TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 91. Hukuman Untuk Andre


__ADS_3

Reza terus menyeret perempuan yang sangat mirip dengan Cecilia itu. Sedangkan Andre setengah berlari mengikuti kaki lebar Reza. Ketika sampai du depan Makutha, dia baru melepaskan genggaman tangannya. Lelaki itu melipat lengan di depan dada sambil memicingkan mata.


"Utha, bener, dia orangnya?"


Makutha mendongak dan berjalan maju untuk mengetahui wajah perempuan di hadapannya dengan jelas. Rambut perempuan itu menutupi wajah, sehingga sulit untuk Makutha mengenalinya.


"Tatap putraku!" seru Reza dengan suara baritonnya.


Perempuan itu langsung mendongak. Pupil mata Makutha melebar, dia menunjuk wajah perempuan di depannya, lalu berteriak, "Iya, Ayah! Tante ini yang mau bawa Utha pelgi! Dia olangnya! Utha yakin!"


"Bisa kamu jelaskan ini?" Nada bicara Reza terdengar dingin dan menusuk.


"A-aku ...."


"Aku yang menyuruhnya!" Andre angkat bicara.


Mendengar pengakuan Andre, sontak membuat Reza tersenyum miring. Lelaki itu memasukkan tangan ke saku celana. Jemarinya menggenggam kuat di dalamnya.


"Kenapa kamu melakukan hal seperti itu? Apa maumu?"


"Aku kecewa dengan keputusanmu karena telah mengangkat Aziz menjadi Presdir, bukannya aku! Aku sudah bekerja di sini lebih lama darinya. Tapi, kenapa harus dia!" teriak Andre. Urat sekitar matanya terlihat menonjol berwarna kebiruan.


"Jujur. Kamu tidak memiliki sifat itu. Dalam sebuah pekerjaan, mau orang bodoh sekali pun akan memiliki nilai lebih jika dia jujur."


"Aku sudah mengatakan sebenarnya kepada Anda, Pak. Tapi, aku tidak mendapatkan apapun atas kejujuran yang sudah aku katakan!"


"Kamu masih beruntung, aku tidak memecatmu atau menurunkan jabatanmu! Seharusnya kamu bersyukur! Aku hanya memindahkanmu ke bagian lain!" teriak Reza.

__ADS_1


Ucapan Reza begitu keras hingga menggema di lorong tersebut. Beberapa perawat dan juga pasien yang lalu lalang, seketika menoleh. Beberapa di antara mereka saling bisik dan memandang dengan tatapan heran.


"Sayang, jangan seperti ini. Nggak enak dilihat banyak orang," ucap Liontin sambil mengusap lengan sang suami.


Reza menurunkan emosinya, dia membuang napas kasar lalu kembali menatap Andre. Entah mengapa setiap melihat wajah lelaki di depannya itu selalu membuat emosinya meledak-ledak.


"Yang ...." Liontin kembali membujuk Reza, ketika tatapannya dengan sang suami bersiborok, dia menggeleng.


"Baiklah, mati kita bicara di ruanganku!" Reza menggendong Makutha kemudian meraih jemari sang istri.


Lima menit kemudian, mereka semua sudah ada di ruangan yang sebentar lagi menjadi milik Aziz. Liontin dan Makutha duduk di sofa yang ada pada sudut ruangan. Sedangkan Andre dan kekasih gelapnya duduk di depan meja kerja Reza.


"Apa tidak ada yang ingin kalian ucapkan?" Reza mengangkat satu alisnya sambil menatap dua orang yang ada di depannya itu.


"Maaf," ucap perempuan di hadapannya itu lirih.


"Aku tidak mendengarnya."


Reza yang tidak suka dengan kelancangan bawahannya itu, sontak menggebrak meja. Semua yang ada di sana tersentak.


"Siapa namamu?" tanya Reza kepada perempuan yang sangat mirip dengan Cecilia itu.


"Felicia, P-Pak." Suara perempuan itu gemetar. Dia terus menunduk tidak berani menatap mata elang Reza.


"Aku peringatkan, jangan pernah lagi menyentuh putraku, ataupun mencari gara-gara dengan keluargaku! Jika kamu nekat, akan kupastikan kamu akan menderita seumur hidup!"


"Ba-baik, Pak."

__ADS_1


"Sekarang pergilah! Aku masih ada urusan dengan lelaki brengsek ini!"


Felicia beranjak dari kursi kemudian berjalan ke arah Makutha. Perempuan itu meraih jemarinya kemudian tersenyum lembut.


"Makutha, maafkan Tante, ya? Maaf karena sudah membuatmu takut."


Makutha tidak menjawab. Dia hanya menatap Felicia dengan tatapan tidak suka.


"Utha, Tante Felicia minta maaf, loh."


"Lupankan saja! Sana kelual! Pelmintaan maafmu tidak jujul!" seru Makutha kemudian membuang muka.


"Eh, Utha, nggak boleh begitu." Liontin mengusap rambut hitam putranya sambip tersenyum canggung ke arah Felicia.


Senyum Felicia seketika sirna. Dia langsung pergi dari ruangan itu sembari membanting pintu lumayan kasar. Liontin sampai menggelengkan kepala karena melihat sikap perempuan itu.


Di sisi lain, Reza sedang memikirkan sanksi untuk Andre. Dia berpikir keras untuk mendapatkan hukuman yang pas, agar Reza tidak mengulangi kesalahannya lagi. Namun, otaknya buntu. Menurutnya orang seperti Andre sudah tidak pantas lagi mendapatkan pekerjaan darinya. Dia sudah memberi lelaki itu kesempatan, tetapi justru disia-siakan begitu saja.


Bahkan, Andre justru memperkeruh keadaan dengan niat buruknya untuk menculik Makutha. Reza menarik napas panjanh, kemudian mengembuskannya perlahan.


"Kemasi barang-barangmu! Kamu dipecat! Nanti pihak personalia akan mengirimkan surat pemecatan untukmu! Mengenai dana Rumah Sakit yang kamu dan Pak Johan gelapkan, aku tidak akan menuntutnya sepeser pun!" Reza menyeringai, lalu menckdongkan tubuhnya ke arah Andre yang masih terbelalak.


"Kalian sudah jelas tidak akan mampu menggantinya!"


Keangkuhan Andre seketika runtuh. Mata lelaki itu mulai berkaca-kaca. Berulang kali dia merutuki kebodohan yang sudah membuat akal sehat dan hatinya tertutup. Namun, semua terlambat. Penyesalannya sudah tidak berguna lagi saat ini.


...****************...

__ADS_1


Hola, pembaca setia TKI makasih yaa sudah membersamai selama ini. Aku ada rekomendasi novel seru karya bestie aku. Mampir, ya...



__ADS_2