TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 39. Tersangka


__ADS_3

"Liontin, apa yang terjadi?" tanya David.


"Apa pedulimu?" ketus Liontin.


Perempuan itu terus menggandeng jemari Jia sambil menggendong Makutha menuju pintu keluar rumah sakit. Setelah sampai di pintu utama, Liontin memberikan tubuh mungil Jia kepada David.


"Jia, cepat sembuh, ya? Makan yang banyak seperti tadi. Oke?" Liontin tersenyum tipis kemudian mengusap puncak kepala Jia.


"Hati-hati di jalan." Perempuan itu melambaikan tangan ketika Jia pergi meninggalkan rumah sakit.


Liontin langsung kembali masuk ke gedung Rumah Sakit dan menyusul Risa dan juga Reza. Ketika memasuki ruang ICU dia melihat Risa menangis sejadi-jadinya. Liontin langsung mendekati Risa berusaha merengkuh tubuh perempuan itu. Namun, tangannya ditepiskan kasar.


"Pergi ...," ucap Risa tanpa mau menatap wajah Liontin.


"Tante ...." Hati Liontin seakan diremas ketika mendapat perlakuan kasar dari calon mertuanya itu.


"Pergi sekarang juga!" teriak Risa frustrasi.


Perempuan itu kini berdiri dari kursi dan mulai menarik lengan Liontin. Setelah sampai di ruang ICU, Risa menghempaskan kasar tangan calon menantunya itu.


"Tante, sebenarnya ada apa?" Mata Liontin mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mantan suamimu itu brengsek!" teriak Risa.


"Maksud Tante?" Liontin mengernyitkan dahi karena belum mengerti arah pembicaraan Risa.


"Dia adalah dalang di balik kecelakaan yang menimpa Reza!"


"Ba-bagaimana bisa?"


"Ikut aku!"


Risa melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran. Perempuan itu mulai melajukan mobil untuk mendatangi kantor polisi. Setelah sampai di tempat penyidikan. Dia melihat Rangga sedang duduk di kursi sambil tersenyum tipis.


"Brengsek!" Risa melangkah cepat kemudian meraih kerah kemeja Rangga dan mengguncangkannya kasar.


Rangga justru tersenyum miring kemudian tertawa terbahak-bahak. Polisi yang ada di ruangan itu kini menjauhkan Risa dari Reza. Liontin meraih tubuh Risa dan memeluknya erat.


"Sabar, Tante ... sabar. Kita serahkan semuanya pada kepolisian. Liontin yakin, Mas Rangga akan dapat hukuman yang setimpal." Air mata Liontin mulai bercucuran membasahi pipi, jemarinya mengusap lembut punggung sang calon mertua.


"Bukan aku yang salah! Dia yang sudah mengagalkan rencanaku untuk mencalonkan diri menjadi Kepala Desa! Dan Intan meninggalkanku karena sekarang aku kehabisan semuanya!"


Risa kembali meradang. Perempuan itu melepaskan pelukan Liontin, kemudian berjalan ke arah Rangga. Tangannya melayang ke udara dan mendarat keras di pipi lelaki itu.

__ADS_1


"Keparat! Itu semua tidak ada hubungannya dengan putraku!" teriak Risa frustasi.


"Jika saja hari itu dia tidak datang dan menolong perempuan murahan ini, pasti rencanaku mulus! Selangkah lagi aku mencapai tujuanku!" seru Rangga sambil menatap sinis Liontin.


"Kenapa tidak kamu bunuh saja Liontin? Bukannya dia sumber masalahnya? Dia yang menyebabkan putraku datang menolong! Jika saja Reza tidak menyukai gadis ini dan datang ke sana hari itu, pasti semuanya tidak akan terjadi!"


"Tante ...," lirih Liontin.


Reza tersenyum miring kemudian menatap Liontin. "Kamu lihat sosok asli calon ibu mertuamu ini? Dia hanya menggunakanmu untuk membalaskan dendam di masa lalunya!" teriak Rangga kemudian tertawa.


"Tante ... benar begitu?" Liontin mengerutkan dahi sambil menatap sedih ke arah Risa.


"Mungkin," jawab Risa singkat.


Sontak air mata Liontin bercucuran. Jemari perempuan itu mengepal erat di samping tubuhnya. Bahunya bergetar hebat dengan rahang yang mulai mengeras.


"Apa salahku? Sampai Tante dan Reza menjadikanku bidak catur untuk membalas dendam di masa lalu kalian? Apa aku pernah menyakiti hati kalian berdua juga?"


Risa bungkam. Perempuan itu membuang muka, kemudian mengusap air matanya perlahan.


"Maaf," ucap Risa singkat kemudian berjalan meninggalkan kantor polisi.

__ADS_1


Liontin seakan kehilangan pijakan. Tubuhnya merosot ke atas lantai. Dia memukul dada berulang kali untuk menghilangkan sesak yang menghimpitnya. Rangga yang melihat kekacauan di hadapannya tersenyum penuh arti. Tugasnya selesai.


__ADS_2