
Hasna masih menatap kosong gundukan tanah di hadapannya. Di dalam tanah itu, tubuh Cio disemayamkan. Lelaki yang menghiasi hari-harinya beberapa bulan terakhir. Air matanya seakan sudah habis karena menangisi kepergian sang kekasih.
"Na, kita pulang, ya?" ajak Liontin.
"Hasna masih mau di sini, Bun. Tinggal saja Hasna sendirian."
Reza menautkan jemarinya pada jemari sang istri. Lelaki itu menatap sedih Hasna dan sang istri secara bergantian. Dia mengangguk pelan.
"Kita pulang sekarang saja, Bun. Hasna mungkin butuh waktu sendirian," bisik Reza.
Liontin mengangguk kemudian menghampiri Hasna. Perempuan itu merangkum wajah gadis itu, sembari tersenyum lembut. Dia membawa Hasna ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya perlahan.
"Na, kamu yang sabar, ya? Bunda yakin, ini sudah takdir terbaik untuk Cio."
"Bunda, kenapa Hasna selalu kehilangan orang yang selalu sayang kepada Hasna? Apa Hasna tidak pantas disayangi?" tanya Hasna lemah.
Mata gadis itu mulai terasa panas, tetapi tidak ada yang keluar dari dalam sana. Liontin kembali merangkum wajah gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu.
"Na, kamu nggak boleh ngomong begitu. Buktinya kami semua baik-baik saja. Kami semua menyayangimu. Bukankah sudah takdir Tuhan bahwa setiap orang akan mengalami kematian? Bukan karena mereka menyayangimu lalu berakhir dengan kehilangan nyawa."
Ingin rasa Liontin berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Hasna saat ini, hingga pikiran buruk itu muncul di benak gadis cantik tersebut.
"Kalau kamu mau tetap di sini, tinggallah sebentar lagi. Tapi cepat pulang, ya? Sebentar lagi sore. Nggak baik berlama-lama di pemakaman." Liontin tersenyum lembut diikuti anggukan kepala Hasna.
Reza, Liontin, dan Tiara berjalan pergi meninggalkan Hasna. Makutha masih terduduk lesu sambil bersandar pada pohon beringin. Lelaki itu juga sama terpukulnya dengan Hasna. Rasa bersalah masih menggerogoti hatinya.
Ketika hendak melewati Makutha, Reza menghentikan langkahnya. Lelaki itu berjongkok dan menatap anak laki-lakinya tersebut. Reza menepuk bahu sang putra.
"Tha, ingat pesan Ayah. Kamu harus kuat! Kamu tidak bersalah mengenai kematian Cio. Segera pulang setelah Hasna menginginkannya. Mengerti?"
Makutha hanya mengangguk lesu. Reza kembali berdiri dan menyusul Liontin serta Tiara yang sudah berjalan lebih dulu. Makutha menatap punggung Hasna yang terlihat bergetar. Gadis itu menangis dalam diam.
Hati Makutha terasa begitu nyeri saat melihat Hasna yang sedang terpuruk. Dia ingin sekali menenangkan gadis itu, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya Makutha hanya bisa menatapnya pilu.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, Hasna masih bergeming. Gadis itu menatap pusara sang kekasih. Makutha mengumpulkan kekuatan untuk berdiri dan menghampiri Hasna. Setelah sampai di belakang gadis itu, Makutha menyentuh pundak Hasna.
"Na, ayo kita pulang. Sebentar lagi gelap." Makutha menatap langit yang kini berubah menjadi jingga.
"Nggak mau, aku mau nemenin Cio di sini. Kasihan dia sendirian." Hasna menepis lengan lelaki itu.
Makutha mengusap wajahnya kasar, karena mendengar ucapan Hasna. Dia paham bagaimana perasaan gadis itu. Beberapa hari terakhir menanti kedatangan sang kekasih, tetapi ketika Cio datang mereka harus berpisah untuk selamanya.
"Na, aku ngerti perasaanmu. Tapi inget, hidup mesti terus berjalan, Na. Kamu nggak bisa begini terus. Masih ada banyak orang yang menyayangimu. Jadikan mereka semua semangatmu!" Makutha mencoba menyemangati Hasna sekaligus dirinya sendiri.
"Kamu nggak akan ngerti gimana perasaanku saat ini, Tha! Kamu nggak akan ngerti!" seru Hasna, gadis itu kini berdiri dan menatap tajam ke arah Makutha. Mata Hasna terlihat merah dan sedikit basah.
"Kamu nggak ngerti bagaimana rasanya ditinggal orang berharga dalam hidupmu, untuk selama-lamanya!"
