TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 82. Mengawasi Ibu Hamil


__ADS_3

Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan, dan David kini sedang mengalaminya. Lelaki itu berada di depan rumah Berlian sejak subuh. Sudah puluhan kali ayah dari Jia tersebut mengumpat karena permintaan bodoh sang kakak. Namun, dia juga merutuki kesanggupannya sendiri beberapa hari lalu.


"Nih, orang kenapa bisa berhari-hari nggak keluar rumah!" gerutu David.


Lelaki itu meraih ponsel yang tersimpan di saku jaketnya, dan mulai menghubungi Reza. Di nada tunggu ketiga, panggilannya diangkat.


"Kak, dia nggak keluar rumah sama sekali!" seru David kesal.


"Kamu yakin? Mungkin kamu melewatkan sesuatu? Atau jangan-jangan dia memang sedang tidak ada di rumah?"


Mendengar dugaan dari Reza, membuat emosi David meledak. Lelaki itu menepuk dahinya, kemudian mematikan sambungan ponsel secara asal. Akhirnya, dia memutuskan untuk turun dari mobil dan memastikan keberadaan Berlian.


"Tapi ... bagaimana caranya aku mengetahui Berlian ada di rumah atau tidak, ya?" David mengerucutkan bibir sembari mengusap dagu.


Sontak mata David langsung tertuju pada saklar putih di depan pagar rumah. Dia mulai melangkah mendekati pagar besi yang menjulang tinggi menutup rumah mewah milik Berlian. Lelaki itu mulai memencet bel agar si pemilik rumah keluar dari sarangnya.


Tiga kali sudah, Reza memencet tombol. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan dari Berlian. Kali ini dia kembali membuat bel rumah itu berbunyi tanpa henti selama lima menit. Tak lama kemudian, ia dikejutkan oleh klakson mobil yang terdengar dari belakang punggungnya.

__ADS_1


David balik badan ke arah sumber suara. Seorang perempuan cantik dengan perut buncit keluar dari mobil sedan berwarna abu-abu. Dia langsung tahu bahwa perempuan itu adalah Berlian. David menelan ludah kasar karena rasanya seperti maling yang sedang tertangkap basah.


"Maaf, siapa ya? Ada keperluan apa?" Sorot mata Berlian terlihat begitu tajam. Perempuan itu menatap David dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Mati, aku! batin David. Lelaki itu memutar otak, untuk mencari alasan yang tepat agar bisa berkilah dan pergi dari sana secepatnya.


"Ah, itu ... saya sedang mencari rumah Pak Lui," jawab David dalam bahasa Mandarin.


Berlian langsung mengerutkan dahi. Dia mendengus kesal, kemudian melipat lengan di depan dada.


Berlian menatap sinis David, lalu masuk ke mobilnya. David masih melongo berusaha memahami apa yang barusan Berlian ucapkan. Setelah Berlian menutup kembali gerbang besi itu, David juga kembali ke mobil dan mulai menghubungi Reza.


"Dia baru saja pulang. Aku nggak tahu dia dari mana."


"Baiklaj, tolong terus awasi dia hingga aku menemukan tikus kecil yang ada di Rumah Sakitku. Sudah dulu, ya!"


"Tunggu!" seru David ketika sang kakak hendak mematikan sambungan telepon.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Bisakah aku minta tolong untuk mengajariku bahasa Indonesia?" tanya David.


"Hah? Untuk apa? Aneh-aneh saja kamu ini! Sudah, aku sedang sibuk!"


"Ini demi misi yang kamu berikan kepadaku! Aku membutuhkan skill berbahasa Indonesia yang bagus untuk mencari beberapa informasi mengenai target!" kilah David.


Sebenarnya bukan itu niatnya. Entah mengapa dia ingin sekali mempelajari bahasa Indonesia setelah mendengar ucapan Berlian. Ketika perempuan itu bicara, seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


...****************...


Haloo...


Mampir juga yukkk ke karya salah satu sahabat author Chika❤❤❤


__ADS_1


__ADS_2