
Waktu bergulir begitu cepat, kini usia kandungan Liontin sudah memasukin minggu ke-38. Jantungnya berdebar begitu kuat menanti kelahiran sang buah hati. Persiapan untuk si calon princess.
Dari hasil USG terakhir, dokter mengatakan bahwa anak dikandung Liontin berjenis kelamin perempuan. Jadi, perempuan itu menyiapkan pakaian dan pernak-pernik khas perempuan. Ranjang bayi, pakaian, interior dan dekorasi kamar, bahkan sampai alat makan serta keperluan mandi semua berwarna merah muda.
Liontin tersenyum lebar ketika melihat sebuah terusan rok tutu lucu, bandana kerut, dan juga sepatu balet kecil. Perempuan itu menata semua benda itu di atas karpet bulu kemudian memotretnya.
"Lucunya, lihat, Dek. Kamu pasti lucu banget kalau memakai ini semua." Liontin tersenyum sendiri, lalu meraih terusan berwarna merah mudah itu dan menciuminya gemas.
"Bahagia sekali bumil!" seru Berlian memasuki kamar calon buah hati sahabatnya itu.
Seorang bayi laki-laki mungil berusia dua bulan sedang tertidur lelap di dalam buaian Berlian. Bayi tampan itu diberi nama Giok. Berlian menidurkan putranya di boks bayi milik calon putri Liontin. Giok menggeliat lucu. Sang ibu menepuk pantatnya agar dia kembali terlelap.
Setelah memastikan Giok tenang lagi, Berlian mendekati Liontin yang sedang duduk di atas karpet sambil merapikan baju bayinya. Berlian ikut tersenyum melihat kebahagiaan perempuan tersebut.
"Oya, perkiraan kelahirannya kapan?" tanya Berlian.
"Pekan ini, doakam lancar, ya?" Liontin menatap lembut sahabatnya itu sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Tanpa kamu minta, aku selalu mendoakan keselamatan dan kesehatanmu serta calon princess kita." Berlian melirik perut buncit Liontin yang lebih terlihat seperti balon.
"Makasih, ya."
"Bagaimana kerjaan Kak Reza?" tanya Berlian basa-basi.
"Sekarang, dia lebih santai. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk kami. Dia jarang ke Rumah Sakit, paling sebulan sekali saat rapat direksi dan pembagian hasil usaha."
"Berarti, dia tidak salah, ya? Menunjuk Aziz untuk menjadi Presdir di sana."
"Iya, Kak Reza memiliki intuisi yang kuat jika menyangkut masalah bisnis. Mungkin menurun dari Papa mertua. Tapi, David juga nggak kalah cerdas loh!" seru Liontin sambil melirik penuh arti pada sahabatnya itu.
"Kamu nggak kangen, gitu sama David?"
"Ih, apaan!" Pipi Berlian kini merona merah.
"Kenapa kalian nggak pacaran aja? Atau langsung menikah?" Liontin memiringkan kepala sambil menaik turunkan alis.
__ADS_1
"Agak susah, Ontin."
"Kenapa? Bukankah kalian saling sayang?"
Berlian menarik napas panjang kemudian mengembuskannya kasar. Dia kembali teringat bagaimana respon Jia ketika diajak David menemuinya. Gadis kecil itu menatap Berlian dengan tatapan penuh permusuhan.
"Hei, Bu! Kok malah ngelamun?" Liontin menepuk bahu Berlian karena melihat tatapan sang sahabat yang seakan kosong.
Berlian terperanjat. Dia tersenyum canggung kemudian menggelengkan kepala. "Ah, nggak ngelamun, kok. Cuma ...."
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Ya? Ah, tidak." Berlian menggeleng cepat sambil menggerakkan tangan.
"Mbak Cincin pernah bilang sama aku. Sebaiknya kita menceritakan beban hati yang mengganggu kepada seseorang, agar hati kita terasa lebih ringan. Jangan sungkan jika ingin menceritakan keluh kesahmu kepadaku. Oke?"
"Iya, terima kasih, ya. Kamu memang sahabat terbaikku." Berlian merengkuh tubuh ibu hamil di depannya itu, kemudian memeluknya.
__ADS_1
Liontin mengangguk mantap. Tak lama kemudian, terdengar suara benda jatuh. Lebih tepatnya seperti suara seseorang yang jatuh dari arah tangga. Sontak Liontin dan Berlian beranjak dari karpet kemudian keluar dari kamar.