TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 24. Kelahiran Bayi Liontin


__ADS_3

Keringat dingin mulai mengucur membasahi dahi Liontin. Rasa sakit yang mendera tubuhnya begitu kuat hingga membuatnya lemas.


"Liontin!" teriak Nyonya Oey.


Perempuan itu langsung menghampiri Liontin dan memapahnya menuju kursi di ruang makan. Perempuan itu langsung meraih ponselnya dan segera menghubungi ambulans. Sambil menunggu mobil itu datang, Nyonya Oey mengemasi semua keperluan Liontin dan memasukkannya ke dalam tas.


Liontin menunggu di ruang makan, sambil menahan sakit. Dia berpegangan pada sudut meja sambil meremasnya untuk melampiaskan rasa sakit. Tak lama kemudian, Reza datang dengan wajah panik. Dia setengah berlari menghampiri Liontin dan memberinya pelukan.


"Kak, sakit ...!" Liontin menangis karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi.


"Tahan, ya, kita ke Rumah Sakit sekarang. Sebentar lagi ambulans datang."


"Kamu sudah datang, Reza?"


"Baru saja datang, Nyonya."


Suara sirine ambulans mulai terdengar. Nyonya Oey keluar rumah, diikuti Reza yang membopong Liontin menuju mobil itu. Sepanjang perjalanan Liontin terus menangis sambil menggenggam erat jemari Reza. Ratusan kata keluar dari bibir lelaki itu untuk memberi Liontin semangat.

__ADS_1


Tiga puluh menit membelah jalanan, ambulans yang membawa mereka sampai di Rumah Sakit. Tim medis dengan sigap melakukan pemeriksaan kepada Liontin.


"Baru pembukaan dua. Karena pecah ketuban, sebaiknya nyonya berbaring saja. Kami akan menyuntikkan obat induksi untuk mempercepat persalinan. Jika dalam 24 jam bayi belum lahir, terpaksa kami harus melakukan tindakan operasi." Seorang dokter perempuan berkacamata menjelaskan kondisi Liontin saat ini.


Reza masuk ke ruangan tempat Liontin berbaring dan duduk di sampingnya. Lelaki itu merasa kasihan melihat Liontin yang terus meneteskan air mata.


"Sabar, ya. Ingat, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan bayimu. Bayangkan betapa lucunya dia nanti." Reza mengusap lembut puncak kepala Liontin.


"Tapi sakit sekali, Kak. Rasanya aku ingin menyerah! Aku belum pernah merasakan sakit seperti ini!" Tangisan Liontin terdengar begitu mengiris.


Sebenarnya Reza tidak tega melihat perempuan di hadapannya itu kesakitan. Akan tetapi, jika dia meninggalkan Liontin sendirian saat menanggung sakit, apakah dia pantas disebut laki-laki?


Reza meminta Nyonya Oey untuk pulang terlebih dahulu untuk istirahat. Tadinya perempuan itu menolak, tetapi Reza membujuknya dan berjanji akan segera mengabarinya jika bayi Liontin sudah lahir. Akhirnya Nyonya Oey pulang dengan berat hati.


Setelah sepuluh jam merasakan sakit yang luar biasa, kini Liontin merasakan perutnya mulas seperti akan buang air besar.


"Kaaak, aku pengen ke toilet!" teriak Liontin.

__ADS_1


"Ha? Apa? Kamu pengen BAB?" Reza membopong tubuh perempuan itu dari ranjang, sedangkan Liontin terus mengerang berusaha menahan rasa mulas.


"Cepet, Kak! Aku nggak tahan lagi!"


"I-iya, sebentar."


Saat keluar dari ruangan itu, seorang perawat menghentikannya. "Pak, mau dibawa ke mana istrinya?"


"Di-dia kebelet, mau BAB, suster!"


"Tunggu dulu! Mungkin Nyonya akan segera melahirkan! Ayo kita bawa ke ruang bersalin!"


"Apa!" Reza terbelalak karena terkejut dengan pernyataan perawat di hadapannya itu.


Perawat meminta Reza untuk mendudukkan Liontin di atas kursi roda. Mereka bergegas membawa Liontin dan membantu persalinan ibu muda itu. Reza tidak diperbolehkan ikut masuk ke dalam ruang bersalin. Lelaki itu mondar-mandir di depan ruangan bersalin sambil terus membaca doa.


Tak terasa lima belas menit sudah Reza menunggu. Rasa khawatir mulai merasuki dada lelaki itu. Namun, ia hanya bisa menunggu kabar dari dokter. Perut Reza ikut bergejolak karena rasa gugup yang luar biasa. Langkahnya berhenti ketika seorang perempuan keluar dari ruang bersalin.

__ADS_1


"Keluarga Nyonya Liontin?"


__ADS_2