
Di tengah usaha Berlian menjauhkan Liontin dan Reza. Gadis itu juga terus mendekati Reza, mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya. Sebenarnya Reza sadar, akan maksud dari Berlian. Namun, dia tutup mata karena tidak mau dianggap sebagai lelaki tak berperasaan jika menolak setiap perhatian yang Berlian curahkan untuknya.
Salah satu kesalahan fatalnya adalah kembali memberi perhatian kecil kepada Berlian. Hanya perhatian kecil yang bisa dibilang normal saja untuk ukuran sebuah pertemanan. Ya, Reza hanya menganggap Berlian seorang teman.
Tanpa Berlian dan Reza sadari, kedekatan keduanya yang dibuat-buat oleh Berlian diketahui oleh Liontin. Hatinya patah seketika. Dia mencoba untuk menghapus rasa kagum yang mulai tumbuh besar menjadi rasa cinta.
"Kak Reza, keren banget, ya?" ucap Berlian sambil tersenyum dan menatap kagum ke arah panggung.
Liontin tidak menampik ataupun mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Dia hanya tersenyum ke arah Reza sang sedang menyanyi untuk acara perpisahan kelas 12. Lelaki itu terlihat memesona dan bersinar ketika berada di atas panggung.
"Ontin, kamu tahu nggak? Kami sudah resmi berpacaran sejak seminggu lalu," bisik Berlian sambil tersipu malu.
"Benarkah? Selamat, ya!" Liontin tersenyum manis padahal hatinya begitu teriris. Dia tak menyangka harus menelan pil pahit seperti hari ini. Harus merelakan cinta pertamanya untuk sahabat yang selalu ada di saat suka dan duka.
Setelah Reza turun panggung, Berlian menggandeng jemari Liontin, dan berlari menghampiri sang kekasih. Perempuan itu tersenyum lebar, sedangkan Liontin membuang pandangan dari Reza.
__ADS_1
"Kakak keren banget, loh!"
"Terima kasih." Reza tersenyum tipis sembari melirik Liontin.
"Nanti malam jadi, 'kan ajak aku ketemu mamamu?"
Mendengar ucapan Berlian sontak membuat Liontin terbelalak. Dia menatap Reza dan Berlian secara bergantian. Seserius itukah hubungan keduanya, sampai Reza ingin mempertemukan sang kekasih dengan sang ibu?
"Oh ya, aku ke stand dulu. Tadi Ros bilang mau ke toilet, aku harus menggantikannya." Liontin menunjuk stand makanan kelasnya yang mengikuti bazar sekolah. Dia mengakhiri pertemuan hari itu dengan senyum lebar, padahal hatinya sedang menangis.
"Selamat juga buat kalian. Semoga langgeng, ya, hubungannya. Nanti kalau suatu saat nikah, jangan lupa undangannya." Liontin balik badan kemudian setengah berlari meninggalkan sahabat dan cinta pertamanya itu.
Bodoh, kamu Liontin! Mungkin saja Reza memberimu perhatian karena kasihan. Lain kali jangan terlalu terbawa perasaan terhadap perhatian yang laki-laki berikan. Sekarang sakit, 'kan? Harus dipatahkan oleh kenyataan? batin Liontin sambil terus menyeka air matanya yang berdesakan keluar.
Di sisi lain dekat panggung, Reza masih menatap Liontin yang pergi begitu saja. Harapannya untuk membuat cinta pertamanya itu cemburu tidak berhasil. Dia berpikir, mungkin saja Liontin tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Kak, bisa antar Lian pulang?" Berlian bergelayut manja pada lengan sang kekasih.
"Maaf, aku belum bisa pulang sekarang. Aku mau mengambil beberapa keperluan bazar kelasku." Reza menepis jemari Berlian yang menggenggam lengan atasnya.
"Kak!" Berlian menghentakan kaki kemudian mengikuti Reza yang berjalan cepat meninggalkannya.
Sesampainya di parkiran yang masih sepi, Reza berhenti. Dia menatap tajam ke arah Berlian. Sedangkan Berlian tersenyum lebar, mengira Reza mengikuti kemauannya untuk mengantarkan pulang.
"Aku tunggu di sini dulu, ya? Kak Reza mau ambil motor, 'kan?" Sebuah senyum manja terukir di bibir perempuan itu.
"Kita putus!"
"Putus?" Berlian mengerutkan dahinya. Bahu perempuan itu merosot, dan bulur air mata mulai membasahi pipi.
"Iya, kita akhiri saja hubungan ini. Aku minta maaf karena sudah menyakitimu. Sebenarnya aku menerima cintamu karena takut kamu malu jika kutolak." Reza tersenyum tipis dengan tatapan mata datar.
__ADS_1
"Kamu menyatakan cinta di depan umum waktu itu, jika aku menolakmu pasti hanya rasa malu yang kamu dapat. Maaf, ya? Kita sampai di sini saja!"
Berlian bergeming. Kakinya seakan terpaku di atas paving yang ia pijak. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Berlian menangis sejadi-jadinya, berharap apa yang sedang ia alami hanyalah mimpi buruk. Kakinya seketika melemas hingga tubuhnya merosot. Perempuan itu menangis sesenggukan sambil memukul dadanya, berharap rasa sesak yang memenuhi dada terhempas.