
Liontin berjalan gontai keluar dari kantor polisi. Hatinya hancur berkeping-keping karena kenyataan yang menampar. Sosok lelaki yang selama ini menjadi sandarannya, ternyata sengaja mendekatinya karena maksud lain.
Langit berubah mendung seperti hati Liontin saat ini. Rintik hujan mulai membasahi aspal yang ia pijak. Liontin segera berlari sembari mendorong kereta bayi Makutha menuju halte yang ada di depan kantor polisi.
"Langit pun tahu bagaimana perasaanku hati ini." Liontin menengadahkan tangan sambil menatap langit yang semakin gelap.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan perempuan itu. Ketika kaca mobil dibuka, wajah mungil Jia tersenyum lebar menyapanya.
"Mama!" teriak Jia sembari melambaikan tangan.
Tak lama kemudian, David keluar dari mobil sambil membawa payung. Lelaki itu menghampiri Liontin dan mengajaknya masuk ke mobil.
"Kamu ngapain di sini? Ayo kuantar pulang."
"Tidak perlu," ketus Liontin.
"Aku tidak peduli denganmu. Aku tidak mau melihat dia kedinginan." David melirik Makutha yang mulai menggeliat karena kedinginan.
Liontin menghela napas kasar kemudian masuk ke dalam mobil. Perempuan itu menggendong Makutha sambil memayungi David yang sedang mengangkat kereta bayi dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu, mereka membelah jalanan Kota Solo yang mulai padat karena jam pulang kerja.
__ADS_1
"Ada urusan apa kamu datang ke kantor polisi?"
"Bukan urusanmu." Liontin menatap keluar jendela sambil berusaha menahan tangis.
"Baiklah, kamu tinggal di mana? Biar aku antar."
"Perumahan Senja Indah."
Nada bicara Liontin terdengar begitu ketus. Setelahnya, David memilih untuk bungkam. Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di kediaman Liontin. Dia tidak menawari David untuk mampir dan langsung mendorong kereta bayi Makutha masuk ke rumah.
"Sungguh tidak sopan! Bahkan dia tidak mengucapkan terima kasih sekali pun!" gerutu David. Lelaki itu langsung tancap gas dan meninggalkan rumah Liontin dengan perasaan dongkol.
"Ketika aku baru saja merasa bahagia, kenapa Engkau kembali menghempaskan aku ke jurang kesedihan lagi, Tuhan?"
Liontin menekuk kaki, kemudian memeluk lututnya sendiri, dan mulai menumpahkan air mata. Dadanya masih begitu sesak mengetahui kenyataan yang membuatnya begitu terpukul.
...****************...
"Reza, cepatlah bangun! Aku sudah menemukan siapa yang sudah menabrakmu!" Risa menggenggam jemari sang putra sambil terus meneteskan air mata.
__ADS_1
Perempuan itu baru menyadari kesalahannya, karena menggunakan cinta sang putra untuk melancarkan aksi balas dendam kepada sang mantan suami.
"Jika saja Mama tidak memintamu untuk pergi ke sana waktu itu. Mungkin saja ...." Tangis Risa pecah seketika.
Dia tak menyangka ambisinya justru merenggut kebahagiaan putranya. Dia merasakan jemari Reza bergerak. Tangisnya berhenti sejenak. Perempuan itu beranjak dari kursi kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Reza.
"Za, kamu bangun?" Mata Risa melebar.
Risa segera keluar dari ruang ICU ketika melihat mata Reza berkedip. Derap langkahnya memenuhi koridor ketika menuju ruang perawat.
"Suster! Suster!" teriak Risa sambil memukul meja perawat berulang kali.
"Ada apa, Nyonya?"
"Putraku, tangan dan matanya bergerak!"
"Baik, sebentar. Kami akan segera ke sana." Perawat bernama Tita itu berjalan segera mengekor di belakang Risa.
Seorang perawat lagi yang sedang berjaga di ruangan itu meraih gagang telepon kemudian menghubungi tim dokter yang bertanggungjawab atas Reza.
__ADS_1
"Halo, Dok. Presdir sepertinya sudah sadar!"