TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 68. Reza Beraroma Jompo


__ADS_3

Liontin tersenyum kecut mendengar ucapan sang anak. Dia melirik sang suami yang wajahnya merah padam karena menahan marah. Bagaimana bisa dia berpikir sejauh itu? Liontin menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan.


"Utha, dengar Bunda." Liontin merangkum wajah Makutha sambil tersenyum tipis. Makutha pun menatap intens sang ibu.


"Memiliki adik itu, berarti kita mendapatkan rejeki dari Tuhan. Bahkan dengan memiliki adik, nantinya Makutha jadi punya teman bermain. Bukankah lebih seru."


"Aku mau kalau adik sepelti Utha!" Makutha memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan.


"Pasti! Nanti, adik bakal mirip Utha! Tampan seperti Papa!" seru Reza sembari tersenyum sombong.


"Nggak! Bukan itu! Utha maunya adik laki-laki! Kayak adik Cio! Nanti, kami bica main cama-cama bial nggak cedih!"


"Masalahnya ... kita nggak bisa menentukan punya adik laki-laki atau perempuan, Utha." Reza tersenyum konyol, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang sedang mengeras karena gemas dengan sikap sang putra.


Liontin menarik pelan lengan Reza kemudian menggeleng pelan. Perempuan itu menggeleng pelan kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan Makutha dengan topik lain. Jika diteruskan, ia yakin yang ada Reza semakin meledak dengan kondisi psikisnya saat ini.


"Utha, sianh ini mau makan apa? Bagaimana kalau kita makan sushi?"


"Tidak!" teriak Reza.

__ADS_1


"Mau!" seru Makutha bersamaan dengan Reza.


Dua laki-laki beda usia itu mengerutkan dahi, dan saling melemparkan tatapan tajam. Dua-duanya mengerucutkan bibir sembari melipat lengan.


"Ah, bagaimana kalau kita makan makanan kesukaan Bunda?"


"No!" teriak Makutha dan Reza bersamaan.


Akhirnya Liontin memutuskan untuk menuruti kemauan Reza yang ingin makan Tom Yam, barulah dia mengantar Makutha makan Sushi. Kali ini sikap Reza benar-benar melebihi Makutha ketika sedang manja. Liontin sampai gelenh-geleng kepala karenanya.


"Sudah kenyang? Kita pulang, ya? Bunda capek."


"Di rumah ada alpukat, Yah. Nanti Bunda buatkan. Kita pulang sekarang, ya? Please ...." Pandangan Liontin mulai berkunang-kunang, kakinya juga terasa lemas.


Reza menurunkan egonya kali ini. Laki-laki itu tidak tega melihat sang istri yang kini terlihat begitu lemas. Sepanjang perjalanan keringat dingin mengucur di dahi Reza. Perut lelaki itu terus bergejolak ingin memuntahkan semua yang ada di dalamnya.


"Ayah, nggak apa-apa?" tanya Liontin panik.


Reza menggeleng lemah, kini wajahnya pucat pasi. Keringat dingin terus mengucur membasahi dahi dan juga punggung. Liontin mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari keberadaan minyak angin yang selalu ia bawa.

__ADS_1


"Coba sini, kubaluri minyak angin!" Liontin menarik lengan Reza perlahan, kemudian meminta lelaki itu membuka dua kancing kemejanya yang paling atas.


"Nggak! Kamu tahu, 'kan, kalau aku nggak suka bau minyak angin?"


"Tapi kamu keliatan lemas dan nggak nyaman. Minyak angin bisa bantu tubuhmu biar lebih hangat, Yah."


"Aku nggak, mmmph!" Reza menepuk pundak Pak Rudi, hingga sopir pribadinya itu mengerem secara mendadak.


Terdengar suara decitan kanvas rem dan teriakan beberapa pengguna jalan lain. Reza langsung membuka pintu lalu keluar mobil dan berjongkok di tepi jalan. Liontin ikut turun, sedangkan Makutha tetap asyik dengan tablet miliknya.


Reza terus memuntahkan isi perutnya. Tom Yam yang tadi membuatnya hampir kekenyangan, kini keluar lagi bersatu dengan rumput pinggir jalanan. Liontin menepuk lembut punggung sang suami.


Setelah lega, Reza kembali berdiri dan berjalan gontai menuju mobil. Liontin mulai membalurkan minyak angin ke perut Reza. Tiba-tiba Makutha yang awalnya sibuk dengan tablet dan permainan, memutar badan sambil menatap tajam sang ayah.


"Ayah baunya sepelti nenek-nenek!"


Mendengar ucapan Makutha, tentu saja Liontin tertawa terpingkal-pingkal. Sudut matanya mulai basah karena air mata.


"Ayah beraroma seperti jompo, ya, Utha?" ucap Liontin sambil tersenyum geli.

__ADS_1


__ADS_2