
"Apa!"
Tuan Li meletakkan gelasnya secara kasar ke atas meja. Mata lelaki itu terbelalak dengan rahang yang mengeras. Urat area leher dan mata terlihat menonjol.
"David, lelaki brengsek itu sudah menghamili anak orang dan tidak bertanggungjawab? Aku akan meneleponnya sekarang!" Tuan Li merogoh ponselnya kemudian menggulir layar untuk mencari nomor David.
Reza merebut benda pipih itu kemudian menatap tajam sang ayah. "Untuk apa menghubungi David?"
"Aku ingin meminta pertanggungjawaban lelaki itu!" seru Tuan Li berapi-api.
Risa dan Reza menepuk dahi mereka bersamaan, sedangkan Tuan Li menatap keduanya sembari menautkan alis. Risa menghela napas kasar. Dia meraih jemari Tuan Li kemudian menatapnya serius.
"Sayang, bukan itu maksud Reza memberitahukan siapa perempuan yang sudah mengambil hatinya."
"Lalu?"
"Reza berusaha berkata jujur, takut jika nantinya status yang disandang Liontin menjadi permasalahan di kemudian hari."
"Oh, bagiku tidak masalah mengenai status sosial seseorang. Buktinya, aku juga menikahi Mamamu yang dulu hanya seorang Asisten Rumah Tangga dalam Keluarga Li?"
Hati Reza seakan disiram dengan air es. Apa yang ditakutkannya ternyata tidak terbukti. Lelaki itu tersenyum lebar karena mendapat restu dari sang ayah. Puluhan ucapan terima kasih ia ucapkan kepada Tuan Li.
"Tadi ibumu bilang, beberapa bulan lalu ada seseorang yang sengaja menabrakmu hingga kamu mengalami koma. Benar begitu?"
__ADS_1
"Iya, Pa," jawab Reza singkat.
"Apa kalian tidak merasa ada sesuatu yang janggal?" Tuan Li mengusap dagu sambil memajukan bibir bawahnya.
"Maksud Papa?"
"Bagaimana orang asing yang tidak pernah mengenal keluarga kita, bisa tahu mengenai masa lalu Keluarga Li?"
"Benar juga! Awal pertikaianku dengan Liontin karena dia membongkar masalah dendamku kepadamu, Steve!" Risa menjentikkan jari dan matanya membulat sempurna.
"Aku akan meminta seseorang untuk menyelidiki hal ini."
...****************...
Liontin berulang kali membaca pesan teks yang ia terima dari Reza. Perempuan itu mondar-mandir sembari menggendong Makutha yang mulai terlelap.
"Aku harus balas apa? Bertemu Tuan Li? Dia orang yang begitu arogan dan kurang ramah. Terakhir kali aku bertemu ...."
Liontin terus bergumam karena berbagai pikiran buruk mengenai Tuan Li berkecamuk dalam benaknya. Terakhir kali mereka bertemu, lelaki paruh baya itu mengacuhkannya yang tersenyum lebar. Tanpa Liontin sadari, tiga puluh menit sudah dia mengabaikan pesan Reza. Ponselnya kini berdering.
Deretan huruf yang membentuk nama Reza muncul pada layar ponsel. Liontin menelan ludah kasar kemudian mengangkat panggilan dari pujaan hatinya itu.
"Halo, Kak?"
__ADS_1
"Gimana? Besok bisa?"
"Ah, itu ... anu ...." Liontin duduk di tepi kasur busa sambil menggigit kuku tangannya.
"Besok lusa aku harus pergi ke Taiwan bersama Papa. Jadi, kamu mau nggak bertemu dengan beliau"
"Kak Reza mau pergi ke Taiwan?"
Perasaan kecewa kini bersarang di hati perempuan itu. Seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya. Dia kesulitan mengeluarkan jawaban.
"Liontin, kamu masih di sana, 'kan?"
"Masih," jawab Liontin Lesu.
"Jadi, bisa 'kan ketemu?"
"Iya, bisa." Liontin tersenyum kecut. Bayangan harus kembali berpisah dengan Reza membuat semangatnya surut.
Perempuan itu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia mengirimkan sebuah pesan teks kepada Reza.
[Besok, tolong jemput aku di kosan, ya?]
Liontin meletakkan ponselnya ke atas meja kemudian menidurkan Makutha ke atas kasur. Dia ikut berbaring di samping sang putra.
__ADS_1
"Utha, apa yang akan terjadi besok? Perasaan Ibu benar-benar tidak tenang." Liontin membelai lembut pipi bulat sang putra kemudian mulai memejamkan mata.