempol penuh semangat sambil mengerlingkan mata kanan.


"Utha lihat ini?" Liontin menunjukkan selubung bening yang menutup pangkal rambut Reza, diikuti anggukan Makutha yang terlihat antusias.


"Ini yang namanya folikel. Nah, umur adik di dalam perut kan baru 12 minggu, bagian ini saja yang baru tumbuh." Liontin tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.


"Nah, nanti semakin umur adik bertambah bakal tumbuh rambut seperti Makutha. Semakin lama semakin banyak dan panjang."


"Jadi, kenapa adik nggak punya rambut di foto itu, Bunda?"


Reza dan Pak Rudi langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Liontin menepuk jidatnya karena merasa usahanya kali ini sia-sia.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat David sudah berdiri di sana sambil menggandeng Jia. Gadis itu kini sudah berusia tujuh tahun. Ketika melihatnya, Liontin seakan melihat mantan majikan perempuannya. Ellena.


Reza memepercepat langkahnya dan menghampiri David. Ketika sampai di hadapannya, dia menatap tajam lelaki itu, sambil sesekali melirik Jia yang sedang menatap Liontin.


"Untuk apa kamu ke sini?"


"Aku mengantar titipan papa dan mama untuk kalian." David menunjukkan tas kertas berwarna merah kepada Reza.


Liontin berdeham, kemudian mendekati dua lelaki yang sedang perang dingin itu. "Ki-kita masuk dulu, yuk! Di luar panas!"


Liontin menarik lengan Reza yang masih bergeming sambil terus menatap tajam David. Rahang lelaki itu mengeras dan urat sekitar matanya terlihat menonjol. Liontin akhirnya menarik kasar lengan sang suami agar mau mengikutinya.


"Duduk dulu, ya? Aku bantu Makutha buat ganti pakaian?"

__ADS_1


Setelah Liontin menghilang dari tatapan keduanya, David menyodorkan tas itu kepada Reza. "Mama bilang, Liontin menelepon dan memberitahukan, kalau kamu merajuk karena ingin minum Teh Oolong dan Nougat."


Sebenarnya air liur Reza seperti hendak menetes ketika mendengar dua jenis minuman dan camilan manis khas Negeri Formosa itu. Namun, egonya terlalu tinggi untuk sekedar mengangguk atau mengucapkan terima kasih. Dia hanya melirik bungkusan itu sambil terus menelan air liur agar tak menetes keluar.


__ADS_2