
Keesokan harinya, Hasna benar-benar diantar ke sekolah oleh Liontin. Perempuan itu bahkan meminta Makutha untuk terus membantunya jika kesulitan berjalan. Makutha dengan sabar mengiringi langkah gadis cantik itu. Tentu saja keduanya menjadi pusat perhatian. Namun, Makutha tidak memedulikan hal itu sedangkan Hasna terus menunduk menghindari tatapan murid lain.
Sesampainya di kelas, Makutha berpamitan ke toilet, untuk ganti pakaian olah raga. Hasna duduk di bangkunya hingga kelas semakin ramai. Ketika teman satu kelompoknya datang, mereka mulai mengerubungi Hasna.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Cio.
Kemarin aku diserempet mobil. Tapi, cuma keseleo kok.
Hasna menunjukkan buku catatannya kepada teman satu timnya itu. Mereka menatap sedih ke arah gadis itu. Hasna tertunduk lesu, menatap kakinya yang terlihat bengkak. Dia mendongak kemudian mengabsen satu per satu wajah teman satu timnya.
"Maaf." Hasna menggerakkan bibir sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
Rachel menghela napas. "Iya, Na. Nggak apa-apa. Kalau memang harus praktek tanpa kamu, nanti kami akan memberikan video rekaman saat berlatih kepada Pak Haris."
"Iya, ya. Untung kita rekam geladi bersih kemarin. Jadi Hasna bisa punya nilai pribadi dari sana!" seru Fiska.
"Kami ke lapangan duluan, ya, Na." Fitri beranjak dari kursi dan diikuti oleh Fiska dan Rachel.
"Ya sudah. Yuk, kita siap-siap! Yang lain udah ke lapangan duluan." Hilman beranjak dari kursi kemudian mengekor di belakang Rachel, Fiska, dan Fitri.
Cio menatap nanar Hasna. Melihat gadis itu terluka, entah mengapa dia ikut merasa sedih. Bahkan dia berandai-andai, jika bisa ingin menggantikan kecelakaan itu saja agar Hasna baik-baik saja dan tidak kesakitan.
"Cio! Ayo!" seru Hilman dari ambang pintu.
"Sana duluan!" Cio mengangkat tangan sambil tersenyum tipis.
"Mau ikut ke lapangan buat kasih support ke tim kita?" tanya Cio.
Hasna mengangguk, lalu tersenyum lebar. Dia berdiri dibantu oleh Cio. Namun, ketika hendak meraih kruk, keseimbangan Hasna goyah. Beruntungnya Cio menangkap tubuh kurusnya dengan sigap. Kini tatapan keduanya beradu.
Seakan ada aliran listrik statis yang mengalir ke hati keduanya. Membuat jantung mereka berdetak tak beraturan. Terdapat geleyar aneh dalam hati Cio. Lelaki itu enggan melepaskan tatapannya dari Hasna.
Lain halnya dengan Hasna. Dia terus mengucap istighfar dalam hati kemudian menundukkan pandangan. Gadis itu tidak ingin berlama-lama menatap Cio, agar kadar kegugupannya tidak semakin bertambah.
Di luar kelas, Makutha yang baru kembali dari toilet sempat terkejut dengan posisi Cio dan Hasna. Ada rasa tidak suka ketika melihat keduanya berdekatan. Makutha berdeham sekali, dan membuat Cio melepaskan jemarinya dari tubuh Hasna.
__ADS_1
"Ditunggu yang lainnya di lapangan!" seru Makutha singkat.
"Ah, iya! Nanti kami nyusul." Cio mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk.
Bukannya langsung pergi, Makutha malah masuk ke kelas dan membantu Hasna berjalan. Hasna terbelalak melihat Makutha yang biasanya cuek, kini memedulikannya. Mendapatkan tatapan heran dari Hasna, Makutha melepaskan lagi tangannya dari lengan gadis itu.
"Apa?" ketus Makutha.
Hasna berkedip kemudian menggeleng cepat. Giliran Abercio kini yang mendekati Hasna. Lelaki itu tersenyum miring ke arah sahabatnya itu.
"Hasna heran, kenapa kamu peduli sama dia. Begitu 'kan, Na?" Cio memiringkan kepala ketika menoleh ke arah Hasna.
