TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 15: Nyeri


__ADS_3

Semilir angin memasuki jendela kelas di samping bangku Hasna. Mata gadis itu terasa begitu berat. Hasna melirik jam yang menempel di dinding kelas. Jarum jam menunjukkan pukul 13:00.


Masih lama, ya. Ngantuk banget ....


Gadis itu menunduk di atas meja dan menggunakan lengannya sebagai bantalan. Jam pelajaran saat itu kosong. Mereka hanya mendapatkan tugas dari guru yang bersangkutan. Hasna sudah selesai mengerjakan tugasnya.


Jangan tanyakan ke mana murid lain. Mereka ada yang sedang jajan di kantin, gaduh memukul-mukul meja sambil menyanyi, beberapa murid wanita sedang mewarnai kuku, ada yang meliuk-liuk dan diunggah ke sosial media TokTok. Bahkan beberapa di antara mereka yang bolos sekolah melalui pagar tembok samping kelas.


Tak lama kemudian, Rachel yang awalnya juga tertidur pun terbangun. Gadis bermata biru itu merogoh saku jaket untuk menemukan ponselnya. Rachel terbelalak. Dia tidak menemukan benda pipih itu di sana. Gadis itu mengecek laci dan juga tas. Namun, juga tidak ada.


"Kenapa kamu, Chel?" tanya Fiska yang juga baru terbangun.


"Hape aku nggak ada, Ka!" bisik Rachel.


"Apa! Hapemu ilang!" teriak Fiska.


Sontak pandangan seisi kelas tertuju pada mereka. Hasna yang baru saja terlelap pun ikut bangun. Dia merasa kepalanya berdenyut. Gadis itu menoleh ke belakang dan terkejut melihat Rachel mulai berkaca-kaca.


"Kenapa?" tanya Hasna dengan menggerakkan lengannya.


Rachel bungkam tak menjawab. Jika buka suara dipastikan tangisnya akan pecah, karena teringat ponsel mahal yang dibelikan oleh ibunya itu. Ponsel seharga puluhan juta itu tiba-tiba menghilang. Bukan masalah harga ponsel itu yang membuat gadis itu menangis.


Namun, sejak kecil Rachel selalu dididik untuk bertanggungjawab atas barang yang ia miliki. Walaupun orang kaya, dia selalu diminta untuk memakai barang dengan hati-hati. Pernah suatu ketika, saat dia masih kecil merengek minta dibelikan boneka Barbie. Belum 24 jam beli, boneka tersebut sudah tak berbentuk.


Akhirnya Rachel diberi hukuman. Rachel kecil tidak boleh meminta mainan selama satu bulan. Sejak saat itu, Rachel mulai paham artinya bertanggungjawab atas apa yang ia miliki.


"Ponsel Rachel hilang!" seru Fiska.


"Terakhir ditaruh mana?" Hasna menggerakkan lengannya lagi. Bibirnya komat-kamit berusaha memperjelas apa kalimat yang sedang dia sampaikan.


"A-aku taruh di saku jaket, seingatku ...." Kini tangis Rachel seketika pecah.


Fiska memeluk gadis itu, kemudian mengusap punggungnya agar tenang. Hasna yang masih mengumpulkan kesadaran hanya bisa diam. Siswa yang ada di kelas pun mulai mendekati Rachel.


Tak lama kemudian, Bu Winda memasuki ruang kelas. Seketika semua murid terdiam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Bu Winda berdiri di depan kelas sambil menatap tajam ke arah semua siswa.

__ADS_1


"Ibu dengar Rachel baru saja kehilangan ponselnya. Benar begitu, Chel?"


"I-iya, Bu," jawab Rachel di sela isak tangisnya.


"Hilman!" panggil Bu Winda.


Hilman si ketua kelas pun menjawab, kemudian maju ke depan kelas. "Ada apa, Bu?"


"Ajak dua teman lain untuk menggeledah tas temanmu! Sebelumnya, kalian semua keluar satu-satu. Ibu akan memeriksa kalian saat keluar! Hilman periksa teman laki-lakimu, ya?"


"Baik, Bu."


Hilman menunjuk Hasna dan Cio untuk membantunya. Para siswa diperiksa tubuhnya satu per satu, sebelum keluar kelas. Setelah selesai, pintu kelas ditutup. Bu Winda, Hilma, Cio, dan Hasna mulai memeriksa tas murid kelas itu.


