
Setelah melewati perjalanan udara selama lima jam lebih dari Taipei ke Jakarta dan satu jam lebih dari Jakarta ke Solo, akhirnya Liontin sampai di kampung halamannya. Selama tiga tahun terakhir meninggalkan tanah kelahirannya, tidak banyak berubah.
Liontin tinggal di daerah pegunungan yang masih sejuk. Sepanjang perjalanan mata mereka dimanjakan oleh pemandangan hijau perkebunan teh. Liontin menurunkan sedikit kaca mobil hingga semilir angin membelai lembut rambutnya.
"Bau teh ...," gumam Liontin sambil menghirup aroma daun teh.
"Sudah lama, ya, tidak mencium aroma teh?" Reza tersenyum lembut sambil memandang wajah cantik Liontin.
"Iya, aku sangat merindukan aroma ini."
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Belum tahu. Yang jelas aku sudah menyiapkan mental menerima kemarahan Mbak Cincin karena hamil di luar nikah." Liontin tersenyum kecut sembari membelai lembut pipi Makutha.
Reza mengerutkan dahi mendengar ucapan Liontin. Beberapa bulan membersamai perempuan itu, dia baru tahu bahwa Liontin menyembunyikan kehamilannya dengan sang kakak.
"Jika butuh bantuan, segera hubungi aku. Sebisa mungkin aku akan memberikan bantuan untukmu."
"Terima kasih," ucap Liontin.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah sederhana dengan cat kuning. Dinding bagian depan rumah dipasangi keramik berwarna hijau. Rumah itu masih terawat meskipun sudah lama ditinggalkan. Cincin setiap hari datang ke rumah orang tuanya untuk membersihkan bangunan itu.
Liontin keluar dari mobil dan berhenti sejenak di depan rumah. Dia memandangi rumah peninggalan orang tuanya itu sambil tersenyum lembut. Makutha yang tadinya tertidur pulas langsung menggeliat kemudian membuka mata.
"Masuk, yuk, Kak!"
Reza mengekor di belakang Liontin sambil menarik koper milik perempuan itu. Setelah Liontin membuka pintu, keduanya langsung masuk, dan membiarkan pintu terbuka.
"Masih sama, ya?" Reza tersenyum sambil mengamati setiap sudut ruang tamu.
Kenangan masa lalu kembali terlintas dalam ingatan Reza. Dulu dia sering sekali ke rumah itu karena mengantar Liontin pulang setiap dua minggu sekali. Liontin yang bersekolah di pusat kota Solo terpaksa menyewa kamar kost, karena jarak tempuh dari kampungnya ke kota lumayan jauh.
"Nggak apa-apa, Tin. Santai aja. Toh, aku cuma sebentar. Nggak enak dilihat tetangga kalau terlalu lama di sini."
"Aku tidurin Makutha dulu, ya, Kak?"
"Aku sekalian pamit!"
Liontin menghentikan langkah karena Reza yang mendadak berpamitan. Perempuan itu menautkan kedua alisnya sambil menatap Reza penuh tanya.
__ADS_1
"Ah, bukannya apa-apa. Aku beneran nggak enak sama tetangga. Lain kali aku datang lagi ke sini ajak Lula." Reza tersenyum lembut kemudian keluar rumah.
Liontin mengikuti lelaki itu sampai ambang pintu. "Hati-hati di jalan, Kak! Terima kasih, ya!"
Reza masuk ke mobil kemudian melambaikan tangan dan mulai mengendarai mobil milik pamannya itu. Setelah mobil menghilang dari pandangan suara seorang perempuan menyapa pendengarannya.
"Liontin! Kapan pulang?" Budhe Siti, kakak ipar ibunya menyapa dengan senyum sumringah.
"Baru sampai, kok, Budhe. Budhe apa kabar?"
"Baik! Itu ... bayi siapa? Anaknya temenmu? Mana orangnya?" Budhe Siti melongok ke dalam rumah mencari seseorang yang mungkin ada di dalam sana.
Pertanyaan Budhe Siti awalnya membuat Liontin gamang. Akan tetapi, dia mantap mengakui bahwa Makutha adalah putranya.
Ini adalah takdirku, dan Makutha juga termasuk bagian darinya. Jika aku berbohong mengenai fakta bahwa dia putraku ... bukankah artinya aku sudah mengingkari takdir?
Liontin menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia memaksakan senyum sebelum menjawab pertanyaan Budhe Siti.
"Dia ... anakku, Budhe."
__ADS_1