
Tinggal Cio dan Bu Dewi di ruang kelas. Cio terus menggerutu dalam hati. Kenapa harus saat Mata Pelajaran Fisika ada kejadian penting yang sepertinya menyangkut Hasna. Cio paling sulit memahami pelajaran tersebut. Jadi dia membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab soal fisika yang diberikan.
Setelah berusaha mati-matian mengerjakan soal itu, akhirnya Cio selesai. Lelaki itu bergegas mendekati meja guru dan menyerahkan lembar soal dan jawaban miliknya kepada Bu Dewi. Dia menanyakan hal yang sama seperti Makutha kepada sang guru. Cio takut ada hal buruk terjadi kepada Hasna.
"Bu, sepertinya ada suatu hal penting mengenai Hasna. Boleh saya tahu?" tanya Cio penasaran.
"Ah, itu ... tadi pihak Rumah Sakit mengabarkan kepada kami, kalau Bulik Hasna sudah sadar. Mereka meminta pihak sekolah menyampaikan kabar baik ini, agar Hasna fokus terhadap Ujian Kenaikan Kelas." Dewi tersenyum lembut sembari merapikan berlembar-lembar kertas soal dan jawaban.
"Syukurlah."
Mendengar jawaban dari Bu Dewi membuat hati Cio lega luar biasa. Lelaki itu langsung keluar dari kelas dan menuju parkiran. Saat sampai di parkiran, ternyata Rachel masih menunggunya.
"Cio!" panggil Rachel sambil setengah berlari menghampiri temannya itu.
"Ya! Kamu belum pulang, Chel?"
"Belum, nunggu kamu! Mau nebeng!" seru Rachel sambil terkekeh.
"Kamu buru-buru pulang nggak? Soalnya aku mau jenguk Buliknya Hasna dulu."
"Oh ya, aku juga udah lama nggak tengokin Bulik Wahyu. Bolehlah ikut sekalian!"
Akhirnya Cio dan Rachel langsung pergi ke Rumah Sakit menggunakan mobil Cio. Setelah sampai di tempat pelayanan kesehatan tersebut, Rachel meminta Cio untuk masuk duluan.
"Kamu duluan aja, Cio. Aku mau ke seberang dulu buat beli buah-buahan untuk Hasna. Kasihan dia butuh vitamin lebih supaya nggak ikutan sakit." Rachel menunjuk pusat perbelanjaan modern di seberang Rumah Sakit.
"Oke, aku tunggu di dalam, ya?" Cio tersenyum tipis kemudian melangkah masuk ke gedung Rumah Sakit.
Abercio setengah berlari menuju ruang tempat Wahyu di rawat. Dia ikut merasa lega atas kabar yang didapatkan dari pihak Rumah Sakit. Dia berharap tidak ada lagi mendung di wajah Hasna. Cio tahu betul senyum Hasna beberapa bulan terakhir ini terukir, semata untuk membuat hati orang di sekitarnya tenang.
Beberapa kali Cio memergoki Hasna menangis sendirian di dalam ruang ICU. Terkadang gadis itu juga melamun saat jam pelajaran. Gurat wajah lelah setiap hari ia lihat pasti karena Hasna susah tidur setiap malam.
Langkah Cio seketika berhenti saat melihat Makutha sedang menyuapi Hasna. Darahnya seakan mendidih melihat sikap sahabatnya itu. Bukankah Makutha pernah bilang kalau dia tidak menyukai Hasna? Lalu apa ini?
__ADS_1
Jelas terlihat dari pancaran mata Makutha ketika memandang Hasna. Sangat terlihat kalau sahabatnya itu memiloki perasaan terhadap Hasna. Belum lagi perlakuan manis yang bahkan belum pernah ia lakukan untuk Hasna.
Dada laki-laki itu seakan terbakar. Rahangnya mengeras, dengan jemari yang mengepal kuat. Dia ingin sekali memaki Makutha. Akan tetapi, dia sadar bahwa tidak memiliki hak apapun atas Hasna.
Cio harus memastikan satu hal lagi. Memastikan Hasna juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Cio menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar. Lelaki itu mulai melangkah mendekati dua orang yang begitu dekat dengannya tersebut.
"Cio!" seru Makutha ketika menyadari kehadiran Cio.
Hasna sontak berdiri ketika mendengar Makutha mengucapkan nama Cio. Hasna menoleh dan mendapati Cio kini sudah berada di belakangnya. Tatapan lelaki itu terlihat tidak bersahabat. Cio mulai melangkah mendekati Makutha.
