TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 33. Tamat Riwayat


__ADS_3

Liontin setengah berlari menyusuri koridor Rumah Sakit saat menuju ruang ICU. Makutha kini sedang terlelap dalam dekapan Risa, yang juga berjalan cepat mengikuti Liontin. Tak lama kemudian, mereka sampai di depan ruangan bertuliskan huruf ICU.


"Kak Reza!" Liontin membekap mulut dengan mata terbelalak.


Perempuan itu masuk ke ruang ICU kemudian mendekati Reza. Kepala, kaki, dan tangan Reza dibalut dengan perban. Liontin mulai menitikkan air mata karena melihat kondisi Reza yang sedang tak berdaya.


"Kak, bangun. Kalau Kak Reza nggak bangun, nanti siapa yang bantuin aku kalau lagi kesusahan?"


Liontin menggenggam jemari Reza dan mengusapnya lembut. Tubuh perempuan itu mulai bergetar karena tangisnya pecah.


"Cepet bangun, ya, Kak. Aku nggak bisa hidup tanpa Kak Reza. Kakak sudah seperti candu untukku! Sehari saja tidak mendengar kabar Kakak serasa ada yang kurang." Liontin menangis tersedu-sedu sambil mencium punggung tangan Reza.


"Kak ... aku ... sayang sama Kakak. Bangun, Kak! Aku nggak bisa hidup tanpa Kak Reza!"


"Sudah, jangan nangis. Aku belum mati."


Mendengar suara Reza, sontak membuat Liontin mendongak. Dia menatap Reza yang kini tersenyum lebar.


"Kak Reza ...." Dahi Liontin berkerut dan alisnya saling bertaut.


Reza mulai bangun dari tidur, dan kini bersandar pada kepala brankar. Lelaki itu melepas perban yang membalut kepala dan lengannya. Kemudian tersenyum lebar.

__ADS_1


"Masak aku disamain kayak candu? Nggak ada yang lebih keren gitu?"


"Kakaaak!"


Tangis Liontin semakin pecah, Reza panik karena melihat perempuan dihadapannya itu menangis tersedu-sedu. Reza langsung membawanya ke dalam pelukan. Diusapnya lembut puncak kepala Liontin dan dikecup sesekali.


"Maaf, sudah membuatmu menangis," ucap Rangga penuh penyesalan.


"Kak, a-aku paling tidak suka dibohongi! Candaan Kak Reza kali ini benar-benar nggak lucu!" seru Liontin di tengah isak tangisnya.


"Ma-maaf, ya? Aku nggak akan begini lagi. Maaf sudah membuatmu takut!" Rasa bersalah langsung merasuki hati Reza.


"Tante ...."


"Sebenarnya ini semua ide tante, karena Reza ...." Risa tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Reza menempelkan jari telunjuknya pada bibir.


Reza merangkum wajah Liontin agar pandangan perempuan itu beralih padanya. Dia mulai menggengam kedua tangan perempuan itu. Jantungnya berdetak tak beraturan. Berulang kali lelaki itu menarik napas panjang dang mengembuskannya kasar.


"Liontin .... Maukah menghabiskan sisa umurmu bersamaku?"


Liontin terbelalak dengan kedua alis naik hingga dahinya berkerut. "Ya?"

__ADS_1


"Maukah kamu menikah denganku, Liontin?" Reza memperjelas lagi lamarannya.


Air mata bahagia kini menetes membasahi pipi Liontin. Tanpa ragu perempuan itu mengangguk cepat. Reza langsung memeluk ibu dari Makutha itu. Sebuah senyum lebar terukir di bibir Reza. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia bisa menjalin hubungan dengan cinta pertamanya.


Di balik punggung Liontin, Risa mengusap ujung mata yang basah karena rasa haru. Makutha yang awalnya tertidur pulang kini terbangun kemudian menangis. Bayi mungil itu merengek setelah menyadari yang menggendongnya bukanlah sang ibu, melainkan calon neneknya.


Akhirnya, perempuan paruh baya itu berdeham agar anak dan calon menantunya menyadari bahwa Makutha sedang merengek. "Anu ... bisa dilanjut nanti mesra-mesraannya? Makutha mau sama ibunya, nih!"


"Makutha sepertinya cemburu," bisik Reza.


Liontin tersenyum tipis kemudian berjalan mendekati putranya. Benar saja, bayi mungil itu langsung berhenti menangis setelah berada dalam dekapan sang ibu.


"Utha haus? Mau mimik? Yuk, kita mimik dulu." Liontin keluar dari ruang ICU dan menuju ruang khusu untuk menyusui yang di sediakan rumah sakit.


Setelah Liontin menghilang dibalik pintu, Reza bergumam, "Sepertinya aku memiliki saingan berat! Apa aku juga harus menyingkirkannya?"


Seketika sebuah pukulan mendarat di kepala bagian belakang Reza. Risa menyilangkan lengan di depan dada sambil menatap tajam putranya itu.


"Berani macam-macam sama Makutha, tamat riwayatmu!" ancam Risa.


Reza tersenyum konyol sambil mengangkat tangannya dan membentuk V-Line dengan telunjuk dan jari tengahnya.

__ADS_1


__ADS_2