TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 89. Itu Tante Penculiknya!


__ADS_3

Liontin merengkuh tubuh mungil Makutha kemudian menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tidak menyangka, hampir saja kehilangan putra kesayangannya itu. Berulang kali dikecupnya puncak kepala Makutha.


Sedangkan Berlian menatap sendu ibu dan anak di hadapannya. Diusapnya lembut perut yang kini bergerak karena tendangan sang janin. Sebuah senyum lembut terukir di bibir perempuan itu.


Tangis Liontin berhenti ketika Makutha melepaskan pelukannya. Anak laki-lakinya itu mengusap sisa air mata yang menempel pada pipi sang ibu. Makutha tersenyum manis, hingga matanya terpejam.


"Ma, Utha lapel," ucap Makutha sambil mengusap perutnya yang sedang berbunyi.


"Baiklah, ayo, kita turun dan cari makan!" Liontin menggandeng jemari mungil sang putra kemudian berpamitan kepada Berlian.


"Kamu mau dibawakan apa?"


"Nggak, terima kasih," jawab Berlian singkat sembari tersenyum.


"Kami tinggal dulu, ya?"


Liontin keluar dari kamar inap Berlian kemudia menuju lift. Perempuan itu menekan tombol lantai dasar. Ketika pintu hendak tertutup, tiba-tiba Andre menyela dan masuk ke dalam lift tersebut. Lelaki itu menunjukkan raut wajah terkejut ketika melihat keduanya.


Tidak ada percakapan berarti di antara mereka, meskipun Andre tahu bahwa Liontin adalah istri dari pemilik Rumah Sakit tersebut. Seharusnya Andre sedikit basa-basi untuk menghargai Liontin. Akan tetapi, pria itu enggan melakukannya.


Sebenarnya, kekesalan terhadap Reza masih bercokol di dalam hati. Lelaki itu ingin sekali membuat perhitungan kepada Reza, karena telah memindahkannya ke bagian pelayanan menggantikan Aziz.


Harusnya, aku yang naik jabatan. Bukannya Aziz! Keparat memang lelaki sialan itu! umpat Andre dalam hati.

__ADS_1


Suara lift tanda sampai di lantai tujuan Andre pun berbunyi. Lelaki itu melangkah keluar dari lift kemudian melangkah cepat sembari meraih benda pipih yang ada di dalam sakunya. Digulirnya layar ponsel itu dan mulai menghubungi seseorang.


"Temui aku di ruanganku setelah jam makan siang."


...****************...


"Makutha mau makan apa?" Liontin menunduk agar bisa mendengar suara kecil Makutha.


Suasana kantin Rumah Sakit begitu ramai karena memang sedang jam makan siang. Banyak dari karyawan maupun beberapa keluarga pasien sibuk dengan kegiatan mengisi perut. Makutha melihat sekeliling ruangan itu untuk memilih makanan apa yang ingin dimakan.


"Itu ...." Makutha menunjuk stand makanan yang menjual Bistik Solo.


"Baiklah, ayo ke sana."


Usai memesan makanan, keduanya duduk di bangku yang sudah disediakan. Liontin mencoba untuk membuka obrolan. Dia menanyakan mengenai hadiah apa yang ingin Makutha berikan untuk Cio saat dia ulang tahun nanti.


"Baiklah, besok kita pergi membelikan bola sepak untuk Cio sebelum datang ke sana, ya?"


"Iya, Ma."


Mata Makutha tiba-tiba tertarik melihat seseorang. Dia melohat ke arah pintu masuk, dan mulai menggenggam jemari sang ibu.


"Kamu kenapa, Utha?" tanya Liontin keheranan.

__ADS_1


"I-itu, tante yang mau bawa Utha pelgi, Ma!" seru Makutha sambil menunjuk seorang perawat yang baru saja melepas maskernya.


Liontin melihat arah jari Makutha menunjuk. Dia terbelalak melihat siapa yang dimaksud oleh sang putra. Perempuan dalam balitan seragam perawat itu adalah salah satu orang yang menurutnya sangat baik.


"Cecil!" seru Liontin.


Liontin sontak berdiri dan menghampiri Cecilia. Ketika dia berada tepat di depan perawat itu, Liontin menarik lengannya, dan mengajaknya ke bangku tempat mereka memesan makanan.


"Duduk!" ucap Liontin ketus.


"Ada apa, ya, Bu?" tanya Cecil hati-hati.


"Apa tujuanmu hendak menculik Makutha?"


Cecilia terbelalak, kedua ujung alisnya turun, dan dahinya berkerut. Liontin kini mematapnya tajam sambil melipat lengan di depan dada.


"A-aku ...." Perempuan itu berulang kali menelan ludah kasar. Rasa gugup gini memenuhi dadanya. Jantungnya berdetak kencang dengan ritme yang tidak beraturan.


"Apa alasanmu menculik Makutha? Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" Kini Liontin memincingkan mata, menuntut penjelasan dari perawat cantik itu.


...****************...


Holaaa ...

__ADS_1


Sambil nunggu karya ini update, mampir juga yukk ke novel teman Chika ini.



__ADS_2