Hasna sontak mengangguk, tetapi sedetik kemudian dia menggeleng. Tawa Cio pecah hingga membuat Hasna tersipu malu. Gadis itu menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang merah seperi ceri.
"Maksudnya biar jalannya lebih cepat saja kalo kubantu jalan," kilah Makutha.
"Hilih, alasan. Lagi pula kalau kamu kasar menuntunnya kakinya tetap saja kesakitan!" Cio tersenyum miring.
"Ya sudah, ayo, sebentar lagi mulai!" seru Makutha.
"Wah! Si bisu makin jadi ratu, nih!" seru Abel sambil melirik sinis ke arah Hasna dan tersenyum miring.
Makutha memutar bola mata, sedangkan Cio mulai terprovokasi. Rahang lelaki itu mengeras, dan jemarinya mengepal kuat.
"Apa aku juga harus bisu, tuli, dan nggak bisa jalan juga, ya? Biar jadi idaman lelaki tampan macam mereka!" teriak Lula.
Mendengar ucapan gadis itu, sontak semua murid yang ada di lapangan itu terbahak-bahak. Liontin melongo mendengar ucapan menyakitkan yang dilontarkan Abel dan Lula. Namun, gadis itu melapangkan hatinya. Dia tidak mau meladeni ucapan mereka.
Cio yang kehabisan kesabaran maju hendak mendekati Abel dan Lula. Namun, Hasna mencegahnya. Akan tetapi, kini Makutha berdecak kesal kemudian mendekati Abel.
"Kamu mau juga jadi ratu, Sayang?" tanya Makutha sembari tersenyum miring.
Abel tersipu mendengar ucapan Makutha. Gadis itu salah tingkah sampai senyum-senyum sendiri dan menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Tapi, sayangnya seorang ratu tidak akan pernah merendahkan orang lain seperti yang kamu lakukan!" Senyum Makutha sirna seketika berganti dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Dan kamu!" Kini Makutha menatap tajam ke arah Lula.
"Apa kamu mau jadi ratu seperti Hasna? Jika iya, mau kubantu mematahkan kakimu dulu? Atau membuatmu bisu dan tuli?"
Bulu kuduk Lula meremang ketika mendengar ucapan Makutha. Dia tak menyangka lelaki tampan itu tega melontarkan ancaman layaknya psikopat.
"Utha! Gila, ya, kamu! Aku 'kan cuma bercanda!" seru Lula ketakutan.
"Lula, kamu Baby Sugar-nya Papa Abel, ya?"
Sontak Abel menoleh ke arah Lula. Kemudian memelototi temannya itu. Dia menampar pipi Lula hingga wajahnya berpaling.
"Bel, kamu gila, ya!" teriak Lula sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
"Kamu yang gila! Berani-berani godain papaku!" Abel menjambak rambut panjang Lula.
"Lepas, Bel! Kamu percaya sama Makutha?" Lula menarik pergelangan tangan Abel agar gadis itu melepaskan rambutnya.
Melihat situasi di depannya membuat Makutha tertawa terbahak-bahak. Ujung matanya sampai basah karena berhasil membuat dua gadis di hadapannya itu bertengkar hebat. Abel dan Lula sontak menghentikan pertengkaran mereka, lalu menatap tajam Makutha.
"Tha, nggak lucu, ya! Candaanmu!" seru Lula.
Makutha mendadak menghentikan tawanya kemudian tersenyum miring. "Memang kalian pikir, apa yang tadi kalian ucapkan kepada Hasna itu lucu?"
"Lain kali kalau mau ngomong dipikir dulu! Apa kalian emang udah nggak punya otak, jadi udah nggak bisa mikir lagi?" Makutha tersenyum miring lalu ikut duduk bergabung dengan tim senamnya.
Tak lama kemudian, Pak Haris masuk ke lapangan. Penilaian senam aerobik pun dimulai. Semua tim memperagakan gerakan terbaik mereka. Semuanya kompak dan energik. Walaupun Hasna tidak bisa ikut senam, teman satu timnya tetap semangat dan kompak.
...****************...
Semoga ada pelajaran yang dipetik dari setiap babnya yaa...
Yukk mampir juga ke novel salah tahu sahat Chika ...
__ADS_1