TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 32. Ujian Liontin


__ADS_3

Risa melipat lengan sambil menatap tajam putranya. Sedangkan Reza tertunduk lesu sambil menautkan jemarinya. Dia bukannya takut akan kemurkaan sang ibu, tetapi lelaki itu merasa bersalah karena sudah menciptakan banyak kebohongan.


"Siapa dia?" Nada bicara Risa datar, tetapi penuh penekanan di setiap suku katanya.


"Liontin, Ma."


"Liontin? Perempuan yang membuatmu menangis semalaman waktu itu?"


"Mama ...," ucap Reza manja.


Risa tersenyum lebar kemudian melambaikan tangannya kepada Reza. Lelaki itu langsung menghambur ke pelukan sang ibu dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Dia cantik, ya? Tegas juga! Mama suka!" Jemari Risa mulai membelai rambut putra semata wayangnya itu.


"Mama juga suka sama Liontin?" Reza mendongan menatap wajah sang ibu.


"Apa pun asal itu membuat kamu bahagia, aku akan menyukainya."


"Benarkah?" Senyum lebar terukir di bibir Reza.


Lelaki itu menceritakan semua hal yang terjadi kepada Liontin selama di Taiwan. Risa juga mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir putranya dengan antusias.


"Malang sekali nasib perempuan itu." Isa mengusap ujung matanya yang basah karena air mata.

__ADS_1


"Aku ingin menghapus semua kesedihannya, dan meringankan penderitaan Liontin dengan menikahinya. Apa mama setuju?"


"Masalahnya, apa Liontin juga mencintaimu? Apa dia benar-benar mencintaimu apa adanya?"


"Itu ... aku menyembunyikan pekerjaanku darinya. Liontin hanya tau kalau aku juga TKI yang bekerja di Taiwan, sama sepertinya."


"Lalu, apa kamu yakin kalau dia juga mencintaimu?"


Reza tertunduk lesu. Sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana perasaan Liontin terhadapnya. Selama ini dia membutakan matanya sendiri, karena awalnya tetap melihat senyuman perempuan itu sudah cukup. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dia sadar bahwa dirinya mulai serakah. Reza ingin memiliki Liontin seutuhnya.


"Aku tidak yakin, Ma."


Risa menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Dia meraih jemari Reza untuk memberikan semangat kepada lelaki itu.


"Berusahalah lebih keras lagi untuk mendapatkan hatinya. Mama yakin, suatu saat nanti dia akan mencintaimu juga."


Risa menggedor pintu yang terbuat dari aluminium itu dengan tergesa-gesa. Air matanya bercucuran membasahi pipi. Sesekali dia meneriakkan nama Liontin sambil terus menggedor pintu.


"Liontin, buka! Cepat!"


Di dalam rumah, Liontin baru saja menidurkan Makutha. Saat membuka pintu rumah, dia mendengar rolling door digedor dengan kasar. Perempuan itu langsung menuruni anak tangga secepat yang ia bisa. Dia setengah berlari dan segera membuka pintu di hadapannya.


Saat pintu terbuka, alangkah terkejutnya Liontin saat melihat Risa dalam keadaan kacau. Perempuan itu langsung merengkuh tubuh Risa untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Ada apa, Tante? Kenapa menangis?"


"To-tolong tante, Reza ... dia ...." Ucapan Risa terputus-putus karena tangis.


"Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam." Liontin mengajak Risa masuk ke dalam rumah.


Setelah sampai di ruang tamu, Risa duduk dan mulai menceritakan maksud kedatangannya. Tangis perempuan itu enggan berhenti hingga napasnya terlohat begitu sesak.


"Kak Reza kenapa, Tante?" Liontin mulai panik karena melihat perempuan di depannya itu tak kunjung berhenti menangis.


"Re-Reza koma! Sekarang dia sedang dirawat di Rumah Sakit!"


Liontin terbelalak mendengar ucapan perempuan paruh baya itu. Kakinya seakan lemas tak bertulang. Mata Liontin mulai basar dan hidungnya juga memerah.


"Tante ... nggak sedang bohong, 'kan?"


"Untuk apa aku membohongimu!" teriak Risa dengan tubuh bergetar hebat.


"Dua hari lalu, saat Reza berangkat kerja dia mengalami kecelakaan! Dia tidak sadarkan diri sampai sekarang!"


"Du-dua hari lalu?"


Liontin baru menyadari hal itu. Setelah terakhir kali mereka makan di restoran ikan kakap, keesokan harinya dia tidak mendapatkan balasan pesan dari Reza. Tubuh perempuan itu lemas, dan kini bersandar pada sandaran sofa. Air matanya mengalir deras sambil menatap Risa yang juga sedang menangis histeris.

__ADS_1


"Aku pikir Kak Reza sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi aku berusaha menepiskan kekhawatiranku karena dia mengabaikan pesan yang aku kirim. Tapi ternyata ...." Tangis Liontin pecah, tubuhnya bergetar hebat, dan dadanya terasa sesak.


Risa memeluk tubuh Liontin sambil mengusap punggungnya. Dua perempuan beda usia itu saling berbagi kepedihan dan mencoba menguatkan satu sama lain.


__ADS_2