
Wahyu menatap tajam Hasna yang kini tertunduk lesu di meja makan. Kabar dari sekolahan bahwa sang keponakan diskors selama tiga hari membuat kepalanya seakan meledak.
"Aku nggak pernah ngajari kamu buat mencuri, Na! Jangankan mencuri, semiskin-miskinnya kita, aku nggak pernah memintamu untuk menjadi pengemis!" teriak Wahyu sembari menggebrak meja.
Hasna hanya diam. Dia tidak tau harus menjelaskan seperti apa lagi kepada semua orang. Gadis itu merasa sudah lelah. Dia meremas rok panjang yang kini ia pakai. Sesekali diusapnya air mata yang keluar dari netra.
"Na, maaf kalau Bulik nggak mampu belikan kamu hape bagus! Bulik bahkan hanya mampu merawatmu dengan keadaan yang jauh dari kata layak. Bulik minta maaf! Bahkan uang saku saja sekarang kamu harus cari sendiri. Bulik minta maaf, Na."
Suara Wahyu bergetar. Matanya mulai merah karena desakan air mata yang ingin lolos dari persembunyiannya. Perempuan itu seakan menyimpan banyak luka yang bahkan tidak pernah Hasna ketahui.
Wahyu sebenarnya perempuan yang sangat penyayang. Namun, sejak putranya yang kala itu berusia dua belas tahun meninggal, sikapnya berubah. Dia sering marah-marah dan bertindak kasar. Tak elak Hasna sering menjadi sasaran.
"Sekarang apa maumu? Hape? Oke, Bulik akan belikan untukmu jika itu yang kamu inginkan!" Wahyu mengambil jaket yang menggantung di balik pintu kamarnya.
"Ayo, kita beli HP yang sama kayak punya temenmu! Berapa, to harganya? Sejuta? Dua juta?"
"Harganya mahal, Bulik. Lagipula aku nggak mau ponsel. Aku nggak butuh ponsel!" Lengan Hasna menari-nari di udara, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Bahkan orang terdekatnya tidak mempercayai apa yang ia katakan. Kini Hasna merasa sangat putus asa. Sempat terlintas di benaknya untuk menyusul ke dua orang tuanya. Namun, untungnya akal sehat Hasna masih bisa berpikir dengan baik.
"Memang berapa harganya?" Wahyu mengangkat dagunya sombong.
"30 juta, Bulik!" Hasna menunjukkan jemarinya kepada wahyu.
"30 juta!" Kaki Wahyu seakan melemas, hampir saja perempuan itu tersungkur di atas lantai jika Hasna tidak menahan lengannya.
...****************...
Di sisi lain, Makutha sedang termenung di meja belajarnya. Dia merasa ada yang mengganjal di hati ketika mendengar kabar bahwa Hasna mencuri ponsel milik Rachel.
"Aneh ...." Makutha mengusap dagunya berusaha meneliti setiap kejanggalan yang terjadi.
"Tadi siang kenapa aku harus bolos, sih! Sialan!" gerutu Makutha.
Akan tetapi, dia seakan menemukan sesuatu yang bisa mengungkapkan siapa dalang sebenarnya. Makutha menjentikkan jari, matanya berbinar. Sebuah senyum lebar terukir di bibir lelaki itu. Makutha langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Bu Winda.
__ADS_1
"Halo, ada apa, Utha?"
"Bu, mengenai kasus ponsel Rachel yang hilang ... apa Ibu tidak merasa ada yang aneh?" tanya Makutha tanpa basa-basi.
"Maksudnya?"
"Jadi, begini, Bu ...." Makutha mulai menceritakan semua yang dia lihat tadi siang.
Setelah berbicara selama 15 menit, akhirnya Bu Winda menyetujui untuk kembali mempertimbangkan hukuman untuk Hasna. Perempuan itu juga mengatakan untuk kembali menanyakan alibi dari beberapa orang yang disebut Makutha.
Keesokan harinya, Makutha, Liontin, dan Tiara menjemput Hasna lebih awal. Makutha berpikir kalau tidak dijemput lebih awal, pasti Hasna tidak bersiap ke sekolah seperti biasa. Mulai hari itu, Hasna diberi hukuman untuk tidak masuk sekolah sampai tiga hari ke depan.
Setelah sampai di depan rumah Hasna, mereka bertiga turun dari mobil, dan mengetuk pintu. Pintu terbuka, sehingga menampilkan sosok Hasna yang terlihat sedikit pucat. Liontin langsung mendekati Hasna.
"Na, kamu sakit?" tanya Liontin.
