TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 1: Tahun Ajaran Baru


__ADS_3

12 Tahun kemudian ....


Langit terlihat begitu cerah di pertengahan bulan Juli. Kota Solo sudah mulai sibuk dan jalanannya semakin padat setelah libur panjang kenaikan kelas. Makutha mengendarai motor bebeknya santai sambil memboncengkan Tiara di jok belakang.


"Tiara, nanti kamu tunggu Bunda pas pulang! Jangan kayak dulu, ngikut orang asal-asalan!" seru Makutha mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


Seisi rumah dibuat panik oleh Tiara yang tiba-tiba menghilang. Saat Liontin menjemputnya, gadis kecil itu tidak ada di pos satpam tempat biasa ia menunggu. Ternyata Tiara diantar oleh salah seorang ibu dari temannya, tetapi diajak mampir dulu ke rumah mereka.


"Yeee ... itu, Tiara nggak asal-asalan ikut, Mas! Tiara ikut sama Mamanya Banu." Tiara bersungut-sungut tidak terima dengan omelan sang kakak.


"Ya, pokoknya nggak boleh gitu lagi!"


"Iya, iya ...," jawab Tiara kesal.


Tak lama kemudian, keduanya sampai di sekolah tempat Tiara menuntut ilmu. Gadis kecil itu mencium punggung tangan sang kakak lalu melambaikan tangan.


"Ingat pesan Mas Utha. Jangan ...."


"Melangkah dari gerbang sekolah kecuali Bunda atau Ayah yang jemput!" Tiara menirukan ucapan yang selalu diucapkan sang kakak setiap mengantarnya ke sekolah.


"Sip! Mas Utha tinggal dulu!"

__ADS_1


Makutha kembali memutar tuas gasnya, dan membelah jalanan yang semakin padat. Sesampainya di sekolah, dia disambut oleh Cio. Persahabatan keduanya berlanjut hingga saat ini.


"Hei, Bro! Makin ganteng aja!" Cio melayangkan tangannya ke udara, dan disambut oleh tellapak tangan Makutha.


"Oh, wajib tampan setelah semedi hampir sebulan di rumah!" Makutha mendongak sombong.


"Kamu masuk di kelas mana?"


"XIA5," jawab Makutha singkat sambil sibuk dengan gawainya.


"Apakah kita berjodoh? Sepertinya Tuhan menciptakan kita untuk terus hidup bersama!" seru Cio.


"Wong edan!" (Orang gila!)


Makutha memukul kepala sahabatnya itu diikuti tawa Cio yang pecah. Tak lama kemudian, suara bel tanda masuk berbunyi. Keduanya memasuki kelas bersamaan. Cio dan Makutha memilih bangku paling belakang dan dekat dengan tembok. Tempat duduk paling aman dari perhatian guru.


"Eh, kamu kenal dia?" tanya Cio sambil menatap gadis berjilbab yang duduk tepat di depan meja guru.


"Nggak," jawab Makutha asal sambil terus memainkan permainan seluler favoritnya.


"Lihat dulu, yang bener!" Cio merangkum wajah sahabatnya itu dan mengarahkannya pada gadis yang ia maksud.

__ADS_1


Makutha melihat sekilas gadis yang hanya terlihat punggungnya itu, lalu kembali menatap layar ponselnya. "Sudah kubilang nggak tahu."


"Aneh, aku perhatikan sejak kelas satu dia selalu sendiri. Selalu duduk paling depan, di depan meja guru. Dan anehnya ... nggak ada satu pun yang mau ikut duduk sebangku dengannya."


Mendengar penuturan sang sahabat. Makutha menghentikan aktivitasnya. Dia menatap serius Cio yang terlihat begitu antusias membicarakan gadis itu.


"Kamu suka, ya, sama gadis itu?" tanya Makutha sambil tersenyum tipis.


"Nggaklah! Enak aja!" Cio membuanh muka kemudian mengeluarkan buku tulisnya dari dalam tas.


Makutha sontak beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah mendekati gadis tersebut. Makutha duduk berjongkok di depannya kemudian tersenyum lebar. Gadis itu melirik Makutha sekilas kemudian menundukkan pandangan.


"Siapa namamu?" tanya Makutha.


Gadis itu bergeming. Bibirnya seakan terkunci, dan seperti enggan menjawab ataupun berkomunikasi dengan Makutha. Dia malah sibuk mengeluarkan buku tulis dan juga kotak alat tulis.


"Hei, namamu siapa?"


Lagi-lagi gadis itu hanya diam, lalu membuka buku kosong yang ada di atas mejanya. Merasa diabaikan, membuat Makutha dongkol. Lelaki itu berdiri kemudian menatap tajam ke arah gadis itu. Makutha memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, kemudian menyeringai.


"Kamu tuli ya? Atau bisu?"

__ADS_1


__ADS_2