TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 92. Ulang Tahun Cio


__ADS_3

"Mau beli bola di mana, Bunda?" tanya Makutha ketika baru saja keluar rumah.


"Kita belikan yang bagus, ya, supaya awet?"


Makutha mengangguk antusias dengan mata berbinar. Keduanya langsung masuk ke mobil. Reza sudah menunggu di dalam mobil sambil memanasi kendaraan roda empat tersebut.


"Kita berangkat sekarang!" seru Reza kemudian menginjak pedal gas.


Sepanjang perjalanan, Makutha bersenandung sambil memainkan rubik yang ia genggam. Sedangkan Liontin dan Reza mengobrol membahas mengenai kasus yang baru-baru ini terjadi di Rumah Sakit.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Liontin.


"Aku tidak jadi menarik saham dari rumah sakit. Dengan catatan, menuntut pertanggungjawaban Pak Johan. Aku memberinya dua pilihan." Reza Menunjukkan jari tengah dan telunjuknya ke arah sang istri.


"Bertahan dan bersedia dilaporkan atas pencemaran nama baik. Atau menarik kembali saham yang ia miliki dan pergi dari kota ini!"


"Astaga kejam sekali pilihannya!" Liontin terbelalak sembari menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah berkeliling di beberapa toko yang menjual alat olah raga, akhirnya Makutha memilihkan bola kaki berwarna kuning dengan simbol centang satu dipermukaannya.

__ADS_1


"Kita bayar dulu, ya?" Liontin mengambil bola yang didekap sang putra, kemudian menyerahkan kepada SPB (Sales Promotion Boy) yang sedang berdiri di samping mereka.


Makutha sudah tidak sabar, ingin segera pergi ke pesta ulang tahun salah satu teman sekolahnya itu. Sepanjang perjalanan dia terus bertanya, "Kapan sampai, Bunda?"


Sampai-sampai Liontin lelah menjawab. Sedangkan Reza hanya tersenyum simpul melihat tingkah sang putra.


...****************...


Di sebuah rumah dua lantai, penuh dengan dekorasi ulang tahun di sana-sini, seorang anak laki-laki duduk termenung sambil menatap kue ulang tahunnya yang masih utuh. Seorang perempuan paruh baya mendekati Abercio, kemudian memeluknya lembut.


"Cio, nggak apa-apa, ya? Ulang tahun kali ini tanpa mama dan papa?" bujuk Luna, nenek Abercio.


Awalnya Abercio melarang kedua orang tuanya pergi. Namun, Luna membujuknya dan memberikan pengertian. Abercio akhirnya bisa menerima penjelasan dari sang nenek, walau sebenarnya ia sangat kecewa.


"Nenek, Tuhan kenapa nggak adil, sih, sama Cio. Hali ini bahkan Tuhan nggak ijinin mama sama papa buat ikut melayakan pesta ulang tahunku."


"Ssst ...." Luna meletakkan telunjuknya di depan bibir, kemudian merengkuh tubuh mungil Abercio.


"Cio nggak boleh ngomong begitu .... Tuhan itu selalu adil. Terkadang, Tuhan nggak memenuhi semua harapan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi, Tuhan pasti kasoh apa yang kita butuh." Jemari Luna mengusap lembut rambut sang cucu.

__ADS_1


"Tapi, Cio butuh mama sama papa di hali ini. Kenapa Tuhan nggak kasih?"


"Mungkin, ada kejutan membahagiakan yang Tuhan siapkan untuk Cio setelah ini. Yang sabar, ya?" Luna melepaskan pelukannya, lalu menatap sang cucu sambil tersenyum lembut.


Tak lama kemudian seorang bocah laki-laki menghampirinya setengah berlari. Siapa lagi kalau bukan Makutha. Dia sudah membawa sebuah kotak kado besar dalam dekapannya.


"Cio! Utha datang!" teriak Makutha sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi tengah bagian atasnya yang batu tanggal.


Melihat gigi sahabatnya yang copot, sontak membuat Abercio tertawa terpingkal-pingkal. Bocah laki-laki itu sampai mengeluarkan air mata karena melihat penampilan baru sahabatnya.


"Gigi ... kamu ... ke mana ... Utha?" tanya Abercio di tengah tawanya.


"Ih, Cio kok ketawain Utha!" Makutha memasang mode merajuk.


"Abisnya lucu, Utha. Maaf, ya?" Abercio berusaha menghentikan tawanya agar Makutha berhenti merajuk.


"Kalena kamu lagi ulang tahun, aku maafkan! Ini kadonya!" seru Makutha sambil bersungut-sungut.


"Makasih, ya Utha!"

__ADS_1


Pesta ulang tahun hari itu berlangsung begitu meriah. Abercio bahkan melupakan tentang kehadiran orang tuanya, karena Makutha selalu menghiburnya dengan tingkah lucu serta candaan yang melupakan kesedihannya sementara waktu.


__ADS_2