TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 39: Kegalauan Hasna


__ADS_3

"Aku nggak setuju!"


Seorang lelaki tinggi tegap berumur 40-an menggandeng seorang perempuan cantik memasuki kediaman keluarga Makutha. Sontak Makutha dan Hasna menoleh ke arah pintu masuk yang sejak tadi terbuka lebar.


"Papa!" seru Makutha.


Lelaki itu langsung bangkit dari lantai dan menghampiri ayah kandungnya tersebut. Sebuah pelukan penuh rindu ia dapatkan dari David. Lelaki matang itu mengacak puncak kepala Makutha, hingga rambutnya berantakan.


"Papa, kenapa datang nggak bilang-bilang? Kak Jia sama Giok nggak ikut?" tanya Makutha sembari melongok ke belakang sang ayah.


"Cece sedang sibuk kuliah. Giok masih di minimarket, beli es krim." David melirik Hasna yang kini masih duduk di atas lantai.


"Dia ... pacarmu?" tanya David.


"Ish, bukan, Pa! Dia Hasna, temanku. Hasna, kenalkan ... beliau adalah Papaku." Makutha menatap Hasna yang kini terlihat kebingunan.


"Papamu?" Hasna mengerutkan dahi dan menatap David heran.


Gadis itu meneliti wajah David dan Makutha bergantian, berusaha mencocokkan kemiripan yang ada. Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka benar-benar mirip, tanpa cela sedikit pun.


"David." David menyodorkan tangan dan disambut oleh Hasna.


"Saya Hasna, Om." Hasna tersenyum sekilas lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Ceritanya rumit, tidak usah dipikirkan, Hasna." Kini Liontin menapaki satu per satu anak tangga sambil bergandengan tangan dengan Reza.


Berlian dan Liontin saling menatap, lalu langsung melepaskan jemari mereka dari suami masing-masing. Mereka setengah berlari menghampiri satu sama lain, lalu berpelukan.


"Aaak! Kangen banget!" seru Berlian sambil melompat-lompat layaknya anak kecil.


"Sama, aku juga kangen banget sama kamu!"


Berlian melepaskan pelukannya, kemudian menggandeng jemari Liontin. Keduanya menaiki anak tangga tanpa memedulikan lagi suami dan anak mereka. Reza dan David saling tatap sambil menepuk dahi bersamaan.


"Mereka kalau udah ketemu, lupa sama kita!" gerutu David.


"Iya, benar-benar, deh!" sahut Reza.

__ADS_1


"Hasna permisi, Yah, Om. Hasna buatkan teh dulu." Hasna beranjak dari ruang tengah menuju dapur.


Setelah memastikan Hasna masuk ke dapur, David mengajukan pertanyaan kepada Reza. Tentu saja dia menanyakan perihal perempuan asing itu.


"Siapa dia? Calon mantu kita?" tanya David.


"Bukan. Dia salah satu amanah dari mantan karyawanku. Namanya Hasna."


David ber-O ria sambil mengangguk-angguk. Makutha memotong obrolan David dan Reza. Dia menelan ludah kasar sebelum mulai mengungkapkan kegagalannya masuk Perguruan Tinggi.


"Yah, aku belum berhasil masuk ke Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada." Ucapan Makutha sontak membuat David dan Reza saling menatap.


"Fakultas Hukum?" tanya dua laki-laki itu bersamaan.


"Iya," jawab Makutha singkat sembari mengusap tengkuk.


"Tunggu, kita duduk dan bicarakan hal ini sama-sama!" seru Reza.


Mereka semua akhirnya duduk di ruang tengah. Reza menatap intens ke arah Makutha. Lelaki itu heran kenapa sang putra memilih Fakultas Hukum untuk pendidikan selanjutnya.


"Tha, kamu yakin? Bukankah kamu sangat unggul di bidang SAINS? Kenapa jadi memilih fakultas lintas jurusan begini?" tanya David keheranan.


"Aku merasa dunia ini sudah tidak adil, Yah. Aku ingin mengembalikan semua pada tatanan yang seharusnya. Membantu mereka yang difitnah dan menghukum seberat-beratnya orang yang menyalahgunakan uang dan kekuasaan demi membeli keadilan!" seru Makutha mantab.


"Apa ini berkaitan dengan Cio?" tebak Reza tepat sasaran.