Hasna menggeleng lemah. Gadis itu mempersilahkan ketiganya untuk masuk. Mereka pun masuk dan duduk di bangku kayu seadanya. Tiara mengedarkan pandangan pada bagian atas rumah itu.
Plafon berwarna putih sudah mulai jebol sana-sini. Cat dinding mulai mengelupas sehingga menampilkan tekstur semen kasar dan batu bata. Namun, di samping kondisi rumah yang memprihatinkan itu, bangunan itu terasa nyaman untuk disinggahi. Walaupun tidak ada pendingin ruangan, udara di dalamnya terasa sejuk.
"Iya, Tante. Hasna sendirian. Bulik Wahyu kerja di pasar," ucap Hasna dengan bahasa isyarat.
Liontin yang akhir-akhir ini sering bertemu dengan Hasna, kini mulai paham dengan apa yang diucapkan gadis itu. Dia tersenyum lembut, kemudian meminta Hasna untuk memakai seragam sekolahnya.
Kenapa pakai seragam sekolah, Tante? Aku kena sanksi dari sekolahan. Jadi, tidak boleh pergi ke sekolahan.
Hasna kini menuliskan ucapannya di atas buku seperti biasa. Makutha mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya kasar.
"Aku akan membantumu untuk bisa kembali masuk sekolah. Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi hari itu. Hanya saja, aku tidak menyadari kalau akan berimbas buruk kepadamu."
"Ayo, Na. Ikut kami dulu. Segera bersiap ya? Kami tunggu." Liontin tersenyum lembut.
Hasna beranjak dari kursi kemudian masuk ke kamarnya. Selang beberapa menit, Hasna sudah rapi dalam balutan seragam batiknya. Mereka semua keluar rumah, dan mengantar Tiara dulu sebelum ke sekolahan Makutha dan Hasna.
...****************...
__ADS_1
Bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Semua murid XIA5 keluar dari ruang kelas. Tak terkecuali dengan Makutha, Hasna, dan Cio. Ketiganya berjalan beriringan menuju kantin. Sepanjang jalan menuju kantin, Hasna menunduk menghindari tatapan tajam dari murid lain. Kabar mengenai insiden hilangnya ponsel Rachel jelas sudah tersebar ke seluruh penjuru sekolah.
"Na, luruskan pandanganmu," bisik Cio.
"Iya. PD saja, kamu nggak salah, kok!" Makutha berjalan santai sembari membalas tatapan tajam murid lain dengan seringaian. Akan tetapi, langkah Makutha berhenti saat mendengar sebuah celetukan dari murid kelas XII.
"Masih ada muka, ya, nampak di sini? Bukannya dia juga diskors? Kok bisa masuk hari ini?" ucap seorang laki-laki bertubuh tegap, namanya Piko.
"Backingannya gede, Bos!" seru seorang lagi bertubuh tambun.
"Bisa diam nggak? Kalian tahu apa?" tegur Makutha dengan suara dingin.
"Kenapa? Dia udah ngasih apa ke kamu, sampai kamu belain dia?" Piko tersenyum miring sembari menatap mesum tubuh Hasna dari ujung kaki sampai kepala.
"Jaga mulutmu, ya!" teriak Cio.
Jika Makutha tidak menahan Cio, bisa dipastikan kepalan tinju lelaki itu mendarat mulus di pipinya. Makutha menggeleng ketika tatapannya bertemu dengan sahabatnya itu.
"Begini saja, bagaimana kalau Hasna terbukti tidak bersalah, kamu sujud di kakinya sepuluh kali!" tantang Makutha.
Dua lelaki di hadapan Makutha itu, kini tertawa lepas. Namun, tak lama kemudian mereka berhenti. Piko maju mendekati Makutha dan menatapnya tajam.
"Bersujud? Jangankan bersujud, aku akan menjilat kakinya kalau memang Si Bisu ini tidak bersalah!" Piko menepuk pelan pipi Makutha sambil tersenyum miring.
"Kupegang kata-katamu! Bersiaplah untuk malu seumur hidupmu!" Makutha menepuk pundak sang kakak kelas, kemudian berlalu begitu saja.
Mereka bertiga kembali berjalan menyusuri koridor kelas tanpa memedulikan tatapan tajam dan juga omongan pedas teman-temannya. Sesampainya di depan kantor BP, Rachel sudah menunggu mereka sembari bersandar pada dinding ruangan itu.
"Lama sekali, aku sudah menunggu kalian sejak tadi!" Rachel tersenyum miring dengan lengan yang dilipat di depan dada.
...****************...
Siapa ya kira-kira yang tega menuduh Hasna?
Sambil menebak-nebak sampai Bab selanjutnya tayang, mampir ke sini juga yaaa
__ADS_1