"Apa kamu pikir aku tidak terpukul atas kematian Cio, Na!" teriak Makutha frustrasi.
"Na, aku lebih dulu mengenal Cio, daripada kamu mengenalnya! Sejak TK kami selalu menghabiskan banyak waktu bersama! Apa kamu tidak berpikir bagaimana terpukulnya aku saat ini!" Rahang Makutha mengeras, matanya mulai merah, dan mengeluarkan titik air mata.
"Maaf," ucap Hasna singkat kemudian menunduk. Dia baru saja tertampar oleh ucapan Makutha.
"Na, kita pulang sekarang, ya? Mari kita menjalani hidup penuh semangat agar Cio bangga memiliki kita. Dia akan tersenyum bahagia di sana, karena merasa pengorbanannya tidak sia-sia." Makutha merengkuh lengan atas Hasna dan menatap gadis itu penuh semangat.
"Kamu benar, Tha! Ayo kita pulang!" Hasna mencoba bangkit dari keterpurukan. Dia dan Makutha berjalan beriringan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Cio.
...****************...
Enam bulan kemudian ....
Hasna dan Makutha menatap layar laptop sambil terus mengucapkan doa. Hari ini adalah hari pengumuman penerimaan Mahasiswa baru di kampus impian mereka. Keduanya memilih untuk berkuliah di Yogyakarta.
Hasna mengambil Fakultas Kedokteran, dan Makutha memilih mempelajari Hukum. Kematian Cio membuat keduanya berpikir untuk melanjutkan hidup dengan penuh semangat. Semua demi Cio.
"Ayo, buka sekarang, Na!" seru Makutha.
__ADS_1
Hasna mengangguk kemudian menekan sebuah tautan link yang dikirim pihak Universitas ke akun surel-nya. Sebuah tabel panjang dengan judul Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Universitas Gajah Mada menyambut keduanya.
Makutha dan Hasna meneliti satu per satu nama yang tercantum di sana. Pada urutan nomor 220 nama Hasna terlihat dalam daftar tersebut. Gadis itu menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Air mata bahagia mulai merembes membasahi bola mata gadis itu.
Tanpa sadar, Hasna memeluk tubuh tegap Makutha karena rasa bahagia yang meluap. Sontak lelaki dalam pelukan Hasna itu mematung. Dia bingung harus bagaimana, perasaan pada Hasna masih sama. Namun, dia berusaha menjaga hatinya agar tidak merasa menghianati sang sahabat.
"Na, sekarang giliranku melihat pengumuman Fakultas Hukum," bisik Makutha.
Hasna langsung melepaskan pelukannya. Senyum merekah masih jelas terlihat di bibir perempuan itu. Kini Makutha memegang tetikus, membuka surel-nya, lalu meng-klik link yang dikirimkan pihak Universitas.
Setelah itu, keduanya menyipitkan mata untuk mencari nama Makutha. Lima menit berlalu, dan daftar nama sudah habis. Tidak ada nama Makutha di sana. Hasna kembali meneliti satu per satu nama yang tercantum, dari daftar paling atas.
"Kok nggak ada, Tha? Kayaknya ada yang salah, deh!" seru Hasna.
Makutha terdiam. Sebenarnya dia tidak begitu yakin bisa masuk jurusan tersebut. Lelaki itu hanya bermodal tekad. Namun, tidak kompeten dalam mata pelajaran tersebut. Terlebih lagi, ketika SMA dia berada di jurusan IPA. Walau nilainya bagus, tetapi butuh usaha lebih keras jika ingin memasuki Fakultas hukum, yang jelas-jelas berseberangan dengan apa yang ia pelajari selama ini.
Waktu belajar untuk masuk Universitas melalui jalur SBMPTN pun sangat terbatas. Hal itu menyebabkan nilai TPS-nya belum memenuhi kriteria. Makutha mengembuskan napas kasar, lalu menatap Hasna.
"Nggak apa-apa, aku nanti coba lagi tahun depan," ucap Makutha sembari memaksakan senyum.
"Padahal aku mau kita barengan lagi, Tha. Sejujurnya aku merasa aman saat berada di dekatmu." Hasna tertunduk lesu sambil meremas rok panjangnya.
"Apa aku perlu ikut kos juga di Jogja sambil belajar buat Ujian Masuk tahun depan?"
"Ide bagus, Tha!" seru Hasna, diikuti senyum merekah Makutha.
"Aku nggak setuju!"
...****************...
Akkkk nggak kerasaaa...
1 atau 2 Bab lagi TKI tamat!
__ADS_1
Awal bulan nanti Chika ada karya baru, jangan lupa mampir yaaa ...