TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 25. Makutha


__ADS_3

"Keluarga Nyonya Liontin?" Seorang perempuan dengan APD lengkap keluar dari ruang bersalin dan menghampiri Reza.


"Ya?"


"Selamat, putra Anda lahir dengan selamat!" Dokter itu mengulurkan tangan dan disambut oleh Reza.


Hati Reza seakan diguyur dengan es kelapa muda. Perasaan lega luar biasa memenuhi dadanya saat ini. Dia langsung menghubungi Nyonya Oey dan memintanya untuk datang ke Rumah Sakit.


...****************...


Liontin menatap bayi mungil yang berada di dekapannya. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu memiliki kulit putih bersih. Hidungnya mancung, dan bibirnya mirip sekali dengan David.


"Liontin, tidurlah. Aku akan menjaganya malam ini." Nyonya Oey mendekati Liontin yang masih terjaga saat lewat tengah malam.


"Nyonya, Anda sudah terlalu baik kepadaku dan putraku. Tolong jangan membebaniku dengan kebaikan lainnya lagi."


"Kamu bicara apa? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Nyonya Oey tersenyum lembut sambil mengusap punggung tangan Liontin.


"Seharusnya, saat cuti hamil dan melahirkan, aku diperbolehkan untuk tinggal di mess agensi selama masa cuti."


"Apa kamu menyesal menemani perempuan tua ini di tengah masa cutimu?" Nyonya Oey mengerucutkan bibir kemudian membuang muka sambil bersidekap.


"Bukannya begitu, Nyonya. Aku hanya merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan dari Anda. Aku hanya seorang babu, tetapi Anda memperlakukanku layaknya anak sendiri."

__ADS_1


Nyonya Oey memutar kembali tubuhnya dan menggenggam jemari Liontin. Dia tersenyum serta menatap mata Liontin dengan tatapan meneduhkan.


"Anda begitu baik. Sejak saya bekerja untuk Nyonya, justru Anda semakin sibuk mengurusku yang sedang hamil. Saya seperti makan gaji buta."


"Jangan memikirkan hal itu. Aku pernah merasakan hamil. Jadi tahu betul bagaimana rasanya. Oh ya, Liontin, sebenarnya kemarin Reza mendatangiku. Dia akan membawamu pulang ke Indonesia."


"Ya? Tapi ... dendanya bagaimana?"


"Jika kamu mau pulang, aku dan dia sepakat untuk membayarkan dendanya."


Mendengar ucapan Nyonya Oey membuat Liontin terharu. Perempuan itu mulai menitikkan air mata. Dia meletakkan putranya kemudian memeluk tubuh Nyonya Oey. Puluhan kata terima kasih meluncur dari bibir perempuan itu.


Nyonya Oey melepas pelukannya, kemudian merangkum wajah Liontin. Perempuan itu mengusap lembut pipinya untuk menghapus air mata yang masih mengalir.


"Aku harap, kamu menemukan kehidupan baru setelah kembali ke Indonesia."


"Liontin, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Kesepian selalu mengiringi hidupku selama sepuluh tahun terakhir. Aku sudah begitu akrab dengan kesepian. Kamu tidak perlu memikirkanku. Hiduplah bahagia." Sebuah senyum lebar menghiasi bibir perempuan itu.


"Aku merasa sangat buruk karena tidak bisa membalas kebaikan Anda, Nyonya. Terima kasih atas segalanya."


"Kamu tidak perlu membalas apapun kepadaku. Asalkan kamu bisa menjalani hidup dengan bahagia, sudah cukup bagiku. Oh ya, anakmu sudah berumur dua minggu. Kenapa belum memberinya nama?"


"Aku bingung mau memberinya nama apa." Bahu Liontin merosot dan jemarinya memilin ujung selimut.

__ADS_1


"Apa boleh aku memberikan saran?"


"Tentu saja boleh!" jawab Liontin antusias.


"Nama adalah doa, jadi sebisa mungkin berikan nama terbaik untuk putramu. Sebelumnya, kamu ingin anakmu menjadi manusia seperti apa di masa depan?"


"Aku ingin dia menjadi lelaki yang dihormati banyak orang. Tidak seperti ibunya yang hanya bekerja sebagai babu." Liontin tersenyum kecut sambil menatap bayinya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.


"Kamu ini lagi-lagi seperti itu. Liontin, pekerjaanmu itu pekerjaan mulia karena membantu meringankan beban pekerjaan harian orang lain. Untuk nama putramu ... bagaimana dengan nama yang memiliki arti raja?"


"Aku rasa nama itu terlalu mencolok." Liontin menggelengkan kepala.


Nyonya Oey memutar otak, dan sebuah ide muncul di benaknya. "Kamu tahu apa yang memiliki posisi lebih tinggi dari raja atau ratu?"


Awalnya Liontin mencoba menebak apa yang dimaksud Nyonya Oey. Namun, semua jawaban yang keluar dari bibir perempuan itu salah.


"Lalu apa yang benar, Nyonya?"


"Yang memiliki posisi lebih tinggi dari raja atau ratu adalah ... mahkotanya. Karena benda itu berada di atas kepala mereka!"


Mendengar jawaban yang dimaksud Nyonya Oey membuat Liontin terdiam. Perempuan itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jawaban itu diluar dugaannya. Sesaat kemudian Liontin tersenyum lebar.


"Aku sudah tahu nama untuk putraku, Nyonya. Aku akan memberinya nama Makutha."

__ADS_1


"Makutha? Artinya Mahkota?"


Liontin tersenyum lebar kemudian memeluk Nyonya Oey dan menghujaninya dengan ciuman di pipi.


__ADS_2