
Langkah David terasa berat ketika hendak menghadiri undangan pernikahan Reza dan Liontin. Hatinya kini berkalung penyesalan, hari itu ia baru merasa bahwa dirinya adalah lelaki paling bodoh di dunia. Hari di mana ia baru menyadari bahwa dia mencintai Liontin. Namun, semuanya terlambat.
Perempuan itu sudah menjadi milik Reza seutuhnya. Usai ijab qobul, tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Liontin. Perempuan itu terlihat begitu cantik. Riasan sederhana bernuansa peach justru membuat wajahnya semakin memesona.
Semoga kamu bahagia. Aku titip Makutha. Aku yakin, tanpa kuminta untuk merawatnya penuh kasih sayang, kamu pasti akan melakukannya. Kamu perempuan baik, wajib mendapatkan pria baik juga di sampingmu. Semoga kalian bahagia.
David balik kanan dan meninggalkan vila itu. Di luar vila, Tuan Li bersandar pada mobilnya. Lelaki itu melipat lengan sambil menatap David yang berjalan gontai ke arahnya.
"Pa, maafkan sikapku selama ini. Aku baru sadar apa yang kulakukan ini salah. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua, dengan tidak melaporkanku kepada pihak yang berwajib." David tertunduk lesu menatap ujung sepatunya.
"Pulanglah! Buat aku bangga dengan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Maafkan aku karena sikap kasarku di masa lalu. Aku harap tidak ada dendam lagi di antara kita." Tuan li mengusap lengan atas David sambil tersenyum tipis.
Bahu David bergetar hebat. Hari itu juga dia kembali ke Taipei untuk menjalankan perusahaan di sana. Pabrik yang ada di Indonesia dilimpahkan kepada Lui. Lelaki itu dipercaya menjadi CEO untuk menangani pabrik perakitan ponsel yang ada di Indonesia.
...****************...
__ADS_1
Sesampainya di Taipei, David kembali gila kerja. Jia ia percayakan kepada Imas. Perempuan itu mengasuh Jia dengan sangat baik. Sesaat setelah ia kembali, Barbie kembali datang menemuinya.
"Dave," panggil Barbie ketika tanpa sengaja bertemu dengannya saat jam makan siang.
David me menatapnya sekilas, kemudian kembali sibuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Seperti biasa, Barbie selalu bertindak semaunya. Dia duduk bergabung di meja David tanpa permisi.
"Apa kabar? Mengenai masalah hari itu, aku benar-benar menyesal." Barbie tersenyum kecut sambil memilin ujung blazer.
"Lupakan saja. Toh, semua sudah terjadi. Aku paling benci membicarakan masa lalu yang tidak mengenakkan." David menatap tajam ke arah Barbie kemudian meletakkan sumpitnya di samping mangkuk.
"Kamu menikah? Sudah tidak lagi tergila-gila padaku?" kata David dengan nada mengejek sambil tersenyum miring.
Barbie terkekeh kemudian berkata, "Aku belajar untuk melepaskan apa yang seharusnya bukan menjadi milikku. Kamu tahu, Dave. Kita hanya akan mendapatkan kekecewaan dan rasa lelah, jika terus mengejar seseorang yang sebenarnya tidak pernah menginginkan kita."
"Dasar lemah!" ejek David.
__ADS_1
"Bisa dibilang aku terlalu lemah untuk dirimu yang begitu keras kepala." Barbie tersenyum kecut, meraih gelas berisi air putih milik David dan meneguknya perlahan.
Sebuah tatapan tajam David berhasil mendarat pada Barbie. Perempuan itu tersenyum canggung. Dia kembali meletakkan gelas itu ke tempatnya semula.
"Maaf," ucap Barbie sambil tersenyum konyol.
"Tolong kurangi kebiasaanmu yang suka bertindak semaumu."
"Baik, Tuan Muda Li." Barbie berdiri kemudian membungkukkan badannya sekali.
"Aku pulang dulu, ya? Jangan lupa datang ke pernikahanku." Barbie berpamitan ketika seorang pria berkebangsaan Eropa menghampirinya.
Sorot mata Barbie terlihat begitu bahagia. Dia bergelayut manja pada lengan kokoh calon suaminya. David hanya bisa menyaksikan kemesraan keduanya dari belakang. Sebenarnya dia iri dengan Barbie, Reza, dan Liontin. Mereka berakhir bahagia. Bisa memulai hidup baru bersama pasangannya masing-masing.
Bahkan Tuan Li dan Risa kembali bersatu. Dia merasa kesepian kali ini. Kesepian yang semakin menggerogoti hati serta jiwanya. Dia berharap suatu saat nanti bisa menemukan pengganti Ellena. Bersedia menerima dirinya yang jauh dari kata sempurna.
__ADS_1