TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 83. Kejanggalan Laporan Keuangan


__ADS_3

Kepala Reza berdenyut melihat deretan angka yang tercetak pada berlembar-lembar dokumen yang dia dapatkan dari bagian pelayanan dan administrasi tidak sinkron. Banyak selisih data yang ada di sana.


"Pantas saja laporan keungan kacau! Apa yang mereka kerjakan sampai bisa hal ini terjadi! Astaga!"


Data di bagian pelayanan lebih banyak daripada di bagian administrasi. Tentu saja hal itu menimbulkan selisih uang dalam jumlah yang lumayan besar. Reza masih memiliki PR untuk menemukan siapa dalang dibalik rancunya data keuangan rumah sakit.


Sebenarnya bisa saja dia menyewa seseorang yang ahli di bidang meneliti data keuangan rumah sakit. Namun, dia merasa masih sanggup menanganinya sendiri. Dia menekan pesawat telepon yang ada di depannya, dan memanggil dua orang Wakil Direktur administrasi dan Wakil Direktur Pelayanan.


"Mari kita lihat, keseruan yang sebentar lagi terjadi."


Lima menit kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Dua orang lelaki muda seumuran Reza masuk kemudian menunduk pelan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Reza langsung membuang dua map dokumen ke lantai.


Andre dan Aziz saling tatap, kemudian memungut dua berkas itu. Andre yang merupakan Wakil Direktur Administrasi membaca hasil laporan bulanan dari arsip dokumen pasien dua bulan terakhir. Lelaki itu terbelalak melihat semua deretan huruf dan angka yang tercetaj di sana.


Lain halnya dengan Aziz yang bersikap begitu tenang. Lelaki itu membuka lembar demi lembar dokumen administrasi rumah sakit. Sebuah senyum miring terukir di bibir tipisnya.

__ADS_1


"Paham kenapa aku memanggil kalian berdua ke sini?" Reza menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil mengangkat kaki kiri dan ditimpakan ke paha kanan.


"Se-sepertinya tim menejemen keuangan kita salah dalam mengkalkulasi ...." Ucapan Andre terputus karena Reza menggebrak meja di depannya.


"Maaf, Pak. Saya juga salah. Saya tidak memberitahu Anda bahwa Wadir Andre menemui saya dua bulan lalu." Aziz tertunduk lesu.


"Benarkan? Apa yang dia katakan kepadamu?"


"Dia ingin, saya mengkoordinasikan kepada bagian manajemen pelayanan untuk memasukkan lebih sedikit data pasien rawat jalan."


"Saya ingin sekali buka suara saat rapat direksi waktu itu, tapi Andre mengancam saya, Pak. Saya sangat menyesal."


Reza berdiri kemudian melangkah ke arah Aziz. Lelaki itu menepuk pundak sang Wadir Pelayanan tersebut. Aziz mendongak, menatap wajah Reza sekilas, kemudian kembali menunduk.


"Mulai besok, kamu menggantikan posisiku sebagai Presdir di Rumah Sakit ini. Aku percaya kalau kamu mampu! Rumah sakit ini membutuhkan orang jujur sepertimu!"

__ADS_1


Sontak Aziz mendongak. Pupil mata lelaki itu membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar karena tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.


"P-Presdir ... Anda sedang bercanda, 'kan?"


"Kamu keluarlah. Aku ingin bicara empat mata dengan Andre."


Aziz menunduk sekilas kemudian keluar dari ruangan sang Presdir tanpa melawan sedikit pun. Di sisi lain, jantung Andre berpacu lebih cepat. Dia berulang kali menelan ludah kasar. Keringat membasahi punggung dan dada lelaki itu.


"Siapa yang menyuruhmu melalukan ini?"


Andre bungkam enggan membuka suara. Reza memegang kedua lengan atas Wakil Direkturnya itu kemudian tersenyum.


"Katakan saja. Tidak usah takut kehilangan jabatanmu saat ini!" Suara Reza terdengar dingin dan mengintimitasi.


"Pak Johan. Beliau yang menyuruhku untuk memanipulasi data dan melaporkannya ke Tim Audit." Bibir Andre gemetar karena harus mengungkapkan kebohongan yang Pak Johan minta selama ini.

__ADS_1


__ADS_2