
"Gimana, Sayang? Hasil tesnya?" Reza menatap serius Liontin yang kini memasuki UGD.
Liontin terlihat lesu. Bahunya merosot, kemudian menggenggam jemari sang suami. Perempuan itu berkaca-kaca sambil merapatkan bibir menahan tawa. Dia berniat untuk bersandiwara di depan sang suami.
"Kamu, kenapa? Hasilnya gimana? Kamu hamil, 'kan?"
"Maaf, Sayang ... aku ...." Liontin mendekap tubuh sang suami dan berpura-pura untuk menangis histeris.
"Belum hamil? Nggak apa-apa. Belum rejeki kita, Tuhan masih mau kita fokus terhadap tumbuh kembang Makutha."
"Kak, aku hamil ...," bisik Liontin tepat di samping telinga Reza.
Reza terbelalak, kemudian melepaskan pelukannya. Dia merangkum wajah cantik sang istri dengan raut wajah tak percaya.
"Kamu, nggak lagi bercanda, 'kan?"
"Nggak, Sayang! Aku hamil! Serius!" Liontin menunjukkan alat tes kehamilan yang ada di genggamannya kepada Reza.
Reza sontak memeluk kembali tubuh Liontin dan menghujaninya dengan ciuman. Pasangan suami istri itu tersenyum bahagia karena kabar baik yang mereka dapatkan.
"Berapa usianya?" Reza mengusap perut Liontin yang masih rata.
__ADS_1
"Kata Dokter Santi sekitar delapan minggu," jawab Liontin sembari tersenyum.
"Kita pulang sekarang aja, yuk?" Reza menyingkap selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya kemudian turun dari ranjang.
"Eh, kenapa? Kamu udah sehat?"
"Iya, aku udah baikan. Kita mampir sekolah Makutha sekalian jemput dia, ya?"
Liontin tersenyum lebar kemudian mengangguk. Keduanya keluar dari UGD, dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ketika sampai di parkiran, tanpa sengaja keduanya bertemu dengan Berlian yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Lian, kamu kenapa?" tanya Liontin.
Berlian terbelalak melihat teman SMA-nya itu bersama dengan Reza. Kakak kelas keduanya ketika sekolah.
"Li-Liontin, kalian?"
"Ah, iya. Kami suami istri sekarang. Kamu kenapa menangis?" tanya Liontin. Jemari lentiknya hendak menghapus sisa air mata Berlian, tetapi ditepis kasar oleh perempuan itu.
"Pergilah, aku sedang ingin sendiri." Berlian tertunduk lesu. Nada bicaranya terdengar datar tidak seperti biasanya.
Melihat perubahan sikap Berlian, membuat Liontin mengerutkan dahi. Dia kembali mencoba mengajak perempuan itu bicara. Namun, justru bentakanlah yang ia dapatkan.
__ADS_1
"Pergilah! Aku sedang ingin sendiri!"
"Berlian, istriku berniat baik ingin menghiburmu. Kenapa kamu bersikap begitu kasar?" Rezs menautkan kedua alis, kemudian menarik lengan Liontin dan melingkarkan jemarinya pada pinggang ramping sang istri.
"Kita pergi saja! Sebentar lagi, Makutha pulang."
Liontin mengikuti langkah kaki Reza, kemudian masuk ke dalam mobil mereka. Sedangkan Berlian menatap keduanya sampai mobil sedan berwarna hitam yang mereka tumpangi keluar dari area parkir. Tubuh Berlian merosot ke atas lantai. Air mata perempuan itu kembali bercucuran.
"Harusnya aku yang ada di posisimu, Liontin! Aku benar-benar iri dengan keberuntungan yang selalu memihakmu sejak SMA!" Berlian memukul dadanya yang terasa sesak ketika mengingat kembali masa lalunya bersama Liontin dan Reza. Jantungnya seakan diremas hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh jiwa.
...****************...
Liontin terlihat berpikir sepanjang perjalanan menuju sekolahan Makutha. Dia masih memikirkan sikap kasar Berlian ketika berada di tempat parkir. Ketika bertemu di poli kandungan, perempuan itu masih seperti biasa. Ramah, sopan, dan suka tersenyum. Akan tetapi, ketika di parkiran tadi dia menangis, dan tak lama kemudian justru marah-marah tidak jelas.
"Hey, kamu kenapa, Sayang?" tanya Reza kepada sang istri yang terlihat berpikir keras.
"Itu loh, Yang. Berlian, aneh aja sikapnya. Saat ketemu di poli kandungan dia baik-baik saja. Tapi, tadi pas ketemu kita di parkiran mendadak marah-marah nggak jelas. Kira-kira kenapa, ya?"
"Kamu, tuh. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin karena hormon kehamilan?"
"Bener juga, ya? Aku baru inget akhir-akhir ini Kak Reza juga sering banget ngambek karena hal sepele." Liontin terkekeh kemudian memeluk tubuh sang suami. Reza tersenyum simpul sambil mengecup puncak kepala Liontin.
__ADS_1