
Reza menatap wajah Liontin sekilas kemudian tersenyum lembut. Lelaki itu menggeleng, lalu menyelipkan poni Liontin ke belakang telinga.
"Aku tidak pernah takut denganmu," kekeh Reza.
"Benarkah? Bahkan jika sebenarnya aku ini seorang vampir yang berniat menghisap darahmu sampai habis ... Kakak juga tidak takut?"
Reza terbahak mendengar ucapan Liontin. Ujung matanya mulai basah dan perutnya sampai terasa sakit. Di sisi lain, Liontin melipat lengannya sambil menatap tajam Reza. Bibirnya dimajukan layaknya bebek.
"Kamu ini ada-ada aja! Liontin, aku akan memberikan segalanya untukmu asalkan kamu bahagia. Jangankan harta? Darah bahkan nyawa sekali pun akan kuberikan demi kebahagiaanmu!"
"Bodoh!" seru Liontin.
"Lah, kok bodoh?" Reza menautkan kedua alisnya.
"Iya, itu namanya bodoh! Jangan pernah memberikan hatimu seutuhnya pada seseorang, jika tidak ingin merasakan sakit."
Liontin membuang muka, kemudian menatap Makutha yang masih terlelap. "Tertawalah sewajarnya dan cintailah seseorang sewajarnya. Jika semua itu menghilang dari kehidupanmu, maka kamu hanya akan bersedih sewajarnya juga."
Kini Liontin kembali menatap Reza, hingga tatapan keduanya saling beradu. Reza mulai mendekatkan wajahnya pada perempuan di hadapannya itu.
__ADS_1
"Kamu benar, ternyata aku bukan lelaki normal! Karena aku tidak bisa mencintaimu sewajarnya!"
Reza terus memangkas jarak dengan Liontin. Kini hembusan napas perempuan itu menyapu permukaan wajahnya. Bibir merah Liontin terlihat begitu menggoda. Lelaki itu terus maju untuk menautkan bibirnya pada bibir Liontin. Ketika jarak keduanya hanya setipis kertas, Liontin berpaling.
Ada perasaan kecewa yang menelusup di hati Reza. Ciuman pertamanya gagal. Lelaki itu tersenyum kecut kemudian membuang muka asal.
"Kata Mbak Cincin nggak boleh ciuman kalau belum nikah. Jadi ...." Liontin tertunduk sembari memilin ujung rok yang ia pakai.
Reza menatap Liontin kebingungan. Dia memiringkan kepala menanti lanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Liontin.
"Jadi ... Kak Reza mau nggak nikah sama Liontin?"
"Ya? Eh? Gimana-gimana?" Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Loh, hla kok marah?"
"Habisnya Kak Reza nyebelin!"
"Bukannya gitu ... aku kaget, kamu tiba-tiba ngomong begitu setelah berbulan-bulan ngambek dan nggak mau ketemu."
__ADS_1
Liontin tersipu. Apa yang diucapkan Reza memang benar adanya. Akan tetapi, dia tidak bisa membohongi hatinya. Bahkan sekarang dia tidak peduli jika Reza dan Risa benar-benar hanya memanfaatkannya. Liontin berharap bisa menemukan secuil kebahagiaan jika bersama Reza.
"Jadi ... kapan kita nikah?"
...****************...
"Bu, ada tamu." Seorang perempuan paruh baya menghampiri Risa yang sedang minum segelas teh di taman belakang.
"Siapa?"
"Dia pakai bahasa asing. Yanti nggak ngerti, Bu. Tapi, dia ngasih ini ke saya buat dikasih ke ibu."
Yanti mengulurkan selembar kertas foto kepada sang majikan. Risa meraih foto itu dan mengamati perlahan sambil menyipitkan mata. Tak lama kemudian, pupil perempuan itu melebar sempurna.
"Untuk apa dia ke sini?"
Jemari Risa mengepal erat kemudian memukul meja taman di hadapannya. Dia beranjak dari kursi kemudian melangkah ke dalam rumah. Suara langkahnya menggema di rumah mewah bak istana itu. Saat sampai di ruang tamu, seorang lelaki paruh baya langsung berdiri.
"Untuk apa kamu ke sini?" Risa melipat lengan di depan dada sambil menatap tajam ke arah pria itu.
__ADS_1
"Apa kabar?" Lelaki itu tersenyum tipis sambil menatap perempuan yang sudah ia rindukan selama puluhan tahun.
"Untuk apa kamu ke sini!"