
"Reza, tunggu!" teriak Jihan.
Lelaki gagah berumur 55 tahun itu, terus mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Reza. Keringat mengucur membasahi kemeja yang membalut tubuhnya. Berulang kali dia menyeka air hasil eksresi itu dengan sapu tangan yang tercetak huruf H di atasnya.
"Kenapa, Pak? Bukankah Anda juga menginginkan hal ini?" Reza menghentikan langkah kemudian tersenyum miring ke arah Johan.
"A-aku hanya melakukan rapat ini karena desakan tim audit dan jajaran direksi lain."
"Jadi, bagaimana? Aku akan mengambil lagi sahamku, dan meninggalkan jabatan CEO. Mari kita lihat berapa lama Rumah Sakit ini bisa bertahan!" Reza tersenyum sinis dan menaikkan satu alisnya.
"Na-nanti aku akan bicarakan lagi dengan yang lain. Aku harap kamu tidak tersulit emosi. Bersabarlah," bujuk Johan.
"Bersabar? Kenapa tadi Anda tidak mengatakan hal itu kepada yang lain saat mereka tersulut emosi?"
Johan menelan ludah kasar. Keringat dingin kini membasahi dahi dan kepalanya yang mulai botak. Reza melangkah mendekati Johan. Dia membetulkan posisi dasi yang menggantunh pada leher lelaki paruh baya itu.
"Mengenai keuangan yang kacau dua bulan ini. Mungkin karena kesalahanku. Aku mengalami sindrom Couvade, sehingga menyebabkan performa kerjaku yang menurun. Aku akan mengganti kerugian yang dialami rumah sakit."
Reza mengusap bahu Johan seakan sedang membersihkan debu yang menempel, kemudian melipat lengan di depan dada, dan menyipitkan matanya.
"Provokator insiden ini, akan kupastikan hancur karirnya! Tunggu saja, dan sampaikan padanya untuk menantikan saat dia membusuk di dalam penjara!"
Reza pergi meninggalkan Johan yang masih mematung. Dia merogoh saku celana kemudian menggulir layar ponselnya. Lelaki itu berniat menghubungi David untuk meminta bantuannya.
__ADS_1
"Bisa bertemu? Kamu di mana?"
Setelah mengetahui posisi David, Reza langsung melajukan mobilnya menuju rumah sang adik tiri.
...****************...
"Pa, apa tidak ingin menikah lagi?" celetuk Jia.
David menautkan kedua alisnya karena mendengar pertanyaan putrinya yang tiba-tiba. Sejujurnya, lelaki itu belum ada niatan untuk kembali berumahtangga.
"Belum," jawab David singkat sembari tersenyum tipis.
"Oh ya, perempuan yang seminggu lalu kita temui ... rasanya tidak asing?"
"Aku rasa, kamu memang sudah melupakan banyak hal. Dulu kamu dan Bini Liontin sangat dekat. Hampir setiap waktu kalian bersama. Dia yang merawatmu sejak bayi hingga berusia hampir dua tahun."
"Benarkah? Apa dulu dia istri Papa juga?" Pupil mata Jia membulat sempurna.
David terkekeh melihat reaksi putrinya itu. "Bukan seperti itu. Dia pengasuhmu, tetapi Papa dan dia memiliki sebuah hubungan yang sangat rumit."
David tersenyum kecut mengingat kejadian enam tahun lalu. Sedangkan Jia masih mencoba memahami apa yang sang ayah ucapkan. Obrolan keduanya berhenti ketika pintu diketuk.
"Baiklah, itu sepertinya Paman David. Papa buka pintu dulu, ya? Kamu naiklah ke atas. Besok kita pergi ke kebun binatang sesuai janji Papa."
__ADS_1
"Baik, Pa!" Jia langsung beranjak dari kursi dan pergi ke kamarnya.
David langsung melangkah cepat menuju pintu. Ketika pintu terbuka lebar, Reza sudah berdiri di teras sambil menatapnya serius.
"Masuk!"
Keduanya masuk dan mulai membicarakan mengenai inti permasalahan yang sedang dihadapi Reza. Lelaki itu menceritakan setiap detail kejadian kepada sang adik.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu untukmu?" tanya David sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Tolong awasi Berlian, selama aku menyelidiki kasus yang menimpaku di rumah sakit. Aku memiliki firasat kalo kasus otu juga ada hubungannya dengan perempuan itu."
"Hanya menguntit seorang perempuan hamil? Sungguh jenis bantuan yang tidak elegan sama sekali." David menggelengkan kepala. Lelaki itu mulai menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Tapi aku hanya bisa membantumu dua minggu ke depan. Setelah itu, aku harus kembali lagi ke Taipei."
"Tidak masalah."
...****************...
Mampir, yuk, ke karya keren salah satu teman author Chika.
__ADS_1