"Hasna, masuklah. Jangan sampai kamu tidak ada saat Bulik Wahyu membuka mata." Suara Cio terdengar begitu dingin dan mengintimidasi.
Hasna mengangguk, kemudian melirik Makutha yang sedang tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya. Gadis itu langsung masuk ke ruang ICU tanpa protes sedikit pun. Setelah memastikan Hasna menutup pintu dan duduk di dekat ranjang Wahyu, Cio mulai angkat bicara.
"Bisa bicara sebentar, Tha?" tanya Cio sembari melemparkan tatapan tajam. Rahang lelaki itu terlihat mengeras hingga menampilkan urat kebiruan di sekitar pelipisnya.
"Bisa, kebetulan aku lagi senggang. Ada apa? Sepertinya serius sekali?" Makutha tersenyum tipis.
"Mengenai Hasna." Cio kembali menatap Makutha sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.
"Ada apa dengan Hasna?"
"Apa ... sebenarnya kamu juga menyukainya?"
Lidah Makutha seakan kelu. Dia bimbang akan jawaban yang akan ia berikan. Jika dia mengakui perasaannya terhadap Hasna, lelaki itu takut akan berimbas buruk terhadap persahabatannya dengan Cio. Namun, hatinya juga merasa sesak karena selalu menyimpan kebohongan selama ini. Hampir satu tahun dia membohongi Cio bahkan dirinya sendiri, mengenai perasaannya terhadap Hasna.
"Kamu mau jawaban jujur atau bohong?" tanya Makutha sembari tersenyum miring.
Cio mengerutkan dahi. Sebenarnya dia tahu bahwa Makutha dan dirinya menyukai gadis yang sama. Semua tampak jelas dari sorot mata Makutha setiap menatap Hasna. Namun, dia ingin mendengarnya langsung dari bibir sang sahabat.
"Bohong," jawab Cio singkat.
"Aku ... menyukai Hasna."
__ADS_1
Jantung Cio seakan berhenti berdetak. Walau Makutha mengatakan bahwa dirinya sedang berbohong, tetapi ucapan sahabatnya itu justru terdengar seperti sebuah kejujuran. Makutha tiba-tiba terkekeh.
Lelaki itu sampai memegangi perutnya. Ujung mata Makutha mulai basah karena air mata. Cio melongo melihat sikap sang sahabat. Dia mengerutkan dahi kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu itu, harus berapa kali aku mengatakannya? Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Hasna. Aku peduli padanya karena kita teman. Astaga Cio!"
"Ya ... habisnya kamu tidak pernah sebegitu pedulinya terhadap orang lain. Tetapi dengan Hasna, kamu terlihat begitu peduli."
"Hasna itu spesial, Cio!" seru Makutha spontan.
Detik itu juga Cio langsung menyipitkan matanya. Ucapan spontan Makutha membuatnya kembali ragu. Dugaan bahwa sang sahabat menyukai Hasna kembali mencuat.
"Special?" Abercio menautkan kedua alisnya.
"Ah, itu ... maksudku dia kan ...." Makutha mengalihkan pandangannya, sembari menelan ludah kasar.
"Ah, dia ... bukankah Hasna memang orang yang spesial'?" Makutha membentuk tanda kutip di samping kepalanya dengan jari tengah dan telunjuk, ketika mengucapkan kata spesial.
"Baiklah. Aku sebenarnya ingin mundur mengejar cinta Hasna, jika kali ini kamu mengaku bahwa juga menyukainya." Cio tersenyum tipis kemudian menyugar rambutnya.
"Aku kan sudah bilang dari awal. Aku hanya sekedar peduli kepada Hasna. Aku tidak memiliki perasaan lain. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Jika sudah berhasil, aku adalah orang pertama yang akan memberimu selamat." Makutha menepuk lengan atas Cio.
Sebenarnya ingin sekali Makutha menggigit lidahnya sendiri karena telah berbohong. Dia yakin akan mendapatkan hukuman setimpal atas kebohongan yang sejak awal dia buat itu.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan mundur lagi! Aku tidak akan melepaskan Hasna kepada siapa pun! Termasuk dirimu! Aku tidak mau mengalah! Aku akan mengungkapkan perasaanku kepada Hasna, setelah memastikan dia juga memiliki perasaan yang sama denganku."
...****************...
Karma apa yaaa yang nanti akan didapatkan oleh Makutha karena telah membohongi perasaannya sendiri?
Btw mampir juga yukk ke Karya salah satu teman Author Chika.
__ADS_1