
Rachel menatap bins (alat pemajangan buah, buahannya ada yang miring ada pula yang lurus). Gadis itu mengedarkan pandangan untuk memilih buah apa yang cocok untuk daya tahan tubuh. Beraneka macam buah import tertata rapi di dalam rak di depannya itu.
"Belikan apa, ya?" Rachel mengusap dagu dengan satu lengan yang dilipat di atas perut.
Setelah menimbang berulang kali, akhirnya pilihan Rachel jatuh pada buah jeruk, strawberry, dan kiwi. Gadis itu memilih ketiga buah tersebut karena memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Rachel mengambil buah-buahan tersebut dari bins lalu memindahkannya pada troli belanja.
Usai membayar belanjaannya, Rachel bergegas kembali ke rumah sakit. Perasaannya sedikit lebih ringan mendengar kabar Wahyu. Dia sama seperti teman yang lain. Dia begitu menyayangi Hasna.
Bagi Rachel, Hasna sudah seperti keluarga kandungnya. Dia daoet merasakan juga kesedihan yang selama ini Hasna rasakan. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana sulitnya hidup tanpa orang tua.
Sejak mengenal Hasna, Rachel jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang ibu. Dia berubah menjadi anak yang penurut dan tidak banyak menuntut kepada sang ayah dan ibunya. Bahkan setiap ayahnya kembali dari luar negeri, Rachel selalu minta oleh-oleh sederhana. Sebelumnya dia selalu meminta barang-barang mahal, padahal sekali atau dua kali pakai dia sudah bosan.
Perubahan sikap Rachel pun dirasakan oleh sang ibu. Oleh karena itu, dia sering meminta Rachel untuk mengajak Hasna menginap atau sekedar makan bersama. Banyak sekali orang yang menyayangi Hasna, karena gadis itu membawa aura positif bagi orang yang ada di sekelilingnya.
Setelah hampir sampai di ruang ICU, Rachel melihat Makutha dan Cio seakan sedang mengobrol serius. Awalnya gadis itu ingin berteriak untuk menyapa keduanya. Namun, dia mengurungkan niat. Rachel tidak ingin mengganggu percakapan keduanya. Jadi, dia memilih untuk bersembunyi di balik tembok.
Namun, siapa sangka justru ia dibuat terkejut dengan obrolan dua teman laki-lakinya tersebut. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya patah seketika. Rasa nyeri menghujam hatinya saat ini. Dia mendengar dari percakapan Makutha dan Cio bahwa keduanya sedang berselisih mengenai perasaan terhadap Hasna.
Jika saja Makutha yang menyukai Hasna, mungkin dia tidak akan sesakit ini. Akan tetapi, Cio yang menyukai sahabatnya itu. Sedangkan dia menaruh hati kepada Cio. Kakinya seakan lemas mendengar percakapan keduanya.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan mundur lagi! Aku tidak akan melepaskan Hasna kepada siapa pun! Termasuk dirimu! Aku tidak mau mengalah! Aku akan mengungkapkan perasaanku kepada Hasna, setelah memastikan dia juga memiliki perasaan yang sama denganku."
Ucapan Cio terakhir itu membuat Rachel seakan kehilangan pijakan. Kantong plastik yang berisi buah kini jatuh ke lantai. Jeruk serta kiwi menggelinding berantakan, dan sebagian berhenti ketika menyentuh kaki Cio.
Cio memungut buah tersebut, lalu menoleh ke arah koridor tempat jeruk itu berasal. Ketika sampai di tempat Rachel berada, Cio terbelalak. Gadis di hadapannya itu kini sedang berjongkok sambil menangis.
"Kamu, kenapa Chel?" tanya Cio sembari menautkan kedua alisnya.
Bukannya menjawab, Rachel malah berdiri kemudian berlari sepanjang koridor. Cio yang merasa ada yang tidak beres dengan teman perempuannya itu pun ikut berlari.
"Chel, berhenti! Jangan lari-larian di koridor Rumah Sakit! Bahaya!" seru Cio mengingatkan sahabat.
Tentu saja Rachel tidak peduli. Gadis itu terus berlari hingga keluar dari gedung tersebut. Dia dibutakan oleh rasa cemburu, sampai-sampai Rachel hendak menyeberang tanpa memperhatikan jalanan. Untungnya Cio menghasil menarik lengan Rachel.
Cio memeluk sang sahabat agar lebih tenang. Awalnya Rachel berontak tak terus berteriak. Cio sekuat tenaga menahan gadis itu. Dia juga menepuk lembut punggu Rachel.
__ADS_1
"Tenanglah, Chel. Kamu kenapa? Ayo ceritakan kepadaku."