Makutha mengangguk mantab. Rahangnya mengeras karena kembali teringat bagaimana Alex, Hendry, dan Liam melemparkan kesalahan kepadanya. Belum lagi berandal dari sekolah lain yang juga menertawakannya. Mereka tertawa saat tiga orang yang dia anggap teman, justru menuding dirinya sebagai otak dari aksi tawuran tersebut. Namun, sasaran utama Makutha tentu saja Toni, psikopat gila yang sudah menghabisi nyawa Abercio.


"Kamu bisa mencobanya di Universitas lain, bukan?" tanya Reza.


"Aku ...." Ucapan Makutha menggantung di udara ketika melihat Hasna keluar dari dapur.


Gadis itu membawa tiga cangkir teh, dan juga beberapa kudapan di atas nampan. Makutha membantunya memindahkan cangkir dan toples, dari nampan ke atas meja. Ketika tanpa sengaja kulit mereka bersentuhan, Hasna menarik lengannya. Tatapan keduanya beradu.


Pipi Hasna merona karena mendapatkan tatapan lembut dari Makutha. Entah mengapa dia enggan mengalihkan pandangannya dari lelaki tersebut. Begitu juga dengan Makutha. Hasna seperti medan magnet baginya. Dia terus saja tertarik untuk selalu berada di dekat perempuan itu.


"Ehm!" Reza berdeham, hingga membuat sepasang muda-mudi itu salah tingkah.

__ADS_1


Hasna membuang muka, lalu berdiri, dan langsung berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Makutha mengusap tengkuk, kemudian kembali duduk di samping Reza. David dan ayah sambung Makutha saling menatap dan tersenyum penuh arti.


"Utha, kamu suka sama Hasna?" tanya David.


Makutha yang sedang menyeruput teh pun tersedak. Lelaki itu sampai terbatuk-batuk dan mengeluarkan air mata karenanya. Reza terkekeh sambil menepuk lembut punggung putranya tersebut.


"Cukup, tidak usah kamu jawab. Papa sudah tahu!" seru David di tengah tawanya yang pecah.


"Sebenarnya Ayah juga tahu bagaimana perasaanmu kepadanya. Terlihat jelas kalau kamu sangat menyayangi Hasna, Tha."


Makutha meletakkan kembali cangkir tehnya. Lelaki itu mengembuskan napas kasar, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Tapi, bukankah kita tidak boleh memaksakan perasaan kita kepada orang lain? Lagi pula, Hasna itu dulunya pacar Cio, Pa, Yah. Nggak mungkin Makutha menjalin hubungan dengannya." Makutha menatap serius dua lelaki dewasa di hadapannya itu.


"Rasanya seperti berkhianat saja kalau sampai aku menjalin kasih dengan Hasna." Makutha tersenyum kecut dengan tatapan yang menerawang jauh.


"Tapi, kalau misalkan Hasna memiliki perasaan yang sama denganmu ... apa kamu juga akan tetap menolaknya?" tanya David.


"Kalau itu ... pengecualian, Pa."


"Haduh, rumit sekali, sih perasaanmu! Sudahlah. Kamu ikut Papamu saja sambil belajar di sana biar lebih fokus!Tahun depan kembali lagi ke sini untuk mendaftar ke UGM lagi!" seru Reza.


"Tapi, Yah."


"Tidak ada tapi-tapian!" bentak David.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mencuri dengar obrolan ketiganya. Hasna terbelalak sembari membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Tubuh perempuan itu merosot ke atas lantai.


Hasna tak menyangka kalau Makutha memiliki perasaan khusus untuknya. Selain itu, hatinya terasa gelisah ketika mendengar Makutha diminta untuk ikut ke Taiwan.


"Kenapa begini, aku tidak mau berjauhan dengan Makutha. Apa ada yang salah dengan diriku? Apa semudah ini aku berpaling dari Cio?" Hasna menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan.


Tak lama kemudian, Hasna beranjak dan kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Gadis itu menutup pintu kamar, lalu merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Membayangkan tidak bisa melihat Makutha beberapa bulan ke depan membuat hati gadis itu galau. Setelah dipikirkan lagi, Hasna baru menyadari jika dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Makutha daripada Cio.


Berangkat sekolah bersama. Mengerjakan tugas pun sama-sama. Terlebih lagi semenjak Cio sibuk dengan karirnya di dunia modeling. Hasna selalu bergantung pada Makutha. Dia tak sadar bahwa sebenarnya sudah tumbuh rasa lain untuk Makutha.

__ADS_1


Sore itu, Hasna memilih untuk bergelung di dalam selimut dan tidur. Dia enggan memikirkan jika harus berpisah dengan Makutha. Tak sampai sepuluh menit, Hasna sudah berpindah ke alam mimpi.


__ADS_2