Semuanya berjalan normal. Sampai akhirnya, Hasna membuka tasnya sendiri. Jemari gadis itu gemetar ketika mendapati ponsel mahal milik Rachel ada di dalam tasnya. Hasna menunjukkan benda pipih itu kepada Bu Winda.


"Hasna, kamu menemukan ini di mana?" tanya Bu Winda.


Hasna menelan ludahnya berkali-kali, lalu mulai mengangkat lengannya. Telunjuknya gemetar hebat saat menunjuk ke arah bangku tempat ia biasa duduk.


"Hasna, ikut Ibu ke kantor!"


Hasna melangkah gontai, kemudian mengekor di belakang Bu Winda. Tidak hanya gadis itu yang ikut, Cio juga mengikuti Bu Winda. Rachel selaku pemilik ponsel juga mengikuti wali kelas mereka tersebut.


Sesampainya di ruang guru BP, Hasna dan Rachel diminta duduk di depan meja Bu Desi. Hasna tertunduk lesu dengan jemari yang saling meremas satu sama lain. Mata gadis itu mulai terasa panas. Bu Winda meletakkan sebuah ponsel berlogo apel dengan satu gigitan ke atas meja.


"Ini benar ponselmu, Rachel?" tanya Bu Winda sembari menunjuk benda pipih berwarna keemasan itu.


"I-iya, Bu."


"Ponsel ini ditemukan di dalam tas Hasna." Bu Winda melirik ke arah Hasna.


"Hasna, kok kamu tega ...." Rachel menatap nanar gadis di hadapannya itu.


Aku tidak tahu kenapa ponselmu ada di tasku, Chel.

__ADS_1


Hasna menuliskan sanggahannya tersebut di atas kertas yang diberikan oleh Bu Desi. Mata Hasna semakin merah. Bulir bening perlahan turun membasahi pipi. Dia tak menyangka, ada yang tega menjadikannya kambing hitam.


"Na, benar, bukan kamu yang mengambil ponsel ini?" tanya Bu Dewi lembut.


Bukan saya, Bu. Sungguh.


"Lalu kenapa bisa, ponsel ini ada di dalam tasmu?" Suara Bu Winda terdengar dingin dan mengintimidasi.


Hasna menggeleng lemah, kemudian menunduk. Hatinya seakan diremas. Tenggorokannya terasa seperti ada bongkahan batu besar yang menghalangi. Air mata gadis itu terus bercucuran membasahi rok abu-abunya.


"Na, aku akan memaafkanmu jika kamu mau mengakui semuanya. Kamu hanya perlu jujur," ucap Rachel.


"Rachel, sungguh. Aku benar-benar nggak tahu kenapa ponselmu ada di dalam tasku." Hasna menggerakkan jemarinya yang masih gemetar.


"Tapi buktinya jelas mengarah kepadamu, Na!" seru Rachel.


Gadis itu terlihat begitu kesal. Matanya masih basah karena air mata. Dadanya naik turun karena mati-matian menahan emosi yang bercampur menjadi satu.


"Sudah, Rachel. Biar Hasna di sini dulu, kamu kembalilah ke kelas." Bu Dewi mengusap punggung tangan Rachel sembari tersenyum lembut.


Rachel akhirnya melangkah keluar ruang BP. Di luar ruangan tersebut, Cio berdiri sambil bersandar pada dinding. Dia mendengar semua percakapan itu. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal menurutnya. Ketika melintasi Cio, Rachel menghentikan langkahnya.


"Cio, lihat sekarang? Seseorang yang terlihat tidak mungkin berbuat jahat, ternyata busuknya melebihi apa yang kota lihat selama ini. Aku harap, kamu hati-hati terhadap Hasna."


Setelah mengucapkan hal itu kepada Abercio, Rachel kembali ke kelas. Cio tetap bergeming di sana, dia mendengar Bu Desi dan Bu Winda mencecar berbagai pertanyaan yang sama secara berulang kali. hatinya terasa sakit mendengar isak tangis yang lolos dari bibir Hasna.


Ingin sekali rasanya Cio ikut masuk ke ruangan itu lalu memberi Hasna pelukan agar hati gadis itu lebih tenang dan lebih kuat. Namun, dia pasti tidak diperbolehkan masuk.


...****************...


Haiii...


Yukkk mampir juga ke karya bestie emakkk...


Dijamin gak kalah seru ceritanya ❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2