Kini Rachel sudah tidak berontak lagi. Dia mendorong dada Cio agar lelaki itu melepaskan pelukan. Gadis itu masih sesenggukan. Setengah mati Rachel mencoba berbicara.
"To-tolong, bi-biarkan aku sendiri. A-aku ingin sendiri," ucap Rachel terbata-bata.
"Aku antar pulang, ya?" Cio masih berusaha membujuk Rachel. Dia merasa bertanggungjawab karena tadi sidah berjanji untuk mengantarnya pulang.
"Nggak! Urus saja Hasna! Aku masih bisa sendiri!" teriak Rachel.
"Chel, kamu itu kenapa?" Cio berusaha meraih lengan gadis itu, tetapi kembali ditepiskan kasar.
"Aku nggak apa-apa! Sana pergi!"
"Cio!" Kini Makutha berjalan ke arah keduanya.
"Masuklah, biar Rachel sama aku. Aku yang akan antar dia pulang."
"Baiklah. Tolong, ya?"
"Kamu tunggu di sini. Aku ambil Si Beaty dulu." Makutha meninggalkan Rachel di depan gedung Rumah Sakit, dan langsung menuju parkiran.
Tak lama kemudian Makutha kembali menghampiri Rachel. Dia menyodorkan helm, lalu meminta gadis itu naik. Setelag Rachel duduk dengan benar di atas jok motor, Makutha segera memutar tuas gas dan mengantar Rachel pulang.
Sepanjang perjalanan, keduanya saling diam. Sampai akhirnya Makutha membelokkan motornya ke sebuah jalanan menuju rel kereta api yabg sudah tidak di pakai. Rachel mengerutkan dahi, tetapi enggan bertanya mengapa dia dibawa ke tempat tersebut.
"Turun!"
Rachel turun dari motor, lalu melepaskan helmnya. Gadis itu mengikuti langkah kaki Makutha dan mengekor di belakangnya. Setelah sampai di rel tersebut Makutha menghentikan langkah, lalu berteriak sekuat tenaga. Urat lehernya sampai keluar.
Rachel melotot melihat tingkah ajaib temannya itu. Setelah berteriak beberapa kali, Makutha berhenti lalu duduk pada besi tua yang dulu dipakai untuk jalur kereta tersebut. Makutha merogoh saku dan mengambil sebungkus rokok dan korek api.
"Kamu ngerokok?" tanya Rachel dengan mata terbelalak.
"Sesekali kalau lagi stres."
__ADS_1
"Stres?"
Makutha mengangguk, menyulut rokoknya, kemudian menghisap lintingan tembakau tersebut. Setelah memenuhi mulutnya dengan asap, lelaki itu meniupkannya ke udara.
"Nikotin terkadang bisa jadi teman terbaik saat merasa hampir gila." Makutha tersenyum kecut lalu menoleh ke arah Rachel.
"Kamu stres kenapa, emangnya?"
"Aku harus rela kalah sebelum berjuang, demi persahabatan."
"Maksudmu? Utha ... kamu ... suka sama Hasna juga?" Rachel terbelalak.
Makutha mengangguk kemudian kembali tersenyum kecut. Dia menghisap lagi rokok, lalu meniupkannya ke udara.
"Se-sejak kapan?"
"Sudah lama. Sampai aku tidak tahu kapan pastinya mulai menyukai Hasna."
"Kita beda, Tha." Mata Rachel kembali berkaca-kaca, dia menatap lurus ke depan.
"Jika kamu memilih untuk menyerah sebelum memulai perang, aku akan berusaha sebisaku untuk meluluhkan hati Cio. Lagi pula aku yang lebih dulu mengenal Cio daripada Hasna."
"Berhenti. Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Cinta tidak bisa datang karena lama atau sebentarnya dua orang yang saling mengenal. Jangan mempersulit dirimu sendiri, Chel."
"Nggak! Aku bukan kamu yang seperti pecundang itu! Aku akan tetap memperjuangkan hatiku sampai aku merasa sudah tidak sanggup lagi berjuang!"
Rachel beranjak dari tempat itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Makutha yang masih terpaku di atas rel kereta api. Makutha tersenyum kecut melihat sikap keras kepala Rachel.
"Dasar batu!" gerutu Makutha.
"Aku memiliki alasan tersendiri kenapa mengalah pada Cio." Kesedihan terlihat jelas di dalam mata Makutha. Dia seakan menyimpan sebuah beban yang begitu berat. Beban yang tidak bisa ia ceritakan kepada orang lain karena sebuah janji.
...****************...
Tetep ikuti kisah cinta segi empat mereka, ya. Di bab terakhir Chika mau kasih spoiler novel yang rilis awal bulan agustus loh!😍😍😍
__